Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 42


### Terimakasih buat reader semua atas do'anya🙏,Alhamdulillah aku sudah mulai sehat kembali. Insya Allah mulai sekarang bakalan updete setiap hari💪. love you reader-ku❤❤❤###


Rangga membawa Bintang meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan menuju rumah, Bintang selalu diam dan melihat ke arah luar jendela mobil.


"Sayang, sepertinya dari tadi papa di cuekin sama mommy," kata Rangga sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.


Bintang menatap suaminya itu Kemudian tersenyum. "Maaf ya, Sayang. Aku, hanya kepikiran sama kak Mentari."


Rangga menggenggam tangan istrinya. "Jangan khawatir aku akan membantumu mencari tahu keberadaan Mentari." Rangga berusaha menenangkan istrinya.


Setibanya di rumah, Bintang terlihat sangat bahagia saat mertua dan dua sahabatnya sudah berada di sana. Terlebih saat melihat ibunya juga sudah ada di sana.


"Ibu, kapan ibu datang?" tanya Bintang sambil memeluk ibunya.


"Tadi pagi. Semalam suamimu telpon katanya kamu hamil. Jadi, ibu langsung kesini. Tapi, nenekmu tidak bisa ikut datang karena dia sedang kurang enak badan." jawab Ratih.


"Terus siapa yang jagain nenek kalau ibu ke sini?"


"Aku menitipkan nenekmu ke tengga. Makanya ibu tidak bisa berlama-lama di sini."


"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting ibu bisa datang aja aku seneng."


"Ehem-ehem." Terdengar suara dehehaman Mia.


"Mentang-mentang sudah ada Ratih, Mama di lupain deh," ucap Mia dengan memasang wajah sedih.


Bintang juga memeluk mama mertuanya itu.


"Bintang kami juga ingin di peluk dong!" Ana dan Dewi ikut-ikutan memeluk sahabatnya itu.


"Sayang, sebenarnya selama dua hari ini kalian ke mana?" tanya Mia. Bintang dan Rangga saling tatap, demikian juga Ana dan Dewi karena mereka juga mengetahui apa yang menimpa Bintang sebenarnya.


"Maaf Ma, kemarin Rangga nggak bilang apa pun ke Mama. Sebenarnya Bintang masuk rumah sakit. Karena takut kalian semua khawatir, Rangga merahasiakannya," jawab Rangga.


Mia dan Ratih benar-benar terkejut.


"Sekarang, apa kamu sudah benar-benar sehat Nak?apa masih ada bagian yang sakit?" tanya Mia cemas.


"Bintang sudah sehat, Ma," jawab Bintang.


"Apa yang Sebenarnya terjadi? kenapa Bintang bisa dibawa ke rumah sakit?" tanya Ratih yang juga mencemaskan putrinya. Rangga mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mama dan ibu mertuanya itu.


"Dimana wanita licik itu sekarang?" tanya Mia lagi.


"Dia dan ibunya sudah berada di kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," jawab Rangga.


"Pak Mun masih di rumah sakit, keadaannya juga sudah membaik," jawab Rangga.


"Syukurlah kalau semuanya sudah baik-baik saja," ucap Ratih.


"Nak Rangga, malam ini ibu boleh ya tidur bersama Bintang kan?" tanya Ratih.


"Kenapa Ibu harus minta izin? Bintangkan putri Ibu, kapan pun Ibu mau, Ibu boleh tidur bersama Bintang," jawab Rangga.


"Pak Rangga, kami hari ini juga minta izin ya buat nggak kerja? Kami juga kangen sama Bintang dan tante Ratih,"kata Ana.


"Tidak masalah," jawab Rangga.


Semua orang segera menuju ruang makan. Hari itu mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.


*****


Rangga segera keluar dari rumah setelah mendapat pesan dari Juan kalau dia sudah menemukan keberadaan Iwan. Keduanya berjanji untuk bertemu dan menemui Iwan. Begitu bertemu keduanya langsung menuju ke rumah Iwan.


"Ada apa kalian mencariku?" tanya seorang lelaki berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang. Lelaki itu mengenakan jas berwarna biru tua. Di sampingnya ada dua orang wanita yang bergelayutan manja di lengannya.


"Kau yang bernama Iwan Rendra?" tanya Rangga dengan tatapan dinginnya.


"Benar. Ada apa?" jawab Iwan dengan gaya songongnya.


"Dimana Mentari?" tanya Rangga lagi. Iwan yang mendengar nama Mentari segera menatap Rangga dengan tatapan tidak suka.


"Apa kamu yang bernama Juan?" tanyanya dengan mata tajamnya.


"Bukan dia, tapi aku," jawab Juan yang berdiri disamping Rangga.


Iwan menatap Juan dari atas hingga bawah. "Jadi kamu cowok yang sudah membuat Mentari tergila-gila? Dan tidak bisa menerimaku?" tanya Iwan.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Juan tidak mengerti.


Tiba-tiba Iwan memegang kerah baju Juan dengan penuh emosi.


"Kau tahu gara-gara kamu, Mentari tidak bisa menerimaku. Dia selalu saja menyebut namamu bahkan setiap hari orang yang dia tatap bukan aku, tapi fotomu." katanya kemudian melepaskan kerah baju Juan yang dia tarik tadi.


"Selama hampir 6 bulan kami menikah dia sama sekali tidak pernah menatapku. Dia hanya memikirkan satu nama yaitu Juan. Tadinya aku ingin berusaha membuat dia menerimaku, tapi setiap kali aku berusaha menyentuhnya dia malah menangis dan memanggil namamu. Lama kelamaan aku jadi kesal dengan tingkahnya itu. Jadi, malam itu aku mengambil hakku dengan paksa setelah itu aku jual dia ke tempat pelacuran," jawab Iwan di sertai tawanya.


Juan terlihat sangat emosi dia sudah mengepalkan tangannya. Namun, belum sempat dia memukul Iwan, ada orang lain yang lebih dulu menemparnya.