
Namun mata Rangga tebelalak saat melihat sesuatu di depannya.
"Astagaaa," ucap Rangga. Dia menepuk jidatnya sendiri ketika melihat tingkah konyol ke dua anak kembarnya.
Ya, kedua bocah itu saat ini sedang bermain-main dengan tanah, padahal baru saja mereka selesai mandi. Bahkan dengan asyiknya mereka saling menaburkan tanah hingga baju dan wajah mereka kotor terkena butiran-butiran tanah.
Dengan cepat Rangga segera menghampiri ke dua anak kembarnya yang sedang bermain-main itu.
"Ayo cepat bersihkan diri kalian, jangan sampai mommy kalian melihat!" seru Rangga seraya menepuk-nepuk baju ke dua anak kembarnya untuk menghilangkan butiran tanah yang menempel.
"Tapi ini masih seru, Daddy," tolak Tama.
"Betul Daddy, apalagi Tama kalah barusan," imbuh Mikha.
"Aku bukannya kalah, tapi memang aku mengalah tadi," elak Tama yang tak mau di bilang kalah oleh saudara kembarnya.
"Bilang saja kalah, tadi kan Tama memang kalah," tukas Mikha. Dia tidak terima di bilang menang karena saudaranya itu mengalah.
"Aku memang mengalah tadi," kata Tama.
"Tidak! Aku memang yang menang tadi," kata Mikha lagi.
"Aku mengalah,"
"Tidak! Tama memang kalah,"
Dan seperti biasanya, dua bocah kembar tersebut tidak akan berhenti berdebat, sebelum ada yang menjadi penengah bagi keduanya.
Bahkan ke dua bocah kembar itu kembali saling melempar tanah ke tubuh mereka, namun karena Rangga berada di tengah keduanya, alhasil butiran tanah itu malah mengenai dirinya.
Kedua bocah itu langsung berhenti, saat menyadari yang terkena lemparan tanah dari tangan mereka adalah daddy mereka.
Rangga menatap mata anak kembarnya bergantian.
"I'am sorry, Dad!" ucap Tama dengan mengatupkan kedua tangannya, dia bahkan memberikan senyum terbaiknya kepada sang ayah.
Tak jauh beda dengan yang di lakukan oleh Tama, Mikha juga mengatupkan kedua tanganya, serta menampakkan senyum manis kepada sang ayah seraya berkata, " Maafkan Mikha, Daddy!".
Rangga memang terkenal dingin dan tanpa ekspresi ketika di lingkungan perusahaannya. Bahkan sikapnya itu selalu membuat rekan bahkan saingan bisnisnya menjadi kehilangan nyali. Tapi tidak, ketika dia berada di tengah-tengah keluarga dan sahabatnya. Dia akan menjadi pribadi yang hangat, setidaknya itulah yang terjadi setelah Bintang hadir di dalam kehidupannya.
Seperti sekarang ini, Rangga tidak akan pernah bisa marah dengan kedua anaknya. Apalagi jika kedua bocah itu sudah menunjukkan senyum manis di depannya.
Rangga menarik napas kemudian menghembuskannya.
"Daddy tidak akan pernah bisa marah dengan kalian, sekarang lebih baik kalian mandi lagi sebelum..."
Belum selasai Rangga berkata-kata, Bintang sudah ke luar dari dalam rumah.
"Mas, sedang apa anak-an.....," Bintang juga tidak melanjutkan kaliamatnya.
Dia menatap suami dan anak-anaknya bergantian.
"Ya ampun, Mas. Bisa-bisanya kamu mengajak anak-anak bermain tanah. Mereka kan baru saja mandi," cerocos Bintang tanpa memberi kesempatan kepada suaminya untuk berbicara.
"Sayang,ini...,"
Dan lagi-lagi Bintang tidak memberikan kesempatan kepada suaminya itu untuk berbicara.
"Sekarang kalian bertiga mandi lagi! Sebentar lagi maghrib!" seru Bintang kepada tiga orang di depannya.
"Ayah dan anak sama saja," gerutu Bintang sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, Mommy," jawab ketiganya kompak.
Bintang kembali masuk ke dalam rumah dan kembali ke dapur. Di ikuti oleh suami dan ke dua anaknya.
Rangga memberikan kesempatan kepada kedua anaknya untuk mandi terlebih dulu, karena memang kamar mandi di rumah tersebut hanya ada satu.
Sementara Rangga dia mendekati istrinya yang sedang membuat teh.
"Ih ... apa-apaan sih, Mas? Badan Mas itu kotor."
"Aku bawa teh ini ke ruang tengah, setelah mandi Mas segera ke sana!" seru Bintang, kemudian dia melenggang melewati suaminya untuk menuju ke ruang tengah.
Rangga menghela napasnya kasar, Rangga segera menuju ke kamar mandi begitu kedua anak kembarnya selesai mandi.
Semuanya berkumpul di ruang tengah seraya menunggu adzan maghrib berkumandang. Rangga beserta istri dan kedua anaknya segera menuju mushola yang tidak jauh dari rumahnya, meraka menjalankan ibadah sholat magrib di mushola tersebut.
*****
Di kediaman keluarga Wijaya...
Malam itu Harry dan Dinda sedang berdiri di balkon kamar, keduanya menikmati indahnya langit di malam hari.
"Sayang, aku harap secepatnya kita akan memiliki keturunan sama seperti Rangga dan Bintang," kata Harry seraya memeluk istrinya itu dari belakang. Dia mencium pucuk rambut sang istri berkali-kali.
"Iya, Sayang. Rasanya akan sangat sempurna jika kita juga memiliki anak kembar seperti mereka," timpal Dinda.
Dinda tersenyum seraya berkhayal dirinya memiliki 4 anak kembar sekaligus. Entah kenapa dirinya selalu menginginkan memiliki banyak anak. Mungkin karena sejak kecil dirinya selalu seorang diri dan hidup berdua dengan neneknya.
Dia tidak ingin anaknya kelak merasakan kesepian, sama seperti yang dia rasakan dulu.
"Aku tahu, apa yang kamu pikirkan," kata Harry seraya membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Kita tidak akan cepat memiliki anak kalau kita tidak berusaha, Sayang," bisik Harry.
"Mas..," Dinda menahan tangan suaminya yang hendak bergerilya di dalam bajunya.
"Ini masih sore. Apa kata mama dan ibu Yuna, jika kita tidak ikut makan malam bersama mereka," kata Dinda kemudian.
"Baiklah, tapi malam ini aku tidak akan memberimu ampun!" ancam Harry dengan senyum jahilnya.
Harry dan Dinda kembali melanjutkan menikmati indahnya langit di malam hari.
*****
Malam hari di desa....
Bintang dan yang lainnya mengadakan pesta kecil-kecilan di depan rumah. Selain memasak berbagai macam makanan, Uwa Susi dan Ibu Ratih mengundang beberapa tetangga untuk mengikuti pesta kecil yang mereka adakan.
Banyak tetangga yang merasa senang karena telah di undang di pesta kecil tersebut. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang iri dan tidak suka dengan kebahagiaan yang mereka lihat.
Apa lagi saat ini, mereka begitu iri saat melihat Rangga yang tidak pernah bisa lepas dari istrinya. Dia selalu mengikuti kemana pun istrinya pergi. Bahkan ketika Bintang menyapa satu per satu tetangganya, Rangga tidak pernah sekalipun melepaskan pegangan tangannya.
"Mas, sampai kapan kamu akan menggandeng tanganku seperti ini?" tanya Bintang yang lama kelamaan merasa risih dengan sikap posesif suaminya.
"Sampai mereka semua pergi," jawab Rangga santai.
"Mas, yang kita undang itu kebanyakan ibu-ibu lho. Jadi mereka nggak mungkin aneh-aneh terhadapku," kata Bintang.
"Yang ada Mas tuh, yang harusnya berhati-hati, jangan samapi ibu-ibu itu jadi tertarik sama kamu," tambah Bintang.
"Sepertinya boleh juga," kata Rangga lirih tapi masih di dengar oleh istrinya.
" Boleh juga apanya? Awas ya kalau sampai macam-macam!" ancam Bintang.
"Tidak akan macam-macam, Sayang. Paling hanya satu macam," jawab Rangga sembari terkekeh.
"Ish."
Tawa keduanya terhenti ketika mendengar teriakan dari kedua anaknya.
"Mommy ... Daddy..."
β‘οΈ *Tolong berikan like, komen dan votenya πππ
β‘οΈ Baca juga novel yang ter-Uwu di bawah ini*:
Trimsπππ