Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 109


"SIAPA KAMU SEBENARNYA? MENGAPA KAMU MENGAKU SEBAGAI SUAMIKU?"


Bintang menanyakan hal itu dengan menatap tajam orang yang berdiri di depannya.


"Kamu bicara apa Sayang? Aku ini suamimu,Rangga", jawab orang yang ada di depannya.


" Benarkah? "tanya Bintang lagi.


" Tentu saja, Sayang ".


Orang itu juga berjalan mendekati Bintang.


" Sampai kapan kamu akan terus berbohong?",tanya Bintang lagi.


"Apa maksudmu?"


Bintang menunjukkan ponselnya.


"Baru saja suamiku menelponku dan saat ini dia sedang berada di Jakarta. Apa kamu masih mau bilang kalau kamu adalah Rangga?", tanya Bintang dengan sedikit berteriak. Dia begitu marah dengan orang di depannya.


" iya kamu benar, aku memang bukan Rangga. Tapi aku adalah saudara kembarnya,Harry "


"Apa?!?"


Bintang terkejut mendengar jawaban dari orang yang bernama Harry. Pasalnya selama ini Bintang tidak pernah mendengar kalau suaminya itu memiliki saudara kembar.


"Apa maksudmu?" tanya Bintang lagi.


"Aku di buang oleh keluarga Wijaya saat aku masih bayi", jawab Harry penuh kebencian.


" Tidak mungkin ".


" Apanya yang tidak mungkin? itu adalah kenyataannya, mereka membuangku karena aku berbeda dengan Rangga. Aku...", tiba-tiba Harry memegangi dadanya.


"Harry, Harry. Harry kamu kenapa?",Bintang sangat panik saat melihat orang yang bernama Harry itu pingsan di depannya.


Bintang meminta tolong orang yang ada di sekitarnya untuk membawa Harry ke rumah sakit.


Setelah mendapatkan penanganan akhirnya kondisi Harry mulai membaik.Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat.


Bintang menemui Harry di ruang rawatnya.


" Kenapa kamu masih datang menemuiku setelah tahu kalau aku bukanlah Rangga?"tanya Harry saat melihat Bintang datang ke ruangannya.


"Kamu bilang kalau kamu adalah saudara kembar Rangga, itu artinya kamu adalah iparku.Dan di sini hanya akulah kerabatmu,jadi sudah menjadi kewajibanku menjagamu", jawab Bintang.


Bintang duduk di bangku yang berada di samping bangsal tempat Harry berbaring.


" Tadinya aku ingin mencelakaimu karena aku tahu jika kamu celaka maka suamimu itu yang akan merasakan penderitaannya,tapi sepertinya aku berubah pikiran. Aku akan membalasnya langsung dengan orang yang bersangkutan",kata Harry lagi.


"Kamu belum cerita padaku,kenapa kamu ingin membalas dendam dengan keluargamu sendiri?"


"Keluarga? Keluarga macam apa yang tega membuang anaknya hanya karena anaknya memiliki kelainan jantung bawaan? Aku tidak menginginkan keluarga seperti itu,Aku benci mereka semua".


" Kenapa kamu beranggapan kalau keluarga Wijaya sengaja membuangmu?",tanya Bintang lagi.


"Orang tua angkatku yang mengatakan itu" jawab Harry.


" Dan kamu percaya?"


Harry terdiam.


"Dengar, aku sangat mengenal mertuaku dia sangat lembut dan juga baik hati. Jangankan menyakiti keluarga sendiri, dengan orang yang tidak dia kenal saja dia tidak tega.Mama selalu bersikap baik pada siapapun. Dan papamu,meski aku belum pernah bertemu dengan beliau aku yakin beliau juga orang yang baik".


" Mereka bersikap begitu karena ingin menutupi kebusukan mereka,jika mereka baik kenapa aku tidak bersama mereka?Kenapa aku tidak berada di keluarga Wijaya? Kenapa aku malah berada di keluarga Javier?",kata Harry.


"Apa kamu pernah bertanya kepada mamamu? Atau kamu pernah bertanya kepada almarhum papamu? Aku yakin mereka punya alasan kenapa sampai kamu tidak bersama dengan mereka". kata Bintang.


" JANGAN MENG-JUDGE MEREKA TANPA MENGETAHUI KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA".Bintang mengatakan hal itu penuh penekanan.


"Sebaiknya kamu istirahat! Tanyakan pada hatimu apa keluargamu benar-benar tega melakukan hal itu padamu", Bintang mengatakan hal itu sebelum meninggalkan ruang rawat Harry.


" Bintang, tolong jangan beri tahu Rangga kalau aku ada di sini. Aku akan menemui keluargaku saat aku mengetahui semua kebenarannya",pinta Harry.


Bintang menjawabnya dengan anggukan ,kemudian dia berjalan ke luar dari ruangan itu.


Harry masih memikirkan ucapan Bintang tadi.


Harry menghela napasnya,entah kenapa setelah mendengar perkataan Bintang dia jadi ingin lebih mengetahui tentang kelurganya. Kebencian terhadap keluarganya pun sedikit berkurang.


Ponsel milik Harry berdering.


"Iya,Pa"


"Kamu dimana?Aku sudah berhasil menjatuhkan saham Wijaya Grup hari ini. Kamu masih ingatkan tujuanmu ke Indonesia?" kata orang yang di panggil Papa oleh Harry.


"Iya"


"Jangan percaya apapun yang mereka katakan. Mereka sengaja membuangmu dan itu saja yang harus kamu ingat.Mengerti!", setelah itu orang itu mengakhiri panggilannya.


Harry meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di samping bangsalnya.


Dia menatap langit yang melalui jendela kamarnya.


" Siapa yang harus aku percaya orang yang sudah membesarkan aku atau keluargaku?"


Harry terus memikirkan hal tersebut, dia juga ingat ucapan Bintang kalau dia harus menanyakan pada hatinya sendiri.


*****


Bintang kembali ke mesnya,dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.Dia masih tidak percaya kalau ternyata suaminya itu memiliki kembaran.


Bintang memejamkan matanya karena merasa tubuhnya sangat lelah.Tapi matanya kembali terbuka saat terdengar suara tangisan dari dalam kamar mandi.


Bintang bangun dari posisinya dan dengan hati-hati dia berjalan menuju kamar mandi.


Ceklek


Bintang membuka pintu kamar mandi tersebut dengan sangat pelan dan hati-hati.Dia terkejut saat mendapati temannya itu menangis dengan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.


"Din,kamu kenapa?" tanya Bintang kepada temannya itu.


Dinda mendongakkan wajahnya menatap Bintang. Bintang terkejut saat melihat bekas tangan di pipi temannya itu,Dia mendekati temannya dan berjongkok di depannya.


"Din,apa yang terjadi?", Bintang sangat cemas dengan keadaan temannya itu.


Dinda memeluk Bintang dan menangis di pelukan temannya itu. Bintang membiarkan temannya itu mencurahkan perasaannya dalam bentuk tangisan.


Setelah sedikit tenang Bintang membawa Dinda keluar dari kamar mandi.Dia membaringkan tubuh Dinda di atas tempat tidur dan menyelimutinya.


" Bi,mungkin karirku sebagai dokter akan hancur besok".


Bintang duduk di sebelah Dinda yang berbaring.


"Kenapa?"


Dinda kembali menangis.


"Ternyata pacarku itu sudah memiliki istri. Tadi dia mengajakku bertemu hanya untuk memutuskan hubungannya denganku.Aku tidak masalah dengan itu, tapi tadi istrinya mempermalukanku di restoran. Dia bilang ke semua orang kalau aku sengaja merayu suaminya,padahal aku sama sekali tidak tahu kalau dia sudah punya istri. Kalau aku tahu aku tidak akan mungkin mau berpacaran dengan dia dan menyarahkan segalanya kepadanya".


Bintang diam mendengarnya, dia prihatin dengan keadaan temannya itu.


" Besok dia bilang akan datang ke rumah sakit dan akan memberitahu semuanya kepada pihak rumah sakit agar mereka memecatku.Aku akan kehilangan impianku,Bi".


Tangis Dinda kembali pecah membayangkan impiannya yang sebentar lagi hancur.


"Apa bekas tangan di pipimu itu akibat tamparan istri pacarmu?"


Dinda mengangguk.


"Apa dia juga melakukan hal yang sama pada suaminya?" tanya Bintang lagi.


Dinda menggelengkan kepalanya.


"Itu namanya tidak adil,bukankah suaminya juga salah".


" Aku tidak perduli dengan hal itu, aku hanya takut mimpiku akan segera hancur gara-gara hal itu".


"Besok kita temui mereka,sebelum mereka ke rumah sakit. Lebih baik sekarang kamu tidur saja,ini sudah hampir pagi".


Dinda menuruti anjuran temannya, dia berusaha memejamkan matanya.Dan Bintang,dia ikut berbaring di sebelah temannya itu.