
Setelah menghabiskan waktu bersama kekasihnya Harry, Dinda akhirnya kembali ke apartemennya.
Tapi dia begitu terkejut karena mendapati apartemennya sudah terbuka.
"Siapa yang datang ke apartemenku? Jangan-jangan ada maling lagi", gumam Dinda dalam hati.
Dengan langkah hati-hati,Dinda masuk ke apartemennya.
"Sial,kenapa aku lupa mengganti
passward apartemen ini",umpat Dinda dalam hati saat tahu yang datang adalah mantan kekasihnya,Beno.
Dinda berdiri tepat di depan tamu yang tidak di undangnya itu.
" Untuk apa kamu kesini?" tanya Dinda.
Beno yang tadinya masih duduk berselonjor di atas sofa pun segera bangkit dan berjalan mendekati Dinda.
"Kenapa Sayang? Apa mentang-mentang kamu sudah mendapat seorang miliarder,kamu jadi lupa dengan mantan kekasihmu ini?", kata Beno sambil menatap Dinda dari ujung kepala hingga ujung kaki.
" Ternyata kamu semakin cantik ",kata Beno yang mencoba untuk menyentuh dagu wanita di depannya,namun dengan cepat Dinda menepisnya.
" Jangan pernah menyentuhku lagi ",kata Dinda penuh penekanan.
" Aku juga sudah tidak meniginkan tubuhmu lagi",jawab Beno dengan senyum mengejek.
"Apa maumu?" tanya Dinda lagi.
"Uang. Aku ingin kamu memberiku uang.Karena gara-gara dirimu dan istri dari Rangga Wijaya itu aku kehilangan sumber uang ku. Istriku mencereikan aku tanpa memberiku uang sepeserpun.Jadi sebagai konpensasinya kamu yang harus memberiku uang", jawab Beno.
" Aku tidak akan pernah sudi untuk memberimu uang".
"Benarkah?"
Dinda hanya menatap tajam ke arah Beno.
"Bagaimana kalau USB ini sampai di tangan keluarga Wijaya ya? Apa mereka masih mau menerimamu sebagai menantu mereka?", Beno menunjukkan sebuah USB kepada Dinda.
" Kamu tidak lupakan sayang,isi USB ini?" tanya Beno dengan senyum menyeringai.
Dinda ingat kalau mereka dulu pernah merekam video percintaan mereka. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau Beno akan menggunakan itu untuk mengancamnya.Dinda mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali dia membunuh orang yang saat ini ada di depannya.
" Berikan saja,toh calon suami ku sudah tahu tentang masa laluku!", kata Dinda yang berusaha untuk tetap tanang.
"Apa rekan bisnis dari perusahaan milik keluarga Wijaya tahu hal ini?"
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan USB itu?" tanya Dinda.
"Aku akan mengunggahnya di internet agar semua orang tahu siapa menantu keluarga Wijaya sebenarnya", kata Beno penuh ancaman.
" Unggah saja,setidaknya kita berdua akan sama-sama hancur",seru Dinda.
"Jadi kamu akan membiarkan reputasi keluarga Wijaya hancur karenamu?"tanya Beno yang memang sudah merasa di atas angin.
" Berapa yang kamu inginkan?"tanya Dinda yang akhirnya pasrah.
"10 m dan tidak boleh kurang", jawab Beno.
" Kamu gila!?! Bagaimana aku mendapat kan uang sebanyak itu?".
"Calon suamimukan orang kaya,dia pasti akan memberimu uang sebanyak apapun yang kamu mau,apalagi selain dia anak dari keluarga Wijaya, calon suamimu juga pemilik perusahaan MJ GRUP.Ingat waktumu hanya satu minggu dari sekarang aku akan kembali kesini setelah satu minggu", kata Beno setelah itu dia meninggalkan apartemen milik Dinda.
Buru-buru Dinda melihat buku tabungan miliknya." Tabunganku saja tidak mecapai 100 juta,bagaimana aku mendapatkan uang 10 m itu",gumam Dinda.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau membuat masalah untuk Mas Harry, apalagi sampai mempermalukan keluarga Wijaya", gumam Dinda lagi.
Disaat Dinda sedang bingung,terdengar nada dering dari ponselnya.
" Iya,Mas",jawab Dinda karena yang menelponnya adalah Harry.
"Nanti siang Kak Nia dan Bintang mau mengajakmu ke tempat designer, apa kamu ada waktu?" tanya Harry dari ujung sana.
"Tentu saja ada", jawab Dinda.
" Sekitar jam setengah dua,aku akan menyuruh sopir untuk menjemputmu"
"Iya", jawab Dinda singkat.
" Sayang, kamu kenapa? "tanya Harry lagi.
" Tidak Kenapa-napa",jawab Dinda
Harry memindahkan panggilannya ke video call.
"Dinda, jika kamu punya masalah ceritakan padaku. Aku pasti akan membantumu menyeleseikannya", seru Harry
" Aku tidak punya masalah apa-apa kok Sayang.Kamu jangan khawatir ",jawab Dinda dengan senyum lebarnya.
" Bener kamu tidak ada masalah apapun?"tanya Harry sekali lagi.
"Iya Sayang, aku tidak punya masalah apa-apa.Sungguh", jawab Dinda lagi
" Aku kira kamu punya masalah dan sedang menyembunyikannya dariku. Ingat jika ada sesuatu atau kamu membutuhkan bantuan apapun hubungi aku,jangan di simpan sendiri ",titahnya
" Iya Sayang, jangan khawatir "jawab Dinda yang kembali dengan senyum lebarnya.
" Ya sudah,aku tutup telponya. Ingat nanti jam setengah dua sopirku akan menjemputmu",kata Harry lagi.
"I Love you, Sayang", ucap Harry.
" Love you too ",balas Dinda.
Sambungan telpon itupun berakhir.Dinda menghela napasnya lega,setidaknya untuk hari ini dia bisa menyembunyikan masalahnya kepada kekasihnya itu.
*****
Seperti yang telah di janjikan,jam setengah dua sopir dari keluarga Wijaya datang ke apartemen Dinda untuk menjemputnya.
Sopir tersebut membawa Dinda ketempat designer langganan keluarga Wijaya.Dan disana sudah menunggu Rania dan juga Bintang.
"Din,sini", panggil Bintang seraya melambaikan tangannya.
Dinda segera bergabung ke tempat dimana calon iparnya itu berada.
" Hallo Kak Nia,hai Bi"sapa Dinda.
"Tante, tidak menyapa Mikha?" protes Mikha saat Dinda tidak menyapanya
"Hai cantik, apa kabar? Maaf ya Tante tidak melihatmu tadi", sapa Dinda
" Mikha baik Tante",jawab Mikha
"Mana saudaramu?" tanya Dinda saat tidak melihat ada Tama di sana.
"Tama tidak mau ikut Tante, katanya ini itu urusan cewek.Makanya dia lebih memilih main game di rumah", jawab Mikha.
" Ayo Din,masuk. Pasti mbak Meta sudah menunggu kita di dalem",ajak Rania.
Meta adalah nama designer langganan keluarga Wijaya.
"Selamat datang Nyonya Wijaya,Mbak Meta sudah menunggu kalian dari tadi", kata asisten Meta,Ira.
" Mari saya antar ke tempatnya ",Ira mengantar mereka untuk menemui Meta.
Ira membawa mereka ke ruangan yang terdapat banyak gaun rancangan Meta.
" Mbak Meta,ini tamu Anda sudah datang",kata Ira memberitahu.
"Iya Ira,terimakasih ya" ucap Meta
"Hai Nia,apa kabar?" sapa Meta pada Rania dan langsung memberikan pelukan dan ciuman di pipi kiri dan kanannya.
"Tentu aku baik", jawab Rania.
" Apa mereka berdua ini adik-adik iparmu,Ni?"tanya Meta.
"Iya,kenalkan ini Bintang istri dari Rangga dan ini Dinda calon istri dari adikku Harry", Rania memperkenalkan dua iparnya itu kepada Meta.
" Wah pantas saja Rangga menolakku ternyata istrinya sangat cantik",puji Meta seraya bercanda.
"Jangan anggap serius perkataan Meta,dia orangnya sejak dulu memang begitu selalu menganggap Rangga sebagai kekasih khayalannya", kata Rania.
" Eh,ini anaknya Rangga ya Ni?"tanya Meta saat melihat ada seorang gadis kecil yang ikut serta.
"Hallo Tante,namuku Mikha".
" Wah kamu cantik sekali sayang",puji Meta sambil mencubit pipi Mikha karena gemas.
"Sudah jangan banyak bicara tunjukkan koleksi kebayamu.Soalnya iparku ini ingin memakai baju adat Jogja untuk pernikahannya nanti", seru Dinda.
" Ayo masuk di dalam ada banyak macam-macam kebaya. Kalian bisa pilih ingin model yang seperti apa",ajak Meta.
Mereka pun melihat-lihat kebaya rancangan Meta.Namun selama mereka melihat-lihat Dinda lebih banyak diam,bahkan terlihat lebih sering melamun.
"Din,kamu kenapa?" tanya Bintang
"Apa aku cerita ya sama Bintang soal Beno", gumam Dinda.
" Dinda",panggil Bintang.
"Tidak apa-apa kok Bi", jawab Dinda.
" Aku sudah sering menyusahkan Bintang, aku harus bisa menyelesaikan sendiri masalahku",batin Dinda.
"Bagaimana apa ada yang kamu suka?" tanya Rania pada Dinda.
"Kak pernikahanku dengan Harrykan masih lama,apa aku boleh untuk tidak memilih kebaya hari ini", jawab Dinda.
" Apa kebaya rancanganku kurang bagus?"tanya Meta
"Bukan Mbak,bukan itu...hanya saja ini masih terlalu dini untuk memilih gaun pengantin. Jika tiba-tiba pernikahan itu tidak terjadikan sayang", jawab Dinda.
Bintang dan Rania menatap Dinda penuh tanya.
" Mak..maksudku aku akan memilih saat pernikahanku sudah dekat",Dinda meralat perkataannya.
"Kak,Bintang aku ada urusan aku pamit ya", ucap Dinda kemudian dia buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.
" Maaf ya Meta,lain kali kami akan ke sini lagi"ucap Rania.
"Aku yakin,Dinda menyembunyikan sesuatu. Aku harus menyelidikinya", gumam Bintang.
Mereka pun keluar dari butik milik Meta.
" Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Dinda hari ini ya,perasaan tadi pagi dia masih baik-baik saja",kata Rania.
"Jadi Kak Nia juga merasakannya?" tanya Bintang.
Rania mengangguk.
"Aku akan cari tahu apa yang membuat Dinda seperti itu, lebih baik sekarang kita pulang yuk Kak", ajak Bintang.
" ayo"
Rania dan Bintang pun,segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.