
"SUDAH BERAPA KALI KAMU TIDAK MEMBERIKAN GAJI MEREKA?"
Pak Yudi langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat dari bawah hingga ke atas orang yang berani berkata keras kepadanya.
"Hei, siapa kamu? Berani sekali kamu bertanya seperti itu padaku?" tanya Pak Yudi sambil membalas tatapan tajam orang yang berbicara barusan.
"Aku?" tanya orang itu sambil menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk.
"Tentu saja kamu, memang siapa lagi?" tanya Pak Yudi dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Aku pekerja di sini, jadi aku berhak menanyakan gajiku," jawab orang itu santai.
Orang itu berjalan menghampiri Pak Yudi. Dia berdiri tepat di hadapan Pak Yudi dan kembali menatap pria berumur 40 tahunan itu. Tatapan mematikan yang membuat semua orang yang melihatnya ketakutan. Tapi bukan Yudi namanya kalau dia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya terhadap tatapan orang di depannya.
"Shit, kenapa tatapannya membuatku takut," Yudi mengumpat dalam hati.
"Lalu apa maumu jika aku tidak mau memberikan gaji mereka?" tantang Yudi.
"Wah, wah, apa Pak Yudi ini termasuk orang yang kebal hukum?" tanya orang tadi dengan senyum menyeringai.
"Berani kamu menentangku?"
"Kenapa tidak," jawab orang itu santai.
"Kau!!" Pak Yudi menunjuk orang itu dengan jari telunjuknya.
Orang itu hanya meliriknya sekilas.
"Kau mau membayar gaji mereka sekarang atau kau memilih untuk di penjara?" tanya orang itu sedikit mengancam.
"Polisi tidak akan mempercayai laporanmu," tukas Pak Yudi.
"Bagaimana kalau saat ini mereka ada di belakangmu?" tanya orang itu.
Seketika Pak Yudi menoleh ke arah belakangnya, ternyata benar ada dua orang polisi yang sudah berdiri di belakangnya.
"Maaf Pak Yudi, Anda kami tangkap atas tuduhan penggelapan uang," kata seorang polisi sambil mendekat ke arah Pak Yudi.
"Tidak benar, Pak Polisi. Itu semua bohong," sangkal Pak Yudi yang berusaha membela diri.
"Tapi seseorang sudah melaporkan Anda, dan dia juga sudah memberikan bukti dan juga saksi," jelas polisi barusan.
"Siapa yang memberikan laporan palsu itu?" tanya Pak Yudi yang masih tetap berusaha mengelak.
"Tuan Rangga Wijaya," jawab polisi itu.
" Apa!!!"
Pak Yudi shock mendengarnya, bagaimana mungkin Rangga Wijaya melaporkan dia secepat itu.
"Tidak, pasti bukan Pak Rangga kan?" tanya Pak Yudi yang masih belum bisa menerima.
"Kenapa bukan dia Pak Yudi? Apa kamu mengira kalau kamu akan selamanya bisa membodohiku?" tanya pekerja yang dari tadi melawan Pak Yudi.
"Kamu...,"
Sebelum Pak Yudi melanjutkan perkataannya, Bintang yang tadi sempat pergi datang kembali ke tempat itu. Dia memeluk lengan pekerja tadi.
"Dia suamiku, Pak Yudi. RANGGA WIJAYA."
Perkataan Bintang barusan sontak membuat Pak Yudi terkejut.
"Ja..jadi...dia...,"
"AKU RANGGA WIJAYA," pekerja tersebut memperkenalkan diri seraya memberikan tatapan tajam nan mematikan kepada Pak Yudi.
"Pa.. Pak Rangga, Anda salah paham," kini Pak Yudi berusaha membela diri. Kesombongan yang sempat dia tunjukkan tadi, seolah runtuh.
"Aku sudah mendengarnya dari mulutmu sendiri," kata Rangga.
"Pak bawa dia ke penjara! Pengacaraku yang akan mengurus semuanya," seru Rangga kepada dua polisi di depannya.
Kedua polisi itu langsung menggiring Pak Yudi ke kantor polisi.
"Seperti janjiku tadi, gaji kalian akan langsung cair hari ini, berikut bonusnya," kata Rangga lagi.
"Terimakasih Pak Rangga," ucap para pekerja proyek tersebut.
"Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!" seru Rangga kepada para pekerja tersebut.
*****
Jam 4 sore, Rangga dan Bintang menyusul ke dua anak kembarnya ke sawah. Kedua bocah itu di ajak untuk bermain di sekitar persawahan oleh Ratih dan Uwa Susi.
Senyum bahagia nampak terpancar di wajah kedua anak kembar tersebut.
Mikha dan Tama bahkan ikut turun ke area persawahan. Mereka tampak senang bermain-main dengan lumpur yang ada di sawah tersebut. Cipratan lumpur bahkan mengenai wajah imut mereka.
"Bagaimana pembangunan proyek rumah sakit itu, Nak?" tanya Ratih kepada anak dan menantunya.
"Sudah hampir selesai sih, Bu. Cuma tadi ada sedikit masalah di sana," jawab Bintang.
"Masalah?? Masalah apa?" tanya Ratih lagi.
"Hanya masalah kecil, tapi semua sudah kami selesaikan dengan baik," jelas Bintang lagi.
"Mommy, Daddy, ayo kesini!" seru Mikha yang masih berada di tengah-tengah area persawahan yang sudah di panen dan hanya menyisakan lumpur.
"Ayo, Mas. Kita ke sana!" ajak Bintang.
"Tidak ah, Sayang. Biar aku menunggu kalian di sini," jawab Rangga. Sejak kecil Rangga tidak pernah bermain di area persawahan, dia merasa sedikit geli jika harus menyentuh lumpur.
"Ayo, Daddy!" seru dua anak itu lagi.
"Ayo, Mas!" ajak Bintang.
Bintang menarik tangan suaminya agar ikut bermain di area sawah tersebut. Meskipun awalnya Rangga merasa geli dengan lumpur yang dia pijak. Lama kelamaan rasa geli itu hilang, apa lagi ketika dia bermain lempar-lemparan lumpur dengan istri dan kedua anak kembarnya.
"Anakmu sangat beruntung ya, Tih? Dia mempunyai suami yang tidak hanya kaya, tapi juga mencintai dia dan keluarganya," kata Uwa Susi seraya menatap Bintang dan keluarga kecilnya yang sedang bermain di area sawah.
"Iya, Mbak. Aku juga bahagia bisa melihat ke dua anakku hidup bahagia dengan keluarganya," ucap Ratih.
" Andai anakku juga bisa bernasib sama seperti anakmu, tapi nyatanya tidak," ucap Uwa Susi yang raut wajahnya berubah sendu.
"Lho, memang kenapa dengan pernikahan Fika? Bukannya Fika sudah hidup bahagia?"
Fika adalah anak satu-satunya Uwa Susi. setahu Ratih Fika sudah hidup bahagia dengan suaminya.
"Itu hanya awalnya, tetapi kehidupan rumah tangga anakku hancur. Setelah Fika tahu kalau ternyata suaminya berselingkuh. Dan entah apa yang membuat Fika lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya" cerita Uwa Susi.
"Maksudmu...?"
Uwa Susi mengangguk. Ratih menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.
"Iya, Tih. Fika sudah meninggal dua bulan yang lalu setelah memergoki suaminya sedang berselingkuh di rumahnya," cerita Uwa Susi.
"Kenapa kamu tidak mengabariku?" tanya Ratih.
"Sudahlah Tih, itu sudah berlalu. Aku cuma berharap kalau suami dari ke dua putrimu itu akan selalu setia pada istri dan keluarganya" tutur Uwa Susi.
"Amiiin," ucap Ratih.
Bintang, Rangga dan kedua anak kembarnya sudah selesai bermain. Keampat orang itu segera naik ke pematang sawah. Keempatnya segera menghampiri Ratih dan Uwa Susi.
"Ayo, Bu. Kita pulang!" ajak Bintang.
"Iya, Sayang," jawab Ratih.
Mereka semua berjalan meninggalkan sawah tersebut.
******
Mikha dan Tama sudah terlebih dulu membersihkan diri. Setelah mengganti pakaian mereka yang kotor dengan pakaian baru, mereka ke luar rumah untuk sekedar duduk di depan teras.
Sementara Bintang, setelah mandi dan berganti pakaian, dia membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam.
"Mas, tolong kamu awasi anak-anak di depan ya!" seru Bintang kepada suaminya ketika Rangga ke keluar dari kamar.
"Iya, Sayang," jawab Rangga.
Rangga segera menuju ke teras rumah di mana anak-anaknya tadi sedang duduk di sana.
Namun mata Rangga tebelalak saat melihat sesuatu di depannya.
➡️ Tetap berikan like, komen, dan vote kalian ya😁. Author tunggu!