
Dinda sangat terkejut ketika seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang sambil berkata:
"Jangan pergi Dinda! Tetaplah di sini,jangan kemana-mana",ucapnya.
" Mas,Mas Sigit.Apa yang kamu lakukan?",tanya Dinda saat dia tahu yang memeluknya adalah Sigit.
"Aku mohon,biarkan aku memelukmu sebentar", jawab Sigit.
" Tapi kenapa,Mas?"tanya Dinda
"Sebentar saja", pinta Sigit.
Dinda yang awalnya berusaha untuk melepaskan pelukan Sigit,akhirnya diam dan membiarkannya.
" Mas,kenapa mas Sigit bersikap separti ini?"tanya Dinda yang masih membiarkan Sigit memeluknya.
"Karena aku mencintaimu Dinda. Aku tidak ingin kamu pergi"
Jawaban itu hanya tercekat di tenggorokan,Sigit tidak mau Dinda tahu tentang perasaannya.
"Maaf ya Din,karena Mas bersikap sentimentil", ucap Sigit sambil melepaskan pelukannya.
Dinda berbalik dan menghadap ke arah Sigit.
" Tidak apa-apa,Mas" jawab Dinda.
"Aku tahu,Mas Sigit pasti sedih karena aku akan pergi dari sini. Aku juga,Mas", kata Dinda.
Sigit menatap Dinda, dia bahagia mendengar Dinda mengatakan hal itu.
" mungkinkah Dinda juga memiliki perasaan yang sama terhadapku?"pikir Sigit.
Namun senyum di wajah Sigit sirna saat mendengar perkataan Dinda yang berikutnya.
"Aku juga sedih,Mas.Karena aku akan kehilangan sosok kakak sepertimu" tambah Dinda.
"Mbok Inah,Rini dan Mas Sigit adalah keluarga kedua bagiku. Aku menyayangi kalian sama seperti aku menyayangi keluargaku sendiri. Aku sudah menganggap Mbok Inah seperti Ibu kandungku.Demikian Rini dan kamu Mas.Aku menganggap Rini seperti adikku sendiri dan menganggap Mas Sigit seperti kakaku sendiri", tutur Dinda.
" Aku menyayangi kalian ",ucap Dinda.
" Iya,aku juga menyayangimu seperti adikku sendiri ",ucap Sigit dengan tersenyum getir.
" Dinda ",panggil Harry yang baru saja tiba.Dia segera turun dari mobil yang dia sewa.
Harry berjalan mendekati Dinda dan Sigit.
" Maaf ya Sayang, aku telat",ucap Harry
"Tidak kok Mas, kamu tidak telat. Kereta kitakan baru akan berangkat sejam lagi. Masih ada waktulah untuk kita menuju stasiun", jawab Dinda.
Tadinya Harry ingin kembali ke Jakarta dengan jet pribadinya,tapi Dinda menolak.Dinda meminta agar mereka ke Jakarta dengan menaiki kereta.
" Mas,aku dan Mas Harry pamit ya. Jangan lupa dateng di acara nikahan kami nanti",pamit Dinda.
"Iya,aku akan usahakan datang jika ada waktu nanti", jawab Sigit
" Kita pergi ya Mas,sampaikan salamku untuk Rini dan dan Mbok Inah. Assalammu'alaikum, bye mas Sigit",ucap Dinda sebelum menaiki mobil yang Harry bawa.
"Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh", jawab Sigit lirih.
Wajah Sigit kembali bersedih,setelah mobil yang Dinda naiki meninggalkan tempat itu.
^°^°^
(Di dalam mobil)
" Sepertinya Sigit menyukaimu"ucap Harry.
Dinda menatap mata kekasihnya itu.
"Aku sudah di sana tadi saat dia memelukmu", tambah Harry sambil mengalihkan pandangannya.
Dinda menggenggam tangan kekasihnya tersebut.
" Mas,aku juga tahu kalau mas Sigit menyukaiku. Tapi aku tidak ingin memikirkannya,aku tidak mau membencinya hanya karena dia menyukaiku. Makanya tadi aku pura-pura tidak tahu tentang perasaannya, aku tidak mau merasa tidak nyaman dengan mengetahui isi hati dia yang sebenarnya ",jelas Dinda.
" Lagian hatiku tidak mampu untuk memuat nama lain,karena sudah ada kamu di dalamnya",tambah Dinda.
Harry tersenyum mendengarnya, perasaan kesal yang sempat datang melanda karena melihat sang pujaan hati di peluk oleh pria lain pun,sirna seketika.
Dan perlahan dia mengurangi jarak di antara mereka dan menyatukan bibir mereka.
*****
Di kediaman keluarga Wijaya
Bintang tiba di rumahnya pukul 6 sore tadi. Setelah mandi dan berganti pakaian,dia menemui ke dua anaknya di kamar mereka.
"Hallo anak-anak mommy yang pinter. Bagaimana sekolah kalian hari ini?", tanya Bintang sambil duduk di tengah-tengah kedua anaknya.
" Baik,Mom.Tadi Mikha dapat nilai bintang lima dari bu guru",jawab Mikha.
"Kalau kamu,Sayang?" tanya Bintang kepada Tama.
Tama tidak menjawab.
Bintang menatap putranya itu.
" Kenapa Tama? "tanya Bintang lagi.
" Soalnya tugas yang bu guru kasih angkanya kecil dan membosankan.Tidak seperti grafik perusahaan yang pernah daddy tunjukkan padaku,angkanya banyak",jawab Tama jujur.
Jawaban Tama membuat Bintang tercengang.
"Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya", gumam Bintang.
" Tama Sayang. Bukankah angka yang besar di mulai dari angka yang kecil. Jika Tama bisa menyelesaikan angka yang kecil itu dengan baik,maka suatu saat nanti Tama juga akan menyelesaikan angka yang besar itu dengan baik juga.Jadi mulai sekarang Tama harus mwngerjakan tugas yang bu guru berikan dengan baik.Oke",Bintang berusaha memberikan nasehat kepada Tama dengan bahasa yang mudah di pahami.
"Iya,Mommy. Mulai sekarang, Tama akan mengerjakan tugas dari bu guru dengan baik"
"Anak pintar", puji Bintang kemudian memeluk anak laki-lakinya tersebut.
" Mommy, kenapa cuma Tama yang di peluk?",protes Mikha.
"Iya,Mikha juga mommy peluk sini", Bintang memeluk kedua anak kembarnya itu.
" Sekarang kita turun dan makan.Nenek sama grandma sudah menunggu kita di sana.Ayok",ajak Bintang.
Bintang dan kedua anaknya keluar dari kamar mereka.
"Tama,Mikha kalian ke sana duluan ya.Mommy mau panggil daddy kalian dulu", suruh Bintang kepada anaknya.
" Iya,Mommy ",jawab keduanya bersamaan.
Tama dan Mikha turun ke ruang makan, sementara Bintang kembali ke kamarnya.
*****
Rangga masih bertelanjang dada saat Bintang masuk ke dalam kamar. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
" Kamu baru selesei mandi ya,Mas",kata Bintang sambil mengunci pintu kamar mereka.
Bintang menyuruh suaminya itu untuk duduk di tepi ranjang. Kemudian mengambil handuk kecil yang ada di tangan suaminya itu dan membantu mengeringkan rambutnya.
"Aku kira kamu tidak melihatku pulang tadi?" tanya Rangga. Karena memang pada saat dia pulang,istrinya itu sedang berada di kamar anak mereka.
"Mana mungkin aku tidak melihatmu.Bukankah yang ada di mataku hanya ada dirimu", jawab Bintang.
" Ternyata istriku sudah pandai ngegombal rupanya",Rangga menahan tangan Bintang yang sedang mengeringkan rambutnya.Kemudian dia menarik tubuh istrinya itu kedalam pangkuannya.
Satu tangan Rangga melingkar di pinggang Bintang dan satunya lagi mengangkat dagu istrinya itu. Kemudian dia mencium bibir istrinya itu dengan sangat lembut.
"Mas,jangan! Anak-anak dan yang lain sudah menunggu kita di meja makan", kata Bintang saat tangan suaminya itu mulai menyusup kedalam bajunya.
" Sebentar saja",tanpa menunggu jawaban dari Bintang. Rangga sudah mendorong tubuh istrinya ke atas tempat tidur dan menindihnya.
Waktu yang di bilang sebentar oleh Rangga, menjadi satu jam lamanya.
Rangga dan Bintang baru turun ke meja makan pada jam 9 malam.Mereka hanya makan berdua di sana. Karena semua orang sudah kembali ke kegiatan masing-masing.Demikian juga dengan kedua anak mereka.
Saat ini mereka sudah kembali ke kamar mereka.Beruntungnya kedua anak itu tidak menanyakan keberadaan orang tua mereka,saat makan tadi.
*****
(Di rumah sakit)
Setelah mengantar istrinya kembali ke rumah,Alex segera datang ke rumah sakit untuk memeriksa pasiennya.
"Bagaimana kondisi anda sekarang?Apa ada yang Anda keluhlan?", tanya Alex saat berada di ruang VVIP.
" Aku baik,setidaknya dokter wanita itu sudah bertugas dengan baik",jawab pasien VVIP tersebut.
"Apa dia membuat Anda merasa tidak nyaman Pak Yoga?" tanya Alex. Pasien VVIP tersebut bernama Prayoga.
"Tidak", jawab Pak Yoga singkat.
" Keadaan Anda sudah membaik,jika kondisi Anda tetap stabil seperti ini.Lusa Anda sudah boleh meninggalkan rumah sakit ",kata Alex.
" Iya,aku mengerti",jawab Pak Yoga.
"Dokter, kalau boleh saya tahu siapa dokter yang tadi siang memeriksaku?"
"Kenapa Anda menanyakan dia?" tanya Alex dengan menautkan dua alisnya.
"Tidak, dia hanya mengingatkan aku dengan seseorang", jawab Prayoga.
Alex hanya menatapnya sebentar.
" Anda bisa tanyakan sendiri saat dia memeriksa Anda besok",kata Alex sebelum keluar dari ruang VVIP tersebut.
Orang itu merebahkan tubuhnya di bangsal rumah sakit.Dia mencoba memejamkan matanya.
"Anda pembunuh,Anda telah melakukan mal praktek terhadap suami saya.Dasar pembunuh, kembalikan nyawa suamiku,kembalikan"
Teriakan wanita 14 tahun yang lalu itu,membuat Prayoga terbangun.
"Aku tidak bermaksud membunuhnya,aku hanya berusaha menyelamatkannya", gumam Prayoga.
Prayoga adalah seorang dokter ahli bedah.Dia berhenti menjadi dokter karena suatu kejadian yang menimpanya 14 tahun lalu.