Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 78


Rangga dan keluarganya bermain di sekitar pantai.Rangga membantu kedua anaknya membuat istana pasir.Sementara Bintang dia duduk sambil melihat hamparan laut yang luas di depannya.


"Terimakasih Tuhan,karena Engkau memberikan aku keluarga yang sangat sempurna.Suami yang baik,menyayangi keluarga dan juga tampan.


Serta anak-anak yang sungguh menggemaskan"


Tidak henti-hentinya Bintang bersyukur atas anugrah yang di berikan Yang Maha Kuasa kepadanya.


"Sedang apa Sayang?" tanya Rangga seraya duduk di samping istri tercintanya.


"Terimakasih ya Mas,karena kamu hadir di kehidupanku" ucap Bintang sambil menatap suaminya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu"


"kenapa?"


"Ya...jika dulu kamu tidak menerima perjodohan konyol mama,mungkin hidupku tidak akan sesempurna ini"


Rangga mengingat kembali bagaimana pertama kali dia bertemu Bintang. Dan bagaimana sikapnya dulu yang kasar pada istrinya itu.


"Terimakasih karena kamu tidak menyerah meskipun aku sudah bersikap kasar padamu dulu.Terimakasih karena kamu sudah memberikan aku anak-anak yang lucu" ucap Rangga sambil menggenggam tangan istrinya dan kemudian mencium punggung tangan istrinya tersebut.


Bintang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas,Kalau boleh aku tahu sejak kapan mas mulai jatuh cinta padaku?Karena dulukan di hatimu hanya ada Lyvia?" tanya Bintang dengan sedikit cemberut.


"Entahlah,aku juga tidak tahu.Sudah tidak usah bahas itu lagi"


"Mommy,Daddy ayo kita main air!" ajak Mikha sambil menarik tangan mommynya.


"Ayo Daddy!" kini giliran Tama yang menarik tangan Rangga.


Mereka pun bermain air di pantai bersama-sama.Mereka berempat tertawa lepas,melupakan kejadian menegangkan beberapa jam yang lalu.


*Malam harinya...


Rangga hanya memesan satu kamar di hotel dengan dua tempat tidur atas permintaan Bintang. Karena Bintang tidak ingin kedua anaknya lepas dari pengawasannya.


"Kamu belum ngantuk,Mas?" tanya Bintang yang menghampiri suaminya yang sedang duduk di dekat jendela kamar sambil menikmati secangkir kopi.


"Anak-anak sudah tidur?", Rangga balik bertanya.


" Sudah,mungkin mereka kecapek'an karena bermain terlalu lama di pantai tadi."jawab Bintang.


Rangga bangkit dari posisi duduknya dan memeluk Bintang dari belakang.Dia membenamkan wajahnya di curuk leher sang istri.


"Mas.. ada anak-anak"


"Mereka kan tidur"


Rangga mengelus paha putih istrinya itu naik turun.Karena Bintang memang mengenakan piyama yang panjangnya di atas lutut.


"Mas,Kalau mereka bangun bagaimana?"


"Mereka tidak akan terbangun jika kamu tidak berisik"


Rangga membalik tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.Dia mulai mencium bibir istrinya itu. Tangannya menarik tali piyama yang di kenakan Bintang hingga piyama itu terlepas.


"Aku tahu kamu menginginkannya,buktinya kamu hanya memakai piyama saja tanpa memakai dalaman" bisik Rangga di tengah aksinya mencium bibir sang istri.


Wajah Bintang merona,karena jujur Bintang memang menginginkannya.


"Tidak usah malu Sayang,karena aku juga ingin" bisik Rangga lagi.


Dengan tubuh yang sama-sama polos,Rangga membawa sang istri naik ke atas ranjang.


Dinginnya udara malam itu tidak di rasakan oleh keduanya.Tubuh mereka semakin panas karena hasrat birahi mereka yang meningkat.


Mereka saling mencumbu dan menuntut lebih untuk saling menghangatkan.


Keduanya terkulai lemas saat tubuh mereka merasakan klimaks untuk yang kesekian kalinya.


Tidak lupa mereka mandi terlebih dulu sebelum melanjutkan tidur mereka. Karena meraka tidak ingin saat anak mereka bangun kedua orang tuanya masih dalam keadaan tanpa busana.


Benar saja,jam 6 pagi Tama dan Mikha sudah merengek minta jalan-jalan ke puncak.


Mereka segera melajukan mobilnya menuju puncak.


Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan,akhirnya mereka tiba juga di puncak.


Mereka tiba di vila milik keluarga Wijaya sekitar pukul 9 pagi.Mereka di sambut oleh Pak Naryo dan Bi Nani yang sudah berdiri di depan vila itu.


Pak Naryo dan Bi Nani adalah orang yang di tugaskan untuk menjaga villa tersebut.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya" sapa kedua orang itu.


"Tidak usah terlalu formal Pak,Bi" jawab Rangga.


"Ohya Pak Naryo, Bi Nani kenalkan ini istriku Bintang dan kedua anakku Tama dan Mikha"


Rangga memperkenalkan istri dan anak-anaknya kepada mereka.Karena memang selama dia menikah,Rangga belum pernah membawa mereka ke villa tersebut.


Bintang menjabat tangan mereka dengan sopan,di susul Tama dan Mikha yang juga bersalaman dengan cara mencium punggung tangan kedua orang tersebut.


"Wah Den Rangga, anak-anak Aden cantik dan juga tampan", puji Bi Nani.


"Anak-anaknya doang neh Bi?" tanya Bintang yang pura-pura cemberut.


"Tentu saja istrinya yang lebih cantik" tambah Bi Nani.


"Sini Den biar barang-barangnya saya bawa masuk ke dalam", Pak Naryo membantu membawa koper majikannya masuk ke dalam villa.


" Bi Nani,kita mau langsung jalan-jalan saja.Tolong suruh Pak Naryo langsung bawa kopernya ke dalam kamar ya.Sebelumnya terimakasih"


pamit Rangga kepada Bi Nani,karena Tama dan Mikha sudah tidak sabar ingin jalan-jalan.


"Iya Den,hati-hati" jawab Bi Nani.


Rangga,Bintang dan kedua anaknya mulai berjalan meninggalkan villa.Mereka sengaja tidak menggunakan mobil karena ingin merasakan lebih dekat alam.


Pemandangan alam yang indah membuat siapa pun terpana melihatnya.


Apa lagi saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah perkebunan teh,warna hijau yang di tampilkan membuat hati siapa saja menjadi adem.


Tama dan Mikha berlarian di tengah-tengah kebun teh tersebut.Rangga dan Bintang hanya mengawasi keduanya.


"Sayang, sekali lagi terimakasih ya karena kamu sudah memberiku anak-anak yang lucu dan menggemaskan seperti mereka" ucap Rangga sereya menggenggam tangan istrinya.


"sama-sama Sayang" .


Bintang mencium pipi suaminya sekilas sebelum akhirnya dia ikut bergabung dengan kedua anak mereka.


Hari itu mereka memuaskan diri mereka untuk bersenang-senang.Dan malam harinya mereka mengadakan pesta kecil di belakang villa.Karena besok mereka sudah harus kembali ke kota.


"Ohya Bi,apa dulu mas Rangga sering ke sini?" tanya Bintang kepada Bi Nani.


Bintang merasa penasaran karena selama menikah suaminya itu tidak pernah mengajaknya ke villa ini.Dan mungkin jika Tama tidak meminta pergi ke puncak entah kapan mereka akan ke tempat indah ini.


"Dulu Aden ke sini kalau libur kuliah,dia akan membawa Den Nando dan DenJuan kesini tentu saja pacarnya Den Rangga Nona Lyvia juga akan ikut".


Mendengar nama Lyvia seketika wajah Bintang berubah muram.Akhirnya dia paham kenapa suaminya itu tidak pernah membawanya ke sini.


" Jadi ini tempat kenangan mereka"gumam Bintang lirih.


Bintang paham kalau masa lalu tidak bisa di ubah,tapi saat mengetahui villa ini adalah tempat kenangan antara suaminya dengan Lyvia dulu ada perasaan tidak suka di hatinya.


"Maaf Non,bukan maksud Bibi..."


"Tidak apa-apa kok Bi,itukan cuma masa lalu" jawab Bintang yang memaksakan diri untuk tersenyum.


Bintang duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Pak Naryo sebelum memulai pesta mereka.


Dia memperhatikan wajah suaminya yang sedang membakar jagung bersama kedua anak mereka.


"Ternyata kenanganmu bersana Lyvia begitu banyak ya Mas.Aku jadi iri dengan Lyvia" batin Bintang.


Rangga memperhatikan perubahan raut wajah istrinya dari kejauhan.Dia meminta Pak Naryo menggantikannya membakar jagung bersama kedua anaknya.


"Sayang,kamu kenapa?Dari tadi aku lihat kamu sepertinya memikirkan sesuatu?" tanya Rangga seraya duduk di bangku sebelah istrinya.