
"Kak,Juan kapan sampai?" tanya Alex kepada Kakaknya.
"Baru saja,aku dan Mentari langsung kesini begitu mendengar kabar tentang Bintang" jawab Juan.
"Lalu dimana Kak Tari?" tanya Ana
"Dia sedang menemui ibunya dan membantu menghibur Tama dan Mikha"
"Kak,lalu baby Juno di mana?" tanya Alex.
Juno adalah anak Juan dan Mentari, saat ini usianya baru 1,5 tahun.
"Juno aku titipkan di tempat mama,karena tidak baik seumuran Juno berada di rumah sakit"
"Alex, ayo ikut Kakak menemui Dokter yang menangani Bintang. Aku ingin tahu seberapa parah cidera otak yang Bintang alami", ajak Juan.
" Kalau begitu aku akan ke tempat Kak Tari dan yang lainnya ",Ana meninggalkan Alex dan calon kakak iparnya tersebut.
Alex dan Juan mendatangi Dokter yang mengoperasi Bintang. Dia melihat hasil CT scan Bintang.
Dari CT scan tersebut terlihat ada retakan di tulang tengkorak Bintang.
" Apa itu parah Kak?"tanya Alex yang ikut mengamati CT scan tersebut.
"Kita tidak akan tahu,efek apa yang di timbulkan dari retakan ini sebelum Bintang sadar" jawab Juan.
"Mudah-mudahan Bintang cepat sadar ya Kak" ucap Alex.
"Dokter, bisakah saya yang mengambil alih pasien atas nama Bintang ini Dok?" tanya Juan kepada Dokter yang menangani Bintang sebelumnya.
"Saya kakak iparnya, saya juga seorang Dokter" imbuh Juan.
"Baiklah, saya percaya pada Anda Dokter Juan".
Dokter itu memberikan berkas-berkas catatan medis Bintang kepada Juan.
" Terimakasih, Dokter "ucap Juan sambil berjabat tangan dengan Dokter tersebut.
Rangga masih setia berada di sisi Bintang. Dia terus menggenggam tangan istrinya itu.
"Rangga, makanlah dulu.Biar aku yang menjaga Bintang. Aku dengar sejak tadi pagi kamu belum makan apa-apa", kata Mentari.
" Tidak, aku ingin tetap di sini.Aku ingin saat Bintang sadar orang yang pertama dia lihat adalah aku"tolak Rangga.
"Kamu harus ingat Rangga, kalau tugasmu tidak hanya menjaga Bintang,kamu juga harus menjaga Mikha dan Tama.Mereka juga membutuhkanmu" kata Mentari lagi.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Rangga.
"Tadi mereka juga belum makan sepertimu.Pulanglah sebentar hibur mereka dan bujuk mereka untuk makan"
"Kamu juga tidak maukan saat Bintang sadar dia melihat anak-anaknya kurus kering" kata Mentari lagi dengan sedikit bercanda.
"Baiklah, Aku titip Bintang sebentar. Aku akan pulang untuk melihat keadaan anak-anakku".
Sebelum pergi tidak lupa Rangga mencium kening istrinya itu.
" Cepatlah sadar,Sayang. Aku pulang sebentar, aku akan segera kembali" pamit Rangga di telinga sang istri yang masih terpejam.
#Di kediaman keluarga Wijaya
Sejak pulang dari rumah sakit,Mikha terus saja menangis.Bahkan Mia dan Ratih sampai kuwalahan untuk membujuknya.
Bahkan sejak melihat mommy nya di rumah sakit, keduanya tidak mau makan apapun.
"Mikha Tama, ayo makan ya.Cucu grandma kan pinter." bujuk Mia
"Iya,Sayang. Kalau Mommy lihat Mikha dan Tama seperti ini,Mommy pasti akan sedih" tambah Ratih.
"Mikha mau mommy, Mikha mau di suapin sama mommy"
"Tama kangen sama mommy, kapan mommy akan pulang Nek,Grandma?"
Ratih dan Mia hanya bisa menghela napas mereka.Baru sehari Bintang sakit,tapi kedua cucu mereka sudah sangat merindukan mommy nya.
"hiks...hiks...hiks"
Suara tangisan Mikha terdengar sangat menyedihkan.Selama ini Mikha memang paling dekat dengan mommy nya.Mungkin karena sifat Mikha yang manja,berbeda dengan Tama yang selalu bersikap sok dewasa.
Mikha mendongakkan wajahnya, saat seseorang menyentuh pipi dan menghapus air matanya.
"Daddy" ,Mikha langsung memeluknya saat tahu orang yang menyenh pipinya itu adalah ayahnya.
Tangis Mikha semakin pecah di pelukan sang ayah.
Hati Rangga begitu sakit mendengar tangisan putri kecilnya itu.Seandainya saja dia jujur atau bahkan tidak menemui Lyvia pasti Bintang masih baik-baik saja sekarang dan kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Semua memang salahnya.Gara-gara dia sekarang putri kecilnya itu menangis.Dan pangeran kecilnya juga harus merasakan sedih.
Tama berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh Karena dia mengingat ucapan mommy nya,kalau laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis.Karena tugas seorang lelaki adalah melindungi wanita.
Air mata Rangga hampir saja lolos dari matanya melihat kesedihan kedua anaknya. Tapi dia berusaha tersenyum di depan kedua buah hatinya itu.
"Tama, Mikha kenapa kalian sedih?"
"Apa mommy sudah baikan,Daddy?" tanya Mikha.
"Apa mommy akan segera pulang?", kini giliran Tama yang bertanya.
" Dengar Sayang, Mommy pasti akan pulang secepatnya.Jadi kalian tidak boleh sedih lagi"
Rangga mengambil piring makanan dari tangan Mia.
"Daddy dengar dari aunty katanya kalian belum makan,jadi sekarang kalian makan yang banyak.Karena Mommy pasti tidak akan senang kalau kalian tidak makan.
Mommy pasti akan memarahi Daddy karena membiarkan kalian kelaparan.
Kalian tidak maukan Daddy di marahi sama mommy?"
Tama dan Mikha menggelengkan kepala mereka.
"Jadi sekarang kalian makan,Daddy yang akan suapin"
Tama dan Mikha mengangguk.
'seandainya bisa aku lebih memilih melihat Bintang marah-marah saat ini' batin Rangga.
Rangga mulai menyuapi keduanya dengan sangat telaten.Hingga tanpa kedua anak itu sadari mereka sudah menghabiskan sepiring makanan penuh.
"Apa besok mommy akan pulang karena Mikha sudah makan banyak?"
"Tama janji Daddy kalau mommy pulang Tama tidak akan merebut mainan Mikha lagi.Tama akan menjadi anak yang baik"
Selama ini Tama memang sering merebut mainan Mikha, karena dia memang suka menjahili adik kembarnya tersebut.
"Tama juga akan melindungi Mikha,Tama janji. Tapi tolong buat Mommy sembuh ya Daddy".
Rangga tidak bisa menahan air matanya lagi,dia cepat-cepat menghapus air matanya sebelum kedua anaknya melihatnya.Dan menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum.
" Mommy pasti akan cepat sembuh,pasti Sayang",Rangga kembali memeluk kedua anaknya.
Setelah menidurkan kedua anaknya,Rangga menemui ibu dan mertuanya yang masih duduk di meja makan tadi.
"Ma,ibu Rangga akan kembali ke rumah sakit.Tolong jaga Tama dan Mikha"
"Ini semua gara-gara kamu,kalau kamu tidak menemui wanita itu lagi.Bintang tidak akan mengalami kecelakaan dan kedua cucu mama juga tidak akan sesedih ini", Mia terus saja menyalahkan putranya.
Rangga menghela napasnya,dia menatap mamanya.
" Ma,Rangga juga sangat sedih melihat semua ini.Jika Rangga bisa memutar waktu Rangga tidak akan melakukan itu.Kalau Rangga bisa memilih,lebih baik Rangga mati dari pada Rangga harus melihat Bintang terbaring di sana dan melihat kedua anakku menderita."
Tidak lama ponsel Rangga berdering dan itu dari Mentari.
"Iya,Kak Tari"
"Rangga, cepat ke rumah sakit sekarang! Bintang kritis!" suara Mentari terdengar sangat panik.
"Ada apa,Nak?apa yang terjadi dengan Bintang?" tanya Mia dan Ratih saat melihat perubahan di raut wajah Rangga.
"Tidak,kamu tidak boleh kenapa-napa Bintang. Kamu harus bangun", Rangga berbicara sendiri.
Rangga tidak menghiraukan pertanyaan ibu dan mertuanya.Dia langsung pergi dengan mobilnya menuju rumah sakit.