Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 87


Bima memesan beberapa menu makanan untuk mereka berdua.


Tidak lama seorang waiters datang membawa semua menu yang Bima pesan tadi.


"Silahkan di makan,Bi! Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan di warung baksonya Pak Samad tapi sayangnya kalau harus kesana terlalu jauh.


Lain kali aku akan ajak kamu ke sana"


"Dari mana Kak Bima tahu kalau aku suka makan bakso di warungnya Pak Samad?" tanya Bintang


"Dari dulu kamu memang tidak pernah peka sama perasaan orang ya?"


"Maksud Kakak?"


"Lupakan saja.Ayo di makan!"


Bintang hanya memakan sedikit makanan yang ada di depannya karena memang dia tidak lapar.


Bagaimana mau lapar karena baru satu jam yang lalu dia sarapan.


"Kenapa cuma makan sedikit?" tanya Bima.


"Aku sudah kenyang Kak"


"Bagaimana kabar dua temanmu itu? Dewi dan Ana? tumben kalian tidak barengan? sejak SMP kalian kan selalu bertiga mulu?"


"Mereka sudah lulus kuliah,Kak.Dewi sudah nikah dan punya anak.Malahan sekarang dia lagi ngandung anak keduanya.Kalau Ana sebulan lagi dia mau nikah sama dokter sekaligus anak dari pemilik rumah sakit terbesar di kota ini" jawab Bintang panjang kali lebar.


"Lalu kamu?Apa kamu sudah menikah atau sudah punya pacar?" tanya Bima lagi.


Bintang terdiam cukup lama.


"Entahlah.Karena aku tidak ingat apapun"


Bima berhenti mengunyah dan menatap Bintang.


"Kata ibu aku kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatanku.Jadi aku tidak bertanya apapun, meskipun Sebenarnya aku ingin tahu dan setiap aku mencoba mengingat sesuatu kepalaku akan terasa sangat sakit."


Bintang menghela napasnya, dia memikirkan bayangan yang tadi pagi tiba-tiba muncul.


Bintang memegang kepalanya yang tiba-tiba kembali terasa sakit.


"Kamu tidak apa-apakan Bi?",Bima mencemaskan Bintang saat wajah Bintang terlihat pucat.


" Aku baik-baik saja, kapalaku akan terasa sangat sakit jika aku mencoba mengingat sesuatu",jawab Bintang.


"Kalau begitu jangan mencoba mengingat apapun. Kamu cukup jalani semuanya dengan baik.aku yakin suatu saat nanti kamu akan kembali mengingat semuanya."


Bima mengatakan itu sambil menggenggam tangan Bintang. Dari kejauhan ada yang mengawasi semua gerak-gerik mereka.


DIA merasa tidak suka melihat Bima menggenggam tangan Bintang. Dia mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya.


DIA adalah Rangga, tadi setelah Bintang turun dari mobil Rangga diam-diam mengikutinya.Rangga mencemaskan keadaan Bintang karena wajahnya masih tampak sedikit pucat.


Bahkan saat Bintang bertabrakan dengan seseorang hampir saja dia keluar dari persembunyiannya untuk menolong Bintang.Tapi Rangga mengurungkan niatnya saat tahu Bintang dan orang yang bertabrakan dengannya saling mengenal.


Bahkan hati Rangga sudah di liputi perasaan emosi karena cemburu saat Bintang berbohong tidak ada kuliah hanya demi bisa pergi dengan Bima.


Bintang melepaskan genggaman tangan Bima. "Terimakasih ya Kak sudah mencemaskan ku" ucap Bintang.


"Maaf Kak,aku harus kembali ke kampus Sebenarnya aku ada kuliah pagi",pamit Bintang.


"Bi,bolehkah aku minta nomor ponselmu?" tanya Bima.


Dengan senang hati Bintang memberikan nomor ponselnya kepada Bima.


"Aku akan menghubungimu lain kali.Soalnya hari ini aku sedikit sibuk, setelah seminar aku harus menenui client baruku".


" Aku tunggu ",jawab Bintang yang tampak bahagia.


Bintang meninggalkan Bima di restoran seorang diri. Dia buru-buru lari menuju kampus karena memang dia sudah terlambat 15 menit gara-gara lebih memilih menemani Bima sarapan tadi.


Melihat Bintang sudah kembali ke kampus, Rangga juga memutuskan untuk kembali ke kantornya.


***


Rangga tiba di kantornya sekitar 15 menit kemudian.


Dia langsung menuju ke ruangannya.


" siapa laki-laki itu? Sepertinya Bintang menyukainya?",batin Rangga.


tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" suruh Rangga.


Muncul lah seseorang dari balik pintu, dia adalah Nando.


"ini berkas untuk meeting kita nanti siang.Kamu bisa mempelajarinya terlebih dulu kalau ada yang harus aku perbaiki kamu hubungi saja aku", Nando meletakkan berkas tersebut di atas meja.


" Nando tunggu!" panggil Rangga.


Dia berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiri Nando.


"Nando, aku minta maaf. Gara-gara aku hubunganmu dengan Dewi sedikit bermasalah.Tolong maafkan aku" ucap Rangga.


"Hubunganku dan Dewi memang sempat bermasalah,tapi sekarang kami sudah baik-baik saja. Seharusnya aku yang minta maaf karena aku hampir saja memukulmu".


" It's ok.Jadi kamu sudah tidak marah lagikan?"


"Kalau di pikir-pikir sebenarnya aku juga salah sih.Coba kalau aku tidak memberi tahumu Lyvia sakit dan ingin bertemu denganmu, ini semua pasti tidak akan terjadi. Aku minta maaf ya"


"Sudahlah, lupakan saja", jawab Rangga sambil merangkul bahu temannya itu.


Kemudian Rangga kembali mendudukkan dirinya.


" Kenapa? "tanya Nando yang melihat wajah temannya sedikit di tekuk.


" Sepertinya Bintang menemukan orang yang di cintainya dulu",jawab Rangga kurang bersemangat.


"Maksudmu si Bima?"


Rangga mengangguk.


"Seperti apa orangnya?kapan kamu bertemu dengannya?" tanya Nando ingin tahu.


"Hei,Kenapa kamu lebih penasaran sama dia?Di banding dengan masalahku?" gerutu Rangga.


"Sebenarnya kamu itu temannya si Bima atau aku sih?",tambah Rangga dengan wajah yang semakin di tekuk.


"Sorry,sorry.Aku kira seorang RANGGA WIJAYA tidak akan pernah merasa takut bersaingan dengan orang lain,ternyata..."


"Hei,aku tidak bilang kalau aku takut bersaing.Hanya saja kamu tahukan Bintang sama sekali tidak ingat padaku,malahan yang dia ingat itu si Bima.


Bagaimana aku bisa membuat dia jatuh cinta padaku,kalau yang dia ingat hanya perasaan cintanya pada si Bima itu".


Rangga merasa sedikit frustasi dengan kenyataan itu.


" Makanya Ngga,kamu harus usaha dong buat Bintang jatuh cinta sama kamu.Dulu Bintang juga mati-matian buat dapetin hati kamu.Masa kamu nggak mau usaha buat dapetin hatinya lagi".


"Kamu memang benar. Mulai sekarang aku harus berusaha untuk membuat Bintang jatuh cinta padaku. Harus" ucap Rangga dengan penuh semangat.


Nando menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya itu.


***


Rangga pulang ke rumahnya cukup larut.Dia benar-benar kesal karena clientnya membatalkan janji bertemu secara sepihak.


Dia masuk ke rumah dengan perasaan dongkolnya.


Rangga lebih memilih masuk ke kamar anak-anaknya untuk meredam kekesalannya.Karena dengan melihat wajah kedua anaknya, bisa memberikan ketenangan di hatinya.


Rangga langsung merebahkan dirinya di tempat tidur kedua anaknya. Namun dia langsung terbangun saat dia dorong dari tempat tidur hingga terjatuh.


"Hei apa..." Rangga tidak melanjutkan perkataannya saat melihat seorang wanita menatapnya .


Rangga yang tadinya ingin marah langsung mati kutu karena tatapan wanita itu.


"Kenapa kamu memelukku?" tanya Bintang, ya wanita yang sedang menatapnya dan tidur di ranjang anaknya adalah Bintang.


"Maaf aku kira tadi anak-anakku,jadi aku langsung memelulmu" ucap Rangga.


"Memangnya Pak Rangga tidak bisa merasakan perbedaan tubuh anak kecil dan tubuh orang dewasa?".


Rangga berfikir sejenak, tadi saat dia memeluk anaknya dia memang merasakan tangannya menyentuh gundukan kenyal.


" Maaf aku tidak sengaja.Lagian kamarnya kan gelap,selain itu kenapa kamu tidur di sini,inikan kamar anakku?"


Rangga berusaha membela diri.


"Tadi Mikha dan Tama memintaku menemani mereka tidur.Jadi aku tidur di sini" jawab Bintang.


"Lalu di mana anak-anakku?kenapa kamu tidur di sini sendirian?".


Bintang menatap sekelilingnya mencari keberadaan Mikha dan Tama,dan memang benar tidak ada siapapun kecuali dirinya.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Rangga untuk menjahili istrinya itu.


" Apa kamu sengaja tidur di sini karena tahu aku akan kemari melihat anak-anakku?",Rangga melangkahkan kakinya maju mendekati Bintang.


Sementara Bintang, dia melangkah mundur menjauhi Rangga.


"ti...tidak,untuk apa aku melakukan itu" jawab Bintang gugup.


Bintang tidak bisa kemana-mana saat Rangga mengunci tubuhnya.


Jantung Bintang seperti mau melompat saat hembusan nafas Rangga mengenai wajahnya. Mata mereka saling bertemu.


"Ap..apa yang mau kamu lakukan?", tanya Bintang semakin gugup.