
Perlahan-lahan orang itu menarik pelatuk senjati api miliknya,dan....
' DOOORRRRR '
Suara tembakan menggema di ruangan tersebut. Seseorang memegangi tangannya yang berlumuran darah akibat tembakan tadi.Bahkan senjata api yang sempat dia arahkan ke kepala Rangga terlempar jatuh ke lantai.
"Keparat kalian,kenapa kalian malah menembakku?" maki orang itu kepada dua orang di sampingnya.
" Karena sekarang mereka adalah orang-orangku," jawab Rangga dengan senyum smirknya.
"Kau.!!!" teriak orang itu geram,bahkan bola matanya hampir saja ke luar karena amarah yang sudah membuncah sampai ke ubun-ubun.
"Kamu kira aku sebodoh itu Tuan Bram?"
Dengan menyilangkan kakinya,Rangga duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Kenapa kamu ingin membunuhku? Apa karena aku menolak untuk menikahi putrimu itu? Atau karena ada hal yang lain yang sebenarnya putrimu juga tidak tahu?" tanya Rangga dengan memberikan tatapan mematikan kepada Bramantyo.
Ya,orang yang mendalangi penculikan Rangga adalah Bramantyo ayahnya Ester.
Rangga kembali bangkit dan berdiri tepat di hadapan Bramantyo.
"Aku tahu semua rencanamu,Tuan Bram. Aku juga bahkan tahu kalau Ester bukanlah anak kandungmu,kamu sengaja ingin memanfaatkannya," kata Rangga tepat di samping telinga Bramantyo.
Lagi-lagi mata Bramantyo membulat sempurna, kali ini bukan karena geram melainkan karena dia tidak percaya kalau Rangga mengetahui semua rencananya.
"Apa maksudmu?" tanya Bramantyo.
"Perusahaan yang kamu pimpin sudah hampir bangkrutkan? Waktu itu kamu sengaja menjodohkannya dengan anak relasimu untuk bisa menyelamatkan perusahaanmu dari ambang kehancuran. Tapi sayangnya di hari pertunangannya,Ester kabur dan tanpa sengaja bertemu denganku. Sejak itulah kamu mengganti rencanamu. Kamu ingin supaya Ester lebih dekat denganku,makanya kamu menyuruh Pak Hito untuk mengirim Ester agar menggantikannya melakukan kerjasama dengan perusahaan Wijaya Grup. Aku tahu semua yang kamu lakukan dan apa yang kamu rencanakan. Bahkan aku tahu, kamu lah orang yang sengaja membujuk Ester untuk menawarkan dirinya menjadi istri keduaku. Tapi sayangnya aku bukan orang sepertimu yang haus akan belaian wanita,aku hanya setia pada satu wanita dan itu adalah istriku," jelas Rangga panjang lebar.
"Jadi kamu sudah menyelidiki aku?"
"Aku selalu selangkah lebih maju dari semua lawan-lawanku. Jadi jangan macam-macam," ancam Rangga.
"Sejak kapan kamu mulai menyelidiki aku?" tanya Bramantyo lagi.
" Sejak Ester mulai datang ke perusahaanku," jawab Rangga.
"Kamu benar aku memang memanfaatkan anak itu. Aku sengaja menjodohkan dia dengan seorang pengusaha kaya supaya perusahaanku bisa terlepas dari ambang kehancuran. Tapi sayangnya anak itu malah kabur. Namun kemudian aku tahu kalau yang menyelamatkan dia adalah kamu, makanya aku merubah rencanaku. Aku meminta bantuan Hito untuk menggantikannya agar dia bisa mendekatimu. Dan sayangnya, anak bodoh itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa mendapatkan perhatian darimu. Dia tidak menuruni bakat ibunya yang pandai dalam memikat laki-laki," jawab Bramantyo.
"Pa,jadi papa sengaja memanfaatkan aku?" tanya Ester yang sudah berdiri di belakang Bramantyo, bahkan dia sudah mendengar pembicaraan antara papanya dan Rangga.
"Nak...sejak kapan kamu di sini?" tanya Bramantyo, dengan memegangi tangannya Bramantyo berjalan mendekati anaknya itu.
"Jawab aku,Pa? Kenapa papa tega ingin memanfaatkan aku?" tanya Ester kepada ayahnya.
"Kamu salah dengar, apa yang di katakan Rangga itu tidak benar sayang," Bramantyo berusaha membujuk anaknya itu.
"Cukup,Pa!" teriak Ester.
"Selama ini meskipun aku tahu papa bukan ayah kandungku, aku selalu berusaha untuk bisa membuat papa bangga. Aku bahkan rela melanjutkan kuliah di Jepang agar aku bisa membantu perusahaan milik papa kelak,padahal aku tidak ingin berkuliah di bidang bisnis. Aku ingin menjadi seorang disigner,tapi aku urungkan keinginanku itu demi papa. Dan ternyata papa malah memanfaatkan aku? Aku benci papa, aku sangat membenci papa," ucap Ester yang kemudian lari meninggalkan tempat itu.
"Ester...Ester..." panggil Bramantyo.
Ketika Bramantyo hendak mengejar Ester,pada saat itulah Juan,Alex, Nando dan juga Sigit sudah berada di tempat itu dan menghalanginya. Mereka datang setelah mengetahui posisi dari pemilik mobil yang nomor platnya sudah di catat oleh sang supir taksi.
"Mau kemana kamu? Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatnmu itu pada pihak yang berwajib," seru Nando sambil memegangi kedua tangan Bramantyo.
" Kemana saja kalian? Kenapa baru sampai ke tempat ini?" tanya Rangga pada keempat orang di depannya.
"Maaf, Ngga...tadi kita sempat kesulitan mendeteksi nomor plat mobil itu," jawab Juan.
"Aku bawa dia ke kantor polisi dulu," kata Nando sambil membawa Bramantyo meninggalkan tempat itu.
"Pak,bolehkah saya mengejar Ester? Saya sangat mengkhawatirkan dirinya Pak," Sigit meminta ijin kepada bosnya itu.
"Kejarlah," seru Rangga.
"Terimakasih, Pak." Setelah mengatakan itu Sigit segera berlari untuk mengejar Ester.
"Kak Rangga benar-benar keterlaluan hampir saja kami mati kebingungan mencari Kak Rangga. Ternyata..."
Rangga hanya tertawa menanggapinya.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang ini?" tanya Juan sambil menunjuk Jack dan anak buahnya.
"Lepaskan saja mereka, aku sudah berjanji pada mereka untuk memberikan mereka uang," jawab Rangga.
"Jack,Black terimakasih untuk kerjasamanya. Uang yang aku janjikan akan aku kirim ke rekening kalian," ucap Rangga kepada Jack dan Black.
"Tidak masalah Tuan Wijaya, senang bisa bekerja sama dengan Anda. Ayo Black kita pergi dari sini," ajak Jack setelah mengucapkan hal tersebut kepada Rangga.
Jack dan Black itu pun meninggalkan tempat tersebut.
"Ngga, bagaimana kamu bisa bekerja sama dengan mereka?" tanya Juan penasaran.
Rangga mulai menceritakan semuanya kepada Juan.
# *Flash back
"Aku tahu siapa yang menyuruh kalian, tapi...aku ingin kalian memberitahu ini kepada putrinya. Aku ingin putrinya tahu tentang kelakuan buruk ayahnya. Kalian bisakan membuat putrinya itu datang kemari," bisik Rangga kepada Jack tadi siang.
"Baiklah akan aku lakukan sesui perintahmu," jawab Jack.
Kemudian Jack menyuruh anak buahnya untuk menelpon Ester dan mengatakan kalau ada orang yang ingin membunuh Bramantyo. Karena cemas dan khawatir, Ester mengikuti ayahnya ketika ayahnya meninggalkan rumah.
# Flash back off*
"Ya sudah lebih baik kita segera pulang,karena Bintang dan Tante Mia mencemaskanmu," seru Juan.
Bersama dengan Alex dan Juan,Rangga juga meninggalkan tempat dia di sekap tadi.
*****
( Kediaman keluarga Wijaya )
Saat itu Bintang yang sedang duduk bersama kedua anaknya di ruang tamu begitu bahagia ketika melihat suaminya sudah berdiri di depan matanya.
"Mas...ini..ini tidak mimpikan?" tanya Bintang sambil beranjak dari tempatnya duduk. Dia segera menghampiri suaminya itu.
"Kamu.. Kamu tidak apa-apakan,Mas?" tanya Bintang sambil memeriksa keadaan suaminya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang" jawab Rangga sambil menahan tangan istrinya yang sedang memeriksa keadaannya. Rangga menarik istrinya itu kedalam dekapannya.
# *Maaf ya 🙏 segitu dulu. Jangan lupa tetap tinggalkan jejak kalian dengan like,komen dan vote sebanyak- banyaknya.
Baca juga novel di bawah ini yang pastinya bikin kalian baper*