Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 185


"Mas,awas!" teriak Bintang tiba-tiba.


' Ciiiiiitttttt '


Bintang bernapas lega saat mobil itu berhenti tepat sebelum garis zabra cross.


"Hampir saja Mas ngelanggar lampu merah," kata Bintang.


"Maaf, Sayang. Aku kurang fokus barusan", ucap Rangga sembari tersenyum.


" Dasar kamu ini. Ingat, Mas. Kamu itu harus memberi contoh yang baik untuk anak-anak kita," tukas Bintang.


"Iya-iya Sayang, maafkan suamimu yang ceroboh ini" ucap Rangga.


Bintang hanya menggelengkan kepalanya.


"Mommy, benarkah kita akan pergi jalan-jalan setelah daddy pulang dari Jepang?" tanya Mikha.


"Iya,kita akan melihat desa tempat mommy di lahirkan. Sudah berapa tahun ya mommy tidak pernah pulang ke desa," kata Bintang seraya mengingat-ingat keadaan desanya sebelum dia pergi.


"Memangnya desa tempat tinggal Mommy dulu seperti apa?" tanya Tama.


"Di desa Mommy, udaranya masih asri. Pemandangannya juga sangat indah,mommy yakin kalian pasti akan betah di sana," ujar Bintang kepada kedua anaknya.


"Wah,Mikha jadi tidak sabar ingin secepatnya pergi ke sana," tukas Mikha.


"Tama juga,Mom," imbuh Tama.


"Iya, kita semua akan ke sana setelah tugas Daddy selesai," sambung Rangga.


"Yey yey yey," kedua anak itu bersorak gembira.


Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di kediaman keluarga Wijaya.


Rangga terlebih dulu turun dari dalam mobil,setelah membukakan pintu untuk istrinya. Dia kemudian membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya. Tama dan Mikha segera berlari menuju ke dalam rumah. Di ikuti oleh Rangga dan Bintang di belakang mereka.


"Hati-hati, Sayang," seru Bintang kepada kedua anaknya.


Mereka berempat sudah masuk ke dalam rumah.


"Grandma, nenek" panggil keduanya ketika melihat grandma dan neneknya sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Hei,cucu-cucu grandma. Dari mana saja kalian,hemm?" tanya Mia kepada ke dua cucu kembarnya.


Mikha dan Tama menyalami ke dua nenek mereka. Demikian juga Rangga dan Bintang, keduanya juga menyalami ibu mereka.


"Sayang, aku ke kamar ya. Ma,ibu.Rangga ke kamar dulu" pamit Rangga.


"Iya,Nak" jawab Mia.


"Kami dari rumah dedek Arya,grandma" jawab Mikha sembari duduk di pangkuan neneknya tersebut.


"Lalu bagaimana kabar dedek Aryanaya?" tanya Ratih.


"Dedek Arya lucu,Nek. Tadi Tama kena pipis dedek Arya," cerita Mikha kepada kedua neneknya.


"Apa itu benar,Sayang? Bagaimana ceritanya?" tanya Ratih kepada cucu perempuannya.


Mikha mulai menceritakan kejadian yang terjadi tadi kepada kedua neneknya. Kedua nenek mereka pun tertawa mendengar penuturan cucu perempuan mereka.


"Bagaimana Tama,apa kamu masih menginginkan adik lagi?" goda Mia.


"Tama tetap menginginkan adik,grandma, Nenek. Tama mau adik yang lucu dan tidak menyebalkan seperti Mikha," jawab Tama sambil melihat ke arah saudara kembarnya.


"Bukan aku yang menyebalkan,tapi Tama" tukas Mikha kepada kembarnya tersebut.


"Mikha"


"Tama"


"Mikha"


"Tama"


Dan lagi-lagi seperti biasanya, kedua anak kembar itu akan berdebat untuk sesuatu yang tidak penting.


Bintang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang sedang berdebat.


"Tama,Mikha... mandi dulu ya Sayang. Ini sudah sore,kalian masih bisa melanjutkan cerita kalian nanti," seru Bintang.


"Baik,Mommy" jawab keduanya.


" Ayo, biar nenek temani kalian," ujar Ratih. Dia membawa kedua cucunya masuk ke kamar mereka untuk mandi.


" Bintang juga ke kamar ya Ma,ibu," pamit Bintang.


*****


( Di rumah Sigit )


Saat itu Ester sedang berdiri di depan rumah Sigit sambil menatap langit. Dia masih memikirkan perbuatan papanya.


"Tidak baik seorang gadis berdiri sendirian di luar malam-malam," kata Sigit yang baru saja ke luar dari dalam rumah.


"Eh,kamu Git. Aku hanya sedang menatap langit" jawab Ester.


Sigit memberikan sebotol minuman ringan kepada Ester.


"Terimakasih," ucap Ester sembari membuka botol di tangannya, kemudian dia nenenggak minuman itu hingga tidak tersisa.


"Aku baru sadar kalau ternyata langit itu indah. Dulu aku sama sekali tidak menyadari itu," ucap Ester seraya menatap ke arah langit dan tersenyum.


"Tentu saja indah,seharusnya dari dalu kamu menyadarinya" kata Sigit yang ikut berdiri di samping Ester.


"Bagaimana, apa perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Sigit tanpa menoleh ke arah Ester.


Ester menatap Sigit sejenak kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah langit.


"Baik,perasaanku sudah lebih baik dari sebelumnya.Terimakasih ya Sigit,itu semua berkat kamu. Kamu selalu ada di sisiku selama beberapa bulan ini. Bahkan di saat-saat aku terpuruk,kamulah orang yang pertama yang selalu ada di sampingku," tutur Ester.


Kini giliran Sigit yang menatap wajah Ester dari samping. Sigit langsung memejamkan matanya,saat merasa ada yang aneh di hatinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang,seolah hendak melompat ke luar dari tempatnya.


"Apa yang terjadi padaku? Apa aku mulai menyukainya?" batin Sigit.


"Yuk,masuk! Di sini terlalu dingin!" ajak Ester. Dia berjalan masuk mendahului Sigit.


"Iya," jawab Sigit yang berjalan di belakang Ester. Ester masuk ke kamar Rini,sementara Sigit,dia kembali ke kamarnya sendiri.


*****


Malam itu,Bintang kembali membantu Rangga untuk mengepak baju yang akan di bawa suaminya itu ke Jepang.


"Mas,ingat ya. Ketika sampai di sana kamu harus langsung menelponku," kata Bintang.


"Iya,Sayang", jawab Rangga.


" Jangan lupa kamu juga harus memberiku kabar tiap 3 jam sekali. Pokoknya aku akan marah jika Mas tidak melakukan itu" ancam Bintang kepada suaminya.


"Iya", jawab Rangga yang masih duduk di sandaran tempat tidur sambil fokus melihat ke layar laptop di depannya. Rangga sedang memeriksa kembali beberapa laporan yang Nando kirimkan lewat email barusan.


" Padahal besok mau pergi ke Jepang dan akan lama bertemu denganku. Tapi kenapa biasa saja" batin Bintang.


Bintang begitu kesal melihat sikap suaminya yang seakan tidak perduli dengan dirinya.


"Mas..." panggil Bintang.


"Hem.." jawab Rangga yang tetap fokus dengan layar laptop di depannya.


"Tamu bulananku sudah pergi lho," kata Bintang.


"Lalu?"


"Ya...tidak apa-apa,aku hanya ingin bilang itu saja" jawab Bintang.


"Tidurlah! Pekerjaanku belum selesai jadi tidurlah dulu," seru Rangga kepada istrinya itu.


"Dasar aneh,awas saja kalau nanti minta jatah," gumam Bintang lirih.


"Aku mau ambil minum di dapur,Mas mau aku ambilkan apa?" tawar Bintang kepada suaminya.


"Ambilkan aku air putih saja," jawab Rangga yang lagi-lagi tanpa menoleh ke arah Bintang.


"Ckckck", Bintang mendengus kesal dengan sikap suaminya itu.


Dia ke luar dari kamar untuk minum dan tidak lupa dia juga membawakan segelas air putih untuk suaminya.


Dengan perasaan kesal Bintang kembali ke kamarnya lagi. Namun baru saja dia masuk tiba-tiba..


" Aaaaaa"


# *Tetap like,komen dan vote sebanyak banyaknya.


Jangan lupa baca juga*:



Terimakasih❤❤❤