
" Aku tahu,kamukan orang yang sudah menghapus data itu?"
Seketika Alex menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap orang yang berbicara tadi...
"Bintang...", ucap Alex lirih.
" Alex, apa itu benar-benar dirimu? Aku sudah sangat percaya padamu,makanya aku meminta bantuanmu. Tapi ternyata..? Aku sungguh kecewa padamu Alex " kata Bintang.
"Kenapa.. kamu mengira aku yang menghapus data itu? Mak...maksudku untuk apa aku menghapus data itu?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa sampai kamu menghapus data itu? Apa ini ada hubungannya dengan keluargamu?", tanya Bintang dengan menatap Alex tajam.
" Maaf, Bi aku ada jadwal operasi pagi ini. Permisi", jawab Alex yang mencoba menghindar.
"Kamu bisa menghindar kali ini, tapi lihat saja aku pasti akan mendapatkan data itu dengan segera".
Setelah mengatakan itu, Bintang berjalan meninggalkan Alex yang masih diam terpaku di tempatnya.
Alex masuk keruangannya. Dia meletakkan tas kerjanya di atas meja. Cukup lama dia terdiam di sana.
Akhirnya dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Setelah mengambil benda kecil itu, dia segera keluar dari ruangannya dan mengejar Bintang.
^°^°^°^
Bintang yang kala itu sedang menyalin data pasien ke dalam komputer, di buat kaget dengan kedatangan Alex di depannya.
" Ada apa?", tanya Bintang tanpa melihat ke arah Alex,matanya masih fokus menatap ke layar komputer di depannya. Dia masih begitu kecewa dengan suami dari sahabatnya itu.
"Atas nama mamaku,aku minta maaf", ucap Alex yang tiba-tiba berlutut di hadapan Bintang.
Bintang menghentikan jari-jarinya yang sedang mengetik di atas papan keyboard, kemudian dia menatap Alex.
" Apa maksudmu? " tanya Bintang lagi.
"Orang yang melakukan operasi itu adalah mamaku dan bukan Pak Prayoga", jawab Alex.
" Apa???", Bintang begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar,pasalnya Dokter yang bertanggung jawab atas operasi ayahnya adalah Dokter Prayoga.
"Tapi...tanda tangan itu?"
"Pak Prayoga hanya di jadikan kambing hitam pada waktu itu", jelas Alex.
Alex bangkit dari posisi berlututnya dan berjalan menghampiri Bintang.
" Ini adalah detail informasi dari operasi hari itu. Sebelum aku menghapusnya dari komputer rumah sakit,aku sudah terlebih dulu mengcopynya",tutur Alex sambil menyerahkan benda kecil yang ada di tangannya. Benda kecil yang baru saja dia ambil dari dalam tasnya dan benda kecil itu adalah sebuah USB.
"Kamu bisa memeriksa laporan itu lagi. Kamu juga bisa mengajukan tuntutan kepada mamaku", kata Alex.
Alex akhirnya lebih memilih untuk jujur,karena bagaimanapun sebagai seorang dokter, dia harus jujur mengenai kondisi pasiennya.
" Tapi sebagai anak aku juga akan berusaha untuk membela mamaku", lanjut Alex.
Setelah mengatakan hal tersebut Alex pun segera ke luar dari ruang kerja sahabat dari istrinya tersebut. Entah kenapa dia merasa lega setelah mengatakan sumua kebenaran yang sebenarnya ingin dia sembunyikan.
Bintang mengambil USB yang Alex berikan. Dia segera memasangnya untuk melihat rincian laporan di dalamnya.
Setelah memperhatikan laporan itu berkali-kali,Bintang merasa ada kejanggalan di sana.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh ya", batin Bintang.
" Aku akan coba mempejari ini lagi di rumah. Aku tidak mau salah dalam meng-judge seseorang". Bintang menyimpan USB pemberian Alex itu kedalam tas kerjanya. Dia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.
*****
Hari ini, Harry dan Dinda sedang melakukan fiting baju di butik langganan keluarga Wijaya.
Meta, sang designer sekaligus pemilik butik tersebut, dengan sabar menemani sepasang calon pengantin di depannya.
Sudah sejak pagi tadi sepasang calon pengantin itu selalu berdebat. Mulai dari berdebat soal model baju hingga sekarang mereka sedang berdebat soal warna.
"Mas,aku mau kebaya yang di pakai pas akad nanti warnanya putih.Dan gaun untuk resepsinya warnanya peach atau warna merah muda. Itu pilihan yang baguskan?", tanya Dinda pada kekasihnya itu.
"Mas,itu tidak terlalu mencolok,lagian gaunnyakan sudah jadi. Tidak mungkinkan mbak Meta harus membuat dari awal lagi", kata Dinda yang mulai kesal dengan sikap calon suaminya itu.
" Lho...kenapa tidak,dia kan di bayar memang untuk membuat gaun resepsi pernikahan kita ",jawab Harry.
" Mas...kalau kamu tidak suka seharusnya kamu bilang dari awal. Bukannya sudah jadi baru protes. Kalau beginikan kasihan Mbak Meta Mas", protes Dinda.
"Tidak apa-apa kok Mbak. Saya bisa menjahitnya lagi dari awal", Meta menengahi perdebatan keduanya. Meskipun sebenarnya dalam hati dia begitu kesal dengan Harry.
" Untung saja dia anaknya keluarga Wijaya, kalau tidak sudah aku usir dari butikku ini" ,gerutu Meta dalam hati.
"Tidak usah perdulikan dia,Mbak. Kami tetap pakai gaun yang aku pilih dari awal", jawab Dinda.
" Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya Mbak", ucap Meta.
" Tapi Sayang... ", Harry tidak melanjutkan perkataannya,saat melihat kekasihnya itu melotot ke arahnya.
" Iya Mbak Meta,kami memilih yang dari awal calon istri saya pilih saja", kata Harry yang akhirnya mengalah dengan pilihan calon istrinya.
"Ternyata dia bucin juga", batin Meta.
" Baiklah, satu minggu sebelum hari H,saya pastikan semua gaun pesanan kalian sudah jadi", kata Meta dengan senyum terbaiknya setelah tadi dia sempat gedeg dengan laki-laki yang saat ini berdiri di depannya.
" Terimakasih ya Mbak,kami permisi ", pamit Dinda.
Dinda dan Harry segera meninggalkan butik Meta.
*****
Sore itu Bintang pulang lebih awal dari biasanya. Dia berencana mencari kebenaran tentang file yang Alex berikan tadi.Bintang merasa ada sesuatu yang janggal pada laporan tersebut.
Bintang segera naik saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya, mobil tersebut adalah mobil milik suaminya Rangga. Tiga puluh menit sebelumnya, Rangga sudah memberitahu pada istrinya kalau dia akan menjemputnya,karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
" Mas, mau mengatakan apa? Kenapa tidak langsung katakan lewat telpon saja tadi?" tanya Bintang ketika sudah duduk samping suaminya itu.
"Ini adalah hal yang penting jadi aku harus memberitahumu secara langsung" jawab Rangga.
"Apa itu,Mas? Kamu benar-benar membuatku takut" kata Bintang sambil menatap suaminya itu.
"Orang yang menghapus data itu adalah Alex dan dokter yang mengoperasi ayah mu adalah Tante Ema, mamanya" ,Rangga memberitahu istrinya itu.
"Kenapa reaksimu biasa saja? Bukankah kamu menyuruhku untuk membantumu menyelidiki soal itu?" tanya Rangga ketika melihat reaksi istrinya yang biasa saja.
"Aku sudah tahu semuanya. Tadi pagi aku menemui Alex dan menanyakan itu padanya. Awalnya dia diam,tapi kemudian dia menceritakan semuanya", jelas Bintang.
" Kenapa kamu bisa curiga, kalau yang menghapus data itu adalah Alex?" tanya Rangga.
"Aku pernah melihat kakeknya Alex bertemu dengan kepala seksi humas di rumah sakit. Dan saat itu mereka sedang membicarakan soal kasus ini. Jadi aku menyimpulkan kalau Alex lah yang menghapus data itu", jawab Bintang.
" Wah ternyata istriku, sudah sangat cerdas rupanya ",puji Rangga sambil mengacak rambut istrinya itu.
" Mas, kamu mau kan mengantarku?" tanya Bintang.
"Kemana?" Rangga balik tanya.
"Mencari jawaban untuk semuanya, karena aku merasa ada yang janggal dengan laporan itu", jawab Bintang.
" Tentu saja,aku akan menemanimu dengan senang hati ", kata Rangga.
^°^°^°^
Setelah 45 menit perjalanan,akhirnya Rangga menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah besar berwarna biru itu.
" Benar ini rumahnya?" tanya Bintang.
"Iya,menurut orang suruhanku memang inilah rumahnya", jawab Rangga.
Rangga dan Bintang segera turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah berwarna biru tersebut.
Mereka segera menekan bel yang berada di samping kanan pintu rumah itu. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki paruh baya muncul dari balik pintu. Dia merasa heran ketika melihat Rangga dan Bintang berada di depannya.