Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 159


Bintang segera bersembunyi saat laki-laki yang berbicara dengan kepala seksi itu keluar.


" Siapa dia?",gumam Bintang seraya memperhatikan punggung laki-laki itu yang semakin menjauh.


"Dokter Bintang, kenapa Anda di sini?", tanya Pak Dodi yang menjabat sebagai kepala seksi humas di rumah sakit tersebut.


Pak Dodi mengikuti arah pandangan Bintang, dia bernapas lega saat tidak ada siapapun di sana.


" Tidak apa-apa kok Pak,barusan aku hanya kebetulan lewat",jawab Bintang.


"Permisi ya,Pak" ucap Bintang seraya berlalu dari hadapan Pak Dodi.


"Apa tadi dia melihat Pak presdir ya...", gumam Pak Dodi.Namun sedetik kemudian dia menyanggah perkataannya barusan.


" Jika dia melihat Pak presdir pasti, dia sudah marah.Tapi sepertinya sikapnya tadi biasa-biasa saja",sanggahnya dalam hati.


Pak Dodi segera kembali ke ruangannya.


^°^°^°^


Bintang meletakkan tas bawaanya di atas meja.Pikirannya masih tertuju pada sosok yang keluar dari ruangan kepala seksi humas tadi.


"Siapa dia? Apa dia terlibat dengan kejadian ayahku?", batin Bintang.


Bintang memakai jas putih kebesarannya dan mulai memfokuskan kembali dengan pekerjaannya. Dengan stetoscop yang menggantung di lehernya,Bintang memulai aktifitas rutinnya.Bintang berkeliling mengunjungi para pasiennya satu per satu.


Sapaan hangat dan senyum yang selalu di berikan kepada setiap pasien, membuat Bintang di sukai oleh hampir setiap orang yang dia rawat.


*****


( Di perusahaan Wijaya Grup )


Setelah mendapat instruksi dari Rangga tadi pagi,Nando segera mencarikan hecker terbaik sesui keinginan bosnya itu. Dan siang itu dia sudah mendapatkan sedikit informasi dari heckernya itu.


Nando segera menghadap bos yang sekaligus sahabatnya itu. Dia segera menyampaikan laporan yang di dapatkan oleh hecker yang dia sewanya.


" Jadi data itu baru saja di hapus kemarin?" tanya Rangga sambil melihat detail laporan yang sahabatnya itu berikan.


"Begitulah", jawab Nando. Dia duduk di bangku kosong yang berada di depan bosnya itu.


" Hei hei siapa yang menyuruhmu duduk?", tanya Rangga bercanda.


"Tidak ada,Aku sendiri yang ingin duduk. Kenapa memangnya? Kamu tidak akan mendapatkan asisten yang hebat separti diriku ini", jawab Nando sedikit narsis.


" Heissssh,dasar kamu ini. Tapi memang betul sih. Hahahahaha",jawab Rangga sembari tertawa.


"Apa dia sudah tahu siapa yang menghapusnya?" tanya Rangga yang kembali dengan wajah seriusnya.


"Semua orang yang mengetahui passward itu pasti bisa mengahapusnya. Jadi aku sudah menyuruhnya mengembalikan kembali data yang sudah di hapus itu. Aku yakin siapa pun yang menghapus data itu pasti ada hubungannya dengan kejadian 14 tahun yang lalu", jelas Nando.


" Berapa hari waktu yang kamu berikan?" tanya Rangga.


"Aku memberinya waktu 3 hari", jawab Nando.


" Baguslah",kata Rangga sambil menutup laporan tersebut dan memasukkan kedalam laci mejanya.


"Bagaimana proyek kita dengan Pak Hito?" tanya Rangga lagi.


"Semua berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan sebelumnya. Karena ternyata Sigit termasuk orang yang terampil" jawab Nando.


"Baguslah, jadi kalian bisa melanjutkan kerjasama kalian dengan baik".


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Rangga dan Nando menoleh kearah pintu.


" Masuklah,Sigit",seru Rangga.


Sigit berjalan mendekati meja bosnya itu dan menyerahkan beberapa berkas kepadanya.


"Itu semua laporan tentang kontrak kerjasama kita dengan perusahaan milik Pak Hito", kata Sigit kemudian.


" Aku sudah mendengar dari Nando kalau kamu adalah orang yang terampil" puji Rangga.


"Terimakasih, Pak atas pujiannya", ucap Sigit.


Setelah membaca laporan yang Sigit berikan dan menandatanganinya,Rangga memberikan laporan itu kembali kepada Sigit.


" Ehm ...Apa Bapak benar-benar tidak mengingatku?" tanya Sigit kepada Rangga. Rangga dan Nando saling tatap,mereka tidak tahu apa yang di maksud oleh Sigit.


"Maksudmu?" tanya Rangga lagi.


"Bukankah kita pernah bertemu waktu di Jogja? Dan di sana Bapak memperkenalkan diri Bapak sebagai Harry", jawab Sigit.


Akhirnya Rangga paham apa yang membuat Sigit selalu menatapnya aneh. Ternyata dia mengira kalau dirinya adalah Harry, saudara kembarnya.


" Hahahahhahaha",Rangga dan Nando tertawa mendengarnya. "Memangnya ada yang lucu dengan pertanyaan saya ya, Pak? ,tanya Sigit bingung.


" Pasti orang yang kamu maksud adalah saudara kembar saya,Harry. Iyakan? ", jawab Rangga.


" Jadi Bapak punya kembaran? Maaf ya Pak Rangga, saya tidak tahu. Saya kira Bapak pura-pura lupa kepada saya",jawab Sigit jujur.


"Tidak apa-apa kok Git. Ohya,kamu pernah ketemu Harry di mana?"


"Di Jogja,Pak Rangga. Waktu dia menyusul Dinda", jawab Sigit dengan nada yang agak melemah.


Dari perubahan raut wajah Sigit, Rangga tahu kalau Sigit pasti menyukai Dinda.


" Melupakan perasaan itu susah,tapi yakinlah kamu pasti akan menemukan jodohmu sendiri ", kata Rangga pada Sigit.


" Maaf ya Pak...aku tidak mempunyai maksud untuk bersaing dengan saudara anda" ucap Sigit.


"Aku tahu. Itu urusan pribadimu dan aku tidak akan ikut campur" kata Rangga.


" Tapi ada hal yang harus kamu tahu,Dinda dan Harry akan menikah sebentar lagi. Jadi saranku,carilah wanita lain" Kata Rangga lagi.


Sigit yang sudah memegang handle pintu untuk sesaat terdiam.


"Aku tahu,Pak ", jawab Sigit, kemudian dia memutar handle pintu dan keluar dari ruang bosnya.


^°^°^°^


"Nando,apa jadwalku sore ini?", tanya Rangga setelah Sigit keluar dari ruangannya.


" Tidak ada,sore ini kamu kosong", jawab Nando.


"Tapi jika kamu mau,kamu bisa ikut aku dan Sigit meeting dengan Nona Ester sore ini", imbuh Nando beberapa detik kemudian.


" Tidak,aku sudah menyerahkan pekerjaan itu pada kalian.Lagian sore ini aku ada urusan ",jawab Rangga.


" Urusan apa memangnya?",tanya Nando penasaran.


"Aku ingin menyelidiki Kak Nia", jawab Rangga.


Nando mengernyitkan dahinya,bingung.


" Maksudmu?" tanya Nando lagi.


"Akhir-akhir ini sikap kak Nia aneh. Dia terlihat seperti abg yang baru saja jatuh cinta. Makanya aku ingin tahu siapa pria yang bisa membuat kak Nia jadi seperti itu", jelas Rangga.


" Harusnya kamu bahagia dong, karena akhirnya Kak Nia bisa merasakan kebahagiaan lagi", tukas Nando.


"Aku akan bahagia, jika aku sudah memastikan kalau orang itu benar-benar tidak akan menyakiti Kak Nia", kata Rangga pasti.


" Terserah kamu deh",kata Rangga seraya berjalan meninggalkan ruangan temannya itu.


*****


Sore harinya....


Diam-diam,Rangga sudah menyuruh orang untuk mengikuti kakaknya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rangga buru-buru ke alamat yang di berikan oleh orang suruhannya.


Rangga berhenti tepat di sebuah restoran,sesuai dengan petunjuk yang di berikan oleh orang suruhannya.


Dengan memakai hoody dan kaca mata hitamnya,Rangga memasuki restoran tersebut. Dia mulai memperhatikan sekeliling restoran itu dan mencari keberadaan kakaknya.


Dari kejauhan Rangga melihat kakanya sedang bercengkerama dengan anak kecil dan seorang laki-laki yang duduk membelakanginya.


"Siapa laki-laki itu?" batin Rangga.


Dengan hati-hati,Rangga semakin mendekati tempat duduk kakaknya tersebut.Dia berjalan semakin dekat dan semakin dekat, Namun tiba-tiba yang bertabrakan dengan seseorang.....