
Karena penasaran Rangga membukanya dan bersamaan dengan itu Bintang datang dan segera merebut amplop tersebut dari tangan suaminya.
"Maaf, Mas. Ini laporan diagnosa pasienku," kata Bintang seraya memasukkan amplop itu kedalam saku bajunya.
"Pasienmu? Bukankah kamu cuti selama satu minggu ini? Lalu bagaiman laporan itu ada di tanganmu?" tanya Rangga dengan tatapan penuh selidik.
"Itu..itu terbawa sebelum aku minta cuti sama Alex," jawab Bintang yang kembali harus berbohong.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Rangga kepada istrinya.
"Mama sedang istirahat di kamar, ada Dinda dan Kak Nia yang menemani beliau," jawab Bintang lagi.
"Kak Nia, sudah datang?" tanya Rangga.
"Iya, dia datang bersama dengan Pak Erik dan anaknya Leon," jawab Bintang lagi.
"Mama bilang, beliau ingin berbicara dengan Mas, Harry dan juga Kak Nia. Harry juga sudah pulang dan Mama menyuruh kita ke kamarnya," tutur Bintang panjang lebar.
Bintang dan suaminya segera menuju ke kamar ibu mereka.
*****
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Rangga begitu dia masuk ke dalam kamar mamanya.
"Mama baik, Nak. Mama hanya kelelahan tadi," jawab Mia sembari duduk dengan bersandar pada sandaran ranjangnya.
"Ingat, Ma. Mulai sekarang Mama tidak boleh lagi melakukan pekerjaan rumah. Urusan pekerjaan rumah biar Mbok Jum dan pelayan lain yang mengurusnya, kalau perlu kita tambah lagi pelayan di rumah kita," seru Rangga panjang lebar, kali ini dia tidak ingin melihat mamanya pingsan lagi.
"Iya, Ma. Biar dapur menjadi tanggung jawab aku dan Dinda," imbuh Bintang.
"Baiklah, mama akan menyerahkan tanggung jawab rumah ini pada kalian," jawab Mia agar anak dan menantunya tidak lagi mengkhawatirkannya.
"Nia, kapan kamu dan Erik akan menikah? Mama benar-benar ingin melihat kalian secepatnya menikah?" tanya Mia dengan menatap Rania dan Erik yang sudah berada di depannya.
"Kalau tidak ada hambatan, rencanya bulan depan kami akan menikah," jawab Erik
"Baguslah, Mama senang mendengarnya," ujar Mia sembari tersenyum.
"Ma, apa tidak sebaiknya Mama memeriksakan kondisi Mama di rumah sakit," usul Harry kepada mamanya.
"Jadi kamu meragukan dua menantu Mama yang dokter ini?" tanya Ratih.
"Bukan itu, Ma. Peralatan di rumah sakitkan lebih lengkap, kita bisa tahu apa yang terjadi dengan kondisi mama secara keseluruhan," jelas Harry.
"Aku juga setuju dengan Harry, Ma. Sebaiknya besok Mama ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan Mama secara keseluruhan," timpal Bintang.
Bintang sengaja mengatakan hal itu agar mertuanya bisa sesegera mungkin mendapatkan penanganan mengenai penyakitnya.
"Bukahnya tadi kamu bilang, kalau mama ini baik-baik saja kan, Sayang?" tanya Rangga kepada istrinya.
Bintang melirik ke arah mertuanya sejenak.
"Maksudku..aku inikan hanya dokter umum. Jadi aku hanya menegetahui kondisi umum mama saja. Tapi untuk mengetahui kondisi mama secara pasti bukankah lebih baik jika mama melakukan medical check up. Medical check up, juga di butuhkan untuk kita yang terlihat sehat juga lho Mas," jelas Bintang kepada suaminya.
Rangga memikirkan perkataan istrinya barusan. Apa yang di katakan istrinya memang tidak salah. Bahkan seratus persen benar malah.
"Aku rasa Bintang benar, besok Mama ke rumah sakit ya untuk mengetahui kondisi kesehatan Mama yang sebenarnya!" seru Rangga.
Bintang tersenyum mendengarnya, setidaknya dengan begitu suami dan anggota keluarga yang lain akan mengetahui kondisi mertuanya, tanpa dia harus mengingkari janjinya pada mertuanya itu.
"Mama tidak mau melakukan medical check up. Mama ini sehat dan Mama baik-baik saja," tolak Mia.
"Justru karena Mama sehat, Mama harus melakukan medical check up. Agar kita semua yakin kalau Mama benar-benar sehat," Rania ikut mendukung usulan dari adik iparnya itu.
"Tapi..." Mia tidak melanjutkan perkataannya karena Harry terlebih dulu menyelanya.
"Ayolah, Ma!" sela Harry.
"Mas Harry benar, Ma. Setidaknya kalau kita tahu Mama sehat, kita semua tidak akan mengkhawatirkan Mama lagi," imbuh Dinda.
"Baiklah, besok Mama akan melakukan medical check up. Tapi Mama mau Bintang yang menemani Mama," jawab Mia sembari menatap ke arah menantunya tersebut.
"Tapi besok aku ada banyak urusan di rumah sakit, biar Mas Rangga saja yang menemani Mama atau Kak Nia," tolak Bintang.
Bintang terpaksa menolak ke inginan mertuanya tersebut, karena dia ingin agar seluruh keluarga besar wijaya tahu tentang kondisi mertuanya itu yang sebenarnya.
"Jika bukan kamu yang mengantar Mama untuk melakukan medical check up, Mama tidak akan mau melakukannya" jawab Mia setengah mengancam.
Bintang paham kenapa mertuanya itu bersikukuh meminta dia yang mengantarnya, karena pasti ujung-ujungnya, mertuanya itu ingin agar dia merahasiakan kembali hasil medical check up nantinya, sama seperti tadi mertuanya tersebut meminta dia merahasiakan hasil diagnosa dokter.
"Baiklah, aku yang akan menemani mama," jawab Bintang kemudian.
"Sekarang Mama istirahatlah! Kalau ada yang mama inginkan, mama bisa memanggilku, Bintang atau Kak Nia," ucap Dinda.
"Iya, Ma. Istirahatlah!" imbuh Rania.
Semua orang akhirnya ke luar dari kamar Mia untuk memberinya waktu beristirahat.
*****
Malam harinya..
Bintang duduk di atas ranjangnya, sebelum dia menanyakan tentang penyakit mertuanya itu kepada dokter lain. Bintang mencoba mencari tahu tentang penyakit tersebut lewat google dan beberapa buku yang pernah di berikan kakak iparnya kepadanya.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh ya?" pikir Bintang. Dia kembali melihat hasil diagnosa dokter milik ibu mertuanya tersebut.
"Dilihat dari hasil ini, memang betul kalau mama terkena penyakir kanker otak. Tapi kenapa aku merasa ada yang salah," lagi-lagi Bintang berfikir.
Bintang kembali menaruh diagnosa milik mertuanya ke dalam saku, ketika tiba-tiba suaminya itu masuk ke dalam kamar.
"Belum tidur, Sayang?" tanya Rangga yang ikutan naik ke atas ranjang.
"Sebentar lagi, Mas" jawab Bintang yang kembali melihat ke layar laptop di pangkuannya.
"Memangnya apa yang sedang kamu lihat?" tanya Rangga sembari ikut menatap ke layar laptop tersebut.
"Hanya referensi untuk melanjutkan studi specialis dokter ku," jawab Bintang berbohong.
"Bukankah kamu mau ngambil jurusan ilmu bedah, kenapa kamu melihat artikel tentang dokter specialis onkolog?" tanya Rangga saat melihat artikel yang di baca istrinya adalah artikel tentang dokter specialis onkolog.
"Aku hanya melihat-lihat saja, siapa tahu aku juga tertarik dengan itu," jawab Bintang sembari tersenyum.
Rangga mengambil laptop yang ada di pangkuan istrinya dan mematikannya.
"Sekarang adalah waktunya kamu menemaniku, Sayang. Jadi jangan pikirkan hal lain!" seru Rangga seraya meletakkan laptop tersebut di atas nakas.
Rangga mulai membaringkan tubuh istrinya, dan malam itu kembali menjadi malam yang panjang untuk keduanya.
*****
Keesokan harinya ...
Seperti rencana mereka kemarin, Bintang menemani ibu mertuanya untuk melakukan medical check up.
Ketika mertuanya sedang melakukan berbagai tes di dalam sebuah ruangan. Diam-diam Bintang menelpon suaminya untuk datang ke rumah sakit. Dia sengaja menelpon suaminya agar suaminya itu tahu kondisi mertuanya itu yang sebenarnya.
"Dimana Mama?" tanya Rangga ketika tiba di rumah sakit.
"Sedang ada di dalam. Mas tunggu di sini ya, aku ada pasien soalnya!" pinta Bintang kepada suaminya.
"Baiklah, biar aku yang menunggu Mama di sini," jawab Rangga.
"Makasih ya, Sayang" ucap Bintang.
" Maafkan aku Mas, aku hanya ingin kamu tahu kondisi Mama yang sebenarnya," batin Bintang.
Bintang sengaja meninggalkan suaminya itu sendiri di depan ruang pemeriksaan mama mertuanya.
^°^°^°^°
Bintang kembali ke tempat tadi dia meninggalkan suaminya. Wajahnya diliputi kecemasan ketika melihat Rangga dan Mia keluar dari ruang pemeriksaan.
"Mas, aku minta maaf ya," ucap Bintang kepada suaminya. Dia yakin kalau suaminya pasti sudah tahu penyakit yang menimpa Mia saat ini.
Rangga menatap istrinya tersebut.
"Mas...," panggil Bintang ketika suaminya itu masih belum bereaksi.
➡️Tetap tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote ya...Author tunggu!
Terimakasih💖💖💖💖