
Mia mengambil sebuah amplop yang ada di dalamnya. Mia kembali membuka amplop tersebut, rasa-rasanya dia masih tidak percaya dengan tulisan yang tertera di dalamnya.
"Kenapa harus aku yang mengalami ini?" batin Mia. Tanpa terasa air matanya mengalir hingga jatuh di atas kertas tersebut.
Mia langsung menghapus air matanya ketika mendengar menantunya mengetuk pintu.
"Masuklah!" seru Mia setelah memasukkan amplop yang dia pegang ke dalam laci. Namun karena terburu-buru ujung dari amplop itu terselip.
"Ma, Dinda mau pergi membeli keperluan di dapur. Apa Mama mau pesan sesuatu?" tanya Dinda.
"Tidak, Nak. Tidak ada yang Mama butuhkan," jawab Mia.
"Kalau begitu Dinda pamit ya, kalau ada yang Mama inginkan tiba-tiba, Mama bisa telpon Dinda," tutur Dinda.
"Iya, Nak."
"Itu apa, Ma?" tanya Dinda ketika matanya menangkap sesuatu yang terselip di laci.
"Hanya laporan bulanan yang tidak penting," jawab Mia yang kembali memasukkan amplop terselip tadi hingga seluruh bagian amplop itu tidak terlihat.
"Dinda pergi ya Ma," pamit Dinda.
"Iya, Nak. Hati-hati," jawab Mia sembari tersenyum.
Dinda kembali menutup pintu kamar mertuanya.
"Tadi seperti laporan hasil kesehatan? Apa mungkin aku salah lihat ya," batin Dinda.
Namun Dinda segera menepis pikiran-pikiran buruknya. Dia kembali fokus dengan barang-barang yang akan dia beli nanti. Dinda segera berjalan ke luar rumah dan meminta Pak Mun untuk mengantarnya ke super market. Dengan menggunakan mobil sport berwarna merah, Pak Mun mengantarkan nyonya mudanya ke tempat yang di tuju.
*****
Mobil sport berwarna merah itu, memasuki halaman parkir sebuah super market besar di kota tersebut. Dinda segera turun dari mobil ketika mobil tersebut sudah berhenti.
Dinda mulai berjalan memasuki super market terbesar tersebut. Setelah mengambil troli, Dinda mulai mencari barang yang dia butuhkan dengan sesekali melihat ke arah catatan yang dia bawa.
Namun langkahnya terhenti ketika troli yang dia dorong menabrak seseorang.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja!" ucap Dinda kepada orang yang dia tabrak.
"Mbak Dinda," panggil orang itu.
"Rini!?! Kamu masih di sini? Aku kira setelah pernikahanku, kamu dan Mbok Inah langsung pulang ke desa," jawab Dinda yang mengenali orang yang dia tabrak.
Ya, dia adalah Rini anak dari mbok Inah, adik dari Sigit.
"Iya, Mbak. Tadinya sih begitu, tapi..."
Belum sempat Rini menyelesaikan kalimatnya, seseorang sudah memanggilnya.
"Rin, kita mau belanja apa lagi?" tanya orang itu tanpa melihat ke arah Dinda. Karena kebetulan posisi Dinda sedikit tertutup oleh tubuh Rini.
"Ester," panggil Dinda yang mengenali orang yang memanggil Rini itu adalah Ester.
"Kamu istri dari saudara kembarnya Rangga-kan?"
"Iya. Ohya kita belum kenalan secara langsung selama ini. Kenalkan aku Dinda," Jawab Dinda seraya mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
"Aku yakin kamu pasti sudah mengenalku. Karena aku dan papa sempat membuat masalah di pesta pernikahan kalian. Tolong, maafkan perbuatanku dan papaku waktu itu. Aku sungguh malu bila mengingat hari itu," ujar Ester. Dia membalas uluran tangan Dinda.
"Sudah lupakan saja, toh semuanya tetap berjalan lanjarkan?"
"Iya, sih. Tapi tetap saja rasanya malu," kata Ester sekali lagi.
"Ohya kalian ke sini berdua?" tanya Dinda kepada Ester dan juga Rini.
"Tidak Mbak, sama ibu juga," jawab Rini.
"Dimana Simbok?" tanya Dinda sumringah. Dia benar-benar sangat merindukan wanita paruh baya itu.
"Itu dia ibu," tunjuk Rini kepada wanita paruh baya yang berjalan mendekat ke arah mereka
"Simbok," panggil Dinda seraya memeluk wanita itu.
"Simbok kangen karo kowe cah ayu," ucap Mbok Inah seraya membalas pelukan Dinda.
"Dinda juga kangen sama Simbok,"
"Gimana Sayang wes kasil durung?" tanya Simbok sambil meraba perut Dinda yang masih datar.
"Dinda belum tahu Mbok, kan belum sebulan," jawab Dinda.
"Priye kabar mertua lan bojomu? Kewarasan kabeh?" tanya Mbok Inah lagi.
( Bagaimana kabar mertua dan suamimu? Sehat semuanya?)
"Alhamdulillah sehat Mbok," jawab Dinda lagi.
"Ohya kenapa kalian bisa pergi bertiga? Memang Ester tidak kerja?" tanya Dinda seraya menatap mereka satu per satu.
"Ester saiki wes dadi mantuku, Din," jelas Mbok Inah
(Ester sekarang sudah jadi menantuku, Din?)
Dinda terkejut sekaligus senang mendengarnya.
"Kapan Mbok, Mas Sigit nikahan? Kok aku gak di kabarin sih?" tanya Dinda.
"Acaranya dadakan Mbak. Aku dan ibu saja belum siap waktu itu," kini giliran Rini yang memberikan jawaban.
"Kok bisa? Tapi aku ucapkan selamat ya Ester untuk pernikahanmu dan Mas Sigit," ucap Dinda yang kembali mengulurkan tangannya.
"Terimakasih, Din," jawab Ester seraya membalas uluran tangan dari Dinda.
"Kita cari tempat duduk dulu yuk Mbak, buat ngobrol!" ajak Rini.
"Baik, aku bayar dulu belanjaanku. Setelah itu kita cari tempat ngobrol di dekat sini," jawab Dinda.
Mereka segera menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Usai membayar, mereka segera ke coffe shop untuk melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
*****
Malam harinya di desa...
Bintang dengan di bantu oleh Ratih dan Uwa Susi mulai mengepak oleh-oleh yang akan mereka bawa. Mereka mulai memasukkan barang-barang tersebut ke dalam koper.
"Besok kalian berangkat jam berapa?" tanya Uwa Susi.
"Sekitar jam 8, Wa," jawab Bintang.
"Maaf ya! Uwa, tidak bisa memberimu hadiah apa-apa," ucap Uwa Susi.
"Tidak apa-apa, Wa. Seharusnya aku yang minta maaf sama Uwa. Karena Aku dan anak-anak juga sudah merepotkan Uwa Susi selama berada di sini," ucap Bintang.
"Tidak usah sungkan seperti itu, kita ini kan keluarga," balas Uwa Susi.
*****
"Sayang," panggil Bintang kepada suaminya ketika mereka berada di dalam kamar.
"He'em," jawab Rangga yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptopnya.
Saat ini Bintang sedang berdiri di dekat jendela sambil menatap langit.
"Besok kita akan kembali ke kota, rasanya begitu berat harus meninggalkan desa tempat aku di lahirkan," ucap Bintang dengan menatap lurus ke depan jendela.
Rangga mematikan laptop di pangkuannya dan meletakkannya di atas nakas. Dia berjalan mendekati istrinya kemudian memeluknya dari belakang.
"Sayang, ketika rumah sakit itu sadah selesai di bangun. Kita bisa selamanya tinggal di sini, jika kamu mau," ucap Rangga sembari memberikan kecupan kecil di curuk leher istrinya.
"Lalu bagaimana dengan perusahaanmu, Mas?" tanya Bintang.
"Aku bisa menghandlenya dari sini jika kamu mau," jawab Rangga santai.
"Bukankah di sana masih ada Nando, aku rasa dia masih bisa di andalkan. Jangan khawatirkan tentang perusahaan karena dimanapun aku berada aku tetap bisa menjalankan usahaku dengan baik," tambah Rangga panjang lebar.
"Aku percaya," jawab Bintang seraya berbalik menghadap suaminya. Bintang mengalungkan kedua tangannya di leher Rangga.
"Apa kamu masih ingat dengan oleh-oleh yang di minta oleh mama?" bisik Rangga di telinga Bintang.
Bintang mengangguk.
"Kita akan membuatnya sekarang," kata Rangga lagi.
Rangga menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur. Malam itu mereka melakukan kegiatan untuk mendapatkan oleh-oleh yang di minta oleh mama mereka.