
Sekarang di ruangan itu tinggal Rangga dan Juan. Juan merasa sangat lega karena masalah Lyvia akhirnya terselesaikan. Namun, tiba-tiba sebuah tinju melayang ke wajahnya.
"Apa-apaan kamu Rangga? Kenapa kamu memukulku?" tanya Juan sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Kamu bilang kenapa? lihat ini!" kata Rangga penuh emosi, dia melemparkan foto yang di berikan Lyvia tadi.
Juan mengambil foto tersebut dan melihatnya.
"Aku tahu itu adalah apartemenmu," kata Rangga sembari berteriak.
"Tunggu-tunggu! Jangan-jangan Bintang adalah istrimu?" tanya Juan.
Rangga hanya diam.
"Rangga, kamu sudah salah paham."
"Salah paham? Kalau begitu jelaskan padaku!" suruh Rangga.
"Sebenarnya tadi pagi Alex yang membawanya, teman-temannya bilang dia dikejar orang jahat. Jadi karena takut orang-orang jahat itu mengejarnya makanya Alex membawanya ke apartemenku. Tapi setelah aku memeriksanya ternyata ada sedikit masalah, makanya aku dan Alex membawanya ke rumah sakit dengan identitas palsu." Juan menjelaskan.
"Saat ini dia juga ada disini, di ruang VIP rumah sakit ini," kata Juan lagi.
Juan dan Rangga segera menuju ruang rawat Bintang. Di luar ruangan itu ada Alex.
"Kak Rangga ada apa?" tanya Alex. Tanpa memperdulikan pertanyaan Alex, Rangga langsung menerobos masuk.
Juan menepuk bahu adiknya. "Bintang adalah istri Rangga," kata Juan.
"Apa?! Kenapa dunia sempit," keluh Alex.
Rangga menghampiri Bintang dan duduk disebelah ranjangnya. Dia menggenggam tangan istrinya tersebut.
"Maafkan aku Sayang, jika saja aku lebih cepat menyelesaikan ini kamu mungkin tidak akan menjadi seperti ini," ucap Rangga.
"Rangga, Bintang baik-baik saja. Dokter Lisa bilang dia hanya sedikit kelelahan," kata Juan.
"Juan, aku minta maaf soal yang tadi. Tidak seharusnya aku memukulmu," ucap Rangga.
"Tidak masalah, aku tahu kamu begitu karena kamu sangat mencintainya," kata Juan.
"Oh ya, Dokter Lisa bilang saat ini istrimu sedang hamil dan usia kandungannya baru 4 minggu. Selamat ya sebentar lagi kamu akan menjadi ayah," ucap Juan, Rangga begitu bahagia mendengar kabar itu.
"Ayo Alex, kita tinggalkan mereka dulu!" ajak Juan pada Alex. Alex dan Juan meninggalkan ruangan itu dan membiarkan mereka berdua.
Tidak lama berselang Bintang siuman. "Dimana ini?" tanya Bintang.
"Sayang, kamu sudah sadar?Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Rangga, Bintang menggeleng.
"Maafkan aku, karena aku kamu jadi seperti ini," ucap Rangga.
"Ini bukan salahmu. Di mana Pak Mun? Dia juga terluka gara-gara ingin menolong aku," kata Bintang.
"Pak Mun sudah baikan, dia juga dirawat di rumah sakit ini," jawab Rangga.
"Ana dan Dewi?" tanya Bintang cemas.
"Mereka tidak apa-apa, katanya nanti sore mereka akan ke sini," jawab Rangga.
"Lalu dua orang itu bagaimana?" tanya Bintang.
"Maksudmu pengawal itu?" tanya Rangga.
Bintang mengangguk.
"Mereka tidak apa-apa," jawab Rangga.
"Tunggu! Akukan belum cerita soal mereka bagaimana kamu bisa tahu tentang mereka?" tanya Bintang penasaran.
"Karena aku yang menyuruh mereka menjagamu," jawab Rangga.
"Jadi kamu sudah tahu kalau Lyvia cuma berpura-pura? Tapi kenapa diam saja?"
"Karena buktiku belum lengkap, makanya aku mengikuti permainan istriku," kata Rangga.
Rangga naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu. Dia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Apa kau tahu hari ini aku sangat bahagia," ucap Rangga.
"Kenapa?" tanya Bintang.
"Karena di sini sudah ada calon anak kita," jawab Rangga sambil mengusap perut istrinya itu.
"Benarkah?" tanya Bintang sambil membalikkan tubuhnya menghadap suaminya itu. Rangga mengangguk. Keduanya tampak bahagia dengan berita kehamilan tersebut.
Perlahan-lahan,Rangga mendekatkan wajahnya mendekati istrinya itu.ketika tinggal beberapa senti bibir mereka menyatu, tiba-tiba...
"Nyonya Bintang saatnya...." Dokter Lisya masuk,dia segera membalikkan tubuhnya.
"Maaf, silakan lanjutkan. Saya akan kembali 30 menit lagi," kata Dokter Lisa kemudian meninggalkan mereka.
wajah Bintang berubah merah karena menahan malu."Semua ini gara-gara kamu. Pasti Dokter itu berpikiran macam-macam tentang kita," kata Bintang. Rangga bangkit dari tempat tidur tersebut, kemudian dia mencium kening istrinya.
"Aku ke luar sebentar ya," pamit Rangga, Bintang mengangguk. Rangga meninggalkan ruang rawat Bintang.