Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 182


"Sepertinya Mommy dan Daddy tidak akan datang," gumam ke duanya kecewa.


Mikha dan Tama mulai naik ke atas panggung bersama beberapa anak yang lain. Mereka mulai menampilkan beberapa tari-tarian tradisional.


Di sela-sela tariannya,Mikha dan Tama masih memperhatikan pintu masuk berharap ke dua orang tua mereka akan datang. Namun lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan karena Daddy dan Mommy mereka belum juga datang. Bahkan saat penampilan mereka sudah selesai mereka masih belum juga melihat keberadaan kedua orang tuanya.


"Kenapa Mommy dan Daddy tidak datang?" tanya Mikha kepada kembarannya Tama.


"Sabar Mikha,mungkin Daddy dan Mommy sedang ada urusan penting," Tama mencoba menghibur saudara kembarnya itu.


Mikha berusaha menahan tangisnya karena saat ini mereka masih berada di atas panggung.


Namun ketika mereka berbalik hendak turun dari panggung, mereka mendapati kedua orang tua mereka sudah berdiri di belakang mereka dengan membawa dua buah kado untuk mereka.


Kedua anak itu segera berlari memeluk kedua orang tuanya.


"Mommy..."


"Daddy..."


"Hei...kenapa anak-anak Mommy menangis?" tanya Bintang sambil menghapus air mata Mikha yang tadi sempat tertahan.


"Sejak kapan Mommy dan Daddy berada di sini?" tanya Tama.


"Tentu saja sejak kedua kesayangan Daddy ini mulai naik ke atas panggung," jawab Rangga sambil menggendong putranya tersebut.


"Mikha mau,Mikha juga mau di gendong sama Daddy," kata Mikha yang iri karena melihat saudara kembarnya itu di gendong oleh daddynya.


"Sini,Mikha juga Daddy gendong," ujar Rangga yang kemudian juga menggendong putrinya itu. Dan kini kedua anak kembar tersebut berada di atas gendongan daddy mereka.


"Tidak ada yang mau kado?" tanya Bintang sambil menunjukkan dua buah kado di tangannya.


"Kalau tidak ada yang mau kadonya Mommy simpan keberdonasi"onya," kata Bintang yang menggoda kedua anaknya.


"Mikha mau Mommy, Mikha mau."


"Tama juga mau."


"Mommy akan berikan kado ini buat kalian asal...." Bintang sengaja menggantung ucapannya untuk kembali menggoda kedua anaknya.


"Asal apa,Mom?" tanya Mikha.


"Iya...asal apa,Mommy?" Tama ikutan bertanya.


"Asal kalian berdua mau mencium Mommy," jawab Bintang.


"Mikha mau kok cium Mommy,"


"Tama juga,"


Kedua anak itu mencium pipi Bintang bersamaan. Kemudian Bintang memberikan kotak kado di tangannya kepada kedua anak kembarnya itu.


Dengan senang hati kedua bocah kembar itu menerima kado pemberian mommynya.


"Kenapa Mommy sedih?" tanya Mikha saat melihat Bintang memasang wajah sedihnya.


"Ternyata...anak-anak Mommy hanya menyukai kado Mommy," jawab Bintang yang kembali berpura-pura memasang wajah sedihnya.


"Tidak Mommy... kami sangat menyayangi Mommy, meski Mommy tidak memberi kami kado," kata Tama


"Iya..Mikha juga," imbuh Mikha.


Kedua anak itu kembali mencium pipi Mommy nya.


"Mommy tahu kok,Sayang. Mommy hanya bercanda tadi," kata Bintang dengan memberikan senyum terbaiknya.


"Ekhem..," salah seorang guru sengaja mengeraskan suara dehemannya. Dia adalah wali kelas Mikha dan Tama.


"Maafkan kami," ucap Bintang kepada guru tersebut.


"Tuan Wijaya, Nyonya Wijaya... silahkan kalian bisa duduk di tempat yang telah di sediakan," ucap guru tersebut.


"Iya, Miss..kami akan duduk," jawab Bintang sopan.


"E...maaf Tuan Wijaya, bisakah Anda memberikan sedikit sambutan di acara ini? Siapa tahu dengan sambutan yang Anda berikan akan banyak donasi yang terkumpul," pinta guru yang di panggil miss tersebut.


"Donasi? Untuk apa mengumpulkan donasi?" tanya Rangga.


"Kami ingin memberikan pendidikan gratis kepada beberapa anak di sekitar sekolah ini,jadi kami memerlukan biaya tambahan juga," jelas guru tersebut.


"Baiklah..jika itu bisa sedikit membantu. Sekalian aku juga akan ikut berdonasi," jawab Rangga.


"Terimakasih sebelumnya Tuan Wijaya," ucap guru itu lagi.


Rangga menurunkan kedua anaknya dari gendongannya.


"Sayang, kalian ikut Mommy ke sana dulu ya," seru Rangga kepada kedua anaknya.


Bintang membawa kedua anaknya untuk duduk di bangku yang telah di sediakan. Sementara Rangga,dia naik ke atas panggung untuk memberi sedikit sambutan dan ikut memberikan donasi untuk sekolah tersebut.


Setelah selesai memberikan sambutan,Rangga bergabung dengan istri dan kedua anaknya.


*****


Sementara itu,melihat keadaan Ester yang masih belum membaik,Sigit membawanya pulang ke rumahnya.


"Lho,sopo kuwi Le?" tanya Mbok Inah yang melihat anaknya pulang bersama seorang wanita.


( Lho,siapa itu,Nak )


Kebetulan Mbok Inah dan Rini masih berada di Jakarta di rumah dinas Sigit.


"Rencang,Bu", jawab Sigit.


( Teman,Bu )


" Bukannya dia wanita yang waktu itu hadir di pernikahannya Mbak Dinda ya?" tanya Rini saat tahu kalau wanita yang di bawa kakaknya pulang adalah wanita yang sama yang mereka lihat di pernikahan Dinda dan Harry.


"Iya, namanya Ester," jawab Sigit seraya mengenalkan Ester kepada ibu dan adik perempuannya tersebut.


"Hallo Kak Ester,kenalkan aku Rini adiknya Mas Sigit," sapa Rini seraya memperkenalkan diri.Rini mengulurkan tangannya.


"Ester," jawab Ester yang masih merasa canggung. Dia membalas uluran tangan dari adik perempuan Sigit.


"Ester,kenalkan ini ibuku," Sigit memperkenalkan ibunya.


"Ester," kata Ester sambil menjabat tangan wanita paruh baya di depannya.


"Ayu tenan kowe,Nduk," puji Mbok Inah.


( Cantik sekali kamu,Nak )


Ester menatap Sigit karena tidak paham dengan apa yang di katakan oleh ibu dari Sigit.


"Ibu,bilang kamu cantik" kata Sigit.


"Terimakasih, Bu. Ibu juga cantik," Ester memuji balik ibu Sigit.


"Bu,bolehkah untuk sementara waktu Ester tinggal di sini?" tanya Sigit hati-hati. Dia tidak mau ibunya berpikiran yang tidak-tidak terhadap Ester dan dirnya.


"Dia sedang ada sedikit masalah dengan keluarganya," jelas Sigit.


Mbok Inah memperhatikan Ester dari bawah hingga atas.


"Iya...dia boleh tinggal bersamamu untuk sementara waktu di sini. Nanti biar dia tidur bersama adikmu,Rini" tutur Mbok Inah.


"Terimakasih ya Bu," ucap Sigit sambil menggenggam tangan ibunya.


"Terimakasih," ucap Ester kepada Mbok Inah.


"Sama-sama, Nak" balas Mbok Inah.


"Rin, ayo ajak Ndok ayu iku ke kamar mu," suruh Mbok Inah kepada anak perempuannya.


"Nggeh,Bu" jawab Rini.


( iya,Bu )


"Ayo Mbak ikut Rini ke kamar!" ajak Rini.


Rini mengajak Ester masuk ke dalam kamarnya.


Rini mengambil baju dan handuk miliknya dari dalam lemari.


"Mbak Ester silahkan mandi dulu. Mbak bisa pakai baju milikku," kata Rini.


"Ini,Mbak. Silahkan Mbak mandi terlebih dulu. Aku tinggal ke luar dulu ya Mbak."


Setelah mengatakan itu,Rini ke luar dari kamarnya.


Ester menghela napasnya berat,dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau papanya bisa berbuat setega itu kepada dirinya.


"Mungkin aku bisa sedikit merasa tenang setelah mandi," gumam Ester.


Ester masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Satu persatu dia mulai menanggalkan pakaiannya. Ester mulai berendam di dalam bath up yang ada di kamar mandi itu.


"Rasanya hatiku sedikit tenang," Ester berbicara di dalam hati. Namun sedetik kemudian dia berteriak.


"Aaaaaaaaaa,"


# Jangan lupa like,komen dan votenya ya.