Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 186


Dengan perasaan kesal Bintang kembali ke kamarnya lagi. Namun baru saja dia masuk tiba-tiba..


" Aaaaaa"


Bintang meronta ketika tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dan membuat air yang ada di dalam gelas yang dia pegang itu tumpah.Hampir saja dia melempar gelas kosong yang ada di tangannya. Untungnya orang itu sudah bersuara sebelum dia sempat melemparnya.


"Ini aku,Sayang," kata Rangga.


Ya,siapa lagi orang yang berani memeluk Bintang tanpa ijin selain suaminya,Rangga.


"Mas,Rangga! Apa-apaan sih Mas,bikin aku kaget saja," kata sambil mengelus dadanya karena terkejut.


Rangga mengambil gelas kosong yang ada di tangan istrinya dan meletakkannya di atas nakas yang tidak jauh dari jangkauannya.


"Mas..," Bintang menahan tangan suaminya yang mulai menyusup ke dalam baju yang dia kenakan.


"Kenapa? Bukankah kamu juga menginginkannya?" bisik Rangga dengan tangan yang terus bergerilya di dalam sana.


Belum sempat Bintang menjawab pertanyaaan suaminya,Rangga sudah membungkam mulut istrinya itu dengan ciuman. Mereka saling mengabsen apa yang ada di dalamnya. Rangga tersenyum saat istrinya itu mulai menikmati permainannya.


"Kenapa Mas?" tanya Bintang kepada suaminya.


Rangga sengaja melepaskan pagutan terhadap bibir mungil sang istri,ketika istrinya itu mulai terbawa permainan bibirnya.


"Kamu tidak menginginkannyakan? Jadi ya sudah kita akhiri di sini saja sebelum aku kebablasan," jawab Rangga yang sengaja ingin menggoda sang istri.


"Benar, Mas tidak mau melakukan hal yang lain?" tanya Bintang sambil mengalungkan tangannya di leher Rangga. Dia juga sengaja menggoda suaminya itu.


Bintang mulai menyentuh wajah suaminya itu dengan jari telunjuknya. Bahkan dia sengaja mengusap bibir suaminya dengan sangat lembut dan lama.


" Baiklah, kalau Mas tidak mau lebih baik sekarang kita tidur saja," Bintang sengaja melepaskan tangan yang tadi dia kalungkan di leher Rangga. Dia berjalan mendahului suaminya menuju ke tempat tidur.


Namun dengan cepat Rangga menarik tangan istrinya dan menariknya kembali ke dalam pelukannya.


"Kamu benar-benar licik,Sayang" Rangga kembali berbisik di telinga istrinya itu.


"Aku hanya licik terhadapmu," jawab Bintang


Sepasang suami istri itu kembali menyatukan bibir mereka dengan tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Malam semakin larut dan juga semakin dingin. Tapi tidak untuk sepasang suami istri yang sedang melakukan adegan panasnya di dalam kamar. Entah berapa kali mereka melakukannya,yang jelas mereka baru berhenti setelah keduanya sama-sama terkapar dan tidak memiliki tenaga lagi. Mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan dan tanpa busana.


*****


Pagi harinya di rumah Sigit..


Sigit,Mbok Inah dan Rini sudah duduk di meja makan. Mereka belum memulai sarapan mereka karena menunggu Ester yang saat itu sedang bersiap-siap di dalam kamarnya Rini.


"Rin,Ester mana? Apa dia belum bangun?" tanya Sigit kepada adiknya,Rini.


"Sudah kok ,Mas. Waktu Rini tinggal ke sini,Mbak Rini sudah selesai mandi.Mungkin sekarang dia lagi dandan," jawab Rini.


"Maaf ya lama," ucap Ester yang baru datang,dia duduk di sebelah Rini.


"Nak Ester,bukannya simbok melarang kamu tinggal di sini. Tapi rasanya kok ga pantes anak gadis tinggal di rumah laki-laki yang bukan muhrimnya," kata Mbok Inah berterus terang.


Mbok Inah tidak mau ada tetangga di sekitar tempat tinggal anaknya,yang nantinya berpikiran buruk tentangnya.


"Buuu," tukas Sigit.


"Maafkan saya,Bu. Saya janji hari juga saya akan pergi dari sini," jawab Ester yang merasa tersinggung dengan ucapan wanita paruh baya yang duduk di depannya.


Dia bangkit dari tempat duduknya dan kembali masuk ke kamar Rini untuk mengambil baju yang dia pakai semalam.


"Ibu,kenapa ibu harus berkata seperti itu pada Ester. Saat ini dia sedang ada masalah dengan keluarganya," kata Sigit.


"Mas..jangan membentak ibu! Mas kan bisa bicara baik-baik sama ibu," protes Rini terhadap sikap kakak laki-lakinya.


"Ibu yang tidak bisa berbicara baik-baik terhadap Ester. Kenapa waktu di desa ibu membolehkan Dinda tinggal di sana? Dimana ibu yang dulu pengertian dan baik hati?" kata Sigit yang ikut beranjak dari tempat duduknya. Sigit mengikuti Ester masuk ke kamar Rini.


"Ibu cuma gak kepingin mas mu itu di cap laki-laki yang tidak baik oleh tetangga," jawab Mbok Inah.


"Maksud ibu?" tanya Rini.


Mbok Inah mulai menceritakan kejadian saat tadi pagi dirinya berbelanja. Waktu itu Mbok Inah sedang berbelanja di pedagang sayur keliling yang berhenti tepat di depan rumah anaknya tersebut.


Kebetulan banyak ibu-ibu lain yang juga sedang berbelanja. Awalnya mereka hanya berbicara hal-hal ringan saja,namun tiba-tiba ada seorang ibu yang bertanya tentang gadis yang semalam ada di depan rumah bersama Sigit. Ibu itu mengatakan kalau Sigit pasti pemuda yang tidak benar karena telah membawa seorang gadis menginap di rumahnya.Bahkan saat Mbok Inah berusaha membela putranya,dia semakin di ejek oleh ibu yang satunya lagi dengan mengatakan kalau itu wajar di kalangan pengusaha.


"Sigitkan calon pengusaha jadi wajar dong kalau dia mulai mengikuti gaya hidup bosnya", kata salah seorang ibu yang sedang membeli sayur.


Karena merasa tidak nyaman Mbok Inah tidak jadi berbelanja dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Sudahlah,Bu. Jangan di anggap omongan orang-orang itu. Toh yang tahu Mas Sigit baik atau tidak kan cuma kita dan bukan orang-orang itu," ujar Rini yang berusaha menenangkan hati ibunya.


Ester yang tadinya merasa tersinggung dengan ucapan Mbok Inah,kini merasa tidak enak hati terhadap wanita paruh baya itu. Dia yang tadinya ingin berpamitan,tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu.


"Mbak Ester..," panggil Rini.


Mbok Inah berjalan mengahampiri Ester, "Maafin ibu,yo Ndok. Bukan maksud ibu menyinggung perasaan Nak Ester" ucap Mbok Inah kepada Ester.


"Ester,yang harusnya minta maaf sama ibu. Gara-gara Ester,Sigit jadi bahan gunjingan tetaangga. Maafin Ester ya,Bu" ucap Ester.


Mbok Inah tidak menagatakan apapun lagi,dia hanya memeluk gadis yang berdiri di depannya.


Mbok Inah kembali membawa Ester untuk duduk di meja makan.


"Sudah,sarapan dulu. Nanti kamu bisa berangkat kerja bareng Sigit. Dan soal yang tadi,kamu masih tetap bisa tinggal di sini sampai masalah dengan keluargamu selesai," ucap Mbok Inah kepada Ester.


"Terimakasih," ucap Ester.


"Sampai kapan kowe arep ngadek nang kono,Le?" tanya Mbok Inah kepada anaknya Sigit.


( Sampai kapan kamu akan berdiri di situ,Le? )


Sigit yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka pun kembali duduk. Mereka segera melanjutkan sarapan mereka.


*****


Pagi itu Bintang dan kedua anaknya mengantar Rangga ke bandara. Kali ini Rangga tidak menggunakan penerbangan komersial untuk pergi ke Jepang. Dia memilih menggunakan pesawat pribadi miliknya.


"Sayang,aku pergi ya," pamit Rangga kepada sang istri.


"Jangan lama-lama lho Mas,selesaikan pekerjaanmu dengan cepat. Aku sudah ingin pergi ke desa bersamamu," tutur Bintang.


"Daddy,jangan lupa oleh-oleh untuk Mikha ya?" kata Mikha.


"Tama juga mau oleh-oleh Daddy," imbuh Tama.


"Iya,Sayang. Daddy akan bawakan oleh-oleh yang banyak untuk kalian," jawab Rangga sambil mengusap kepala ke dua anak kembarnya.


"Daddy berangkat dulu ya,dadah Sayang," pamit Rangga sekali lagi. Rangga berjalan menuju pintu yang mengarah ke pesawat pribadinya. Namun selang beberapa menit,Rangga kembali lagi.


"Ada apa Mas?" tanya Bintang.


"Ada sesuatu yang tertinggal," jawab Rangga.


"Bukannya Mas,sudah mempersiapkan semuanya semalam"


"Iya...tapi masih ada yang tertinggal," jawab Rangga.


Bintang menajamkan alisnya menatap suaminya. Dia tidak mengerti barang apa yang tertinggal.


##Kira-kira apa ya yang tertinggal 🤔🤔🤔?


Jangan lupa,like,komen dan vote sebanyak-banyaknya ya...aku tunggu!😇