
Wanita yang baru keluar dari kamar Juan segera menemui temannya yang sudah menunggunya di lobi hotel.
"Kamu bener-bener ya. Kenapa sih kamu nggak mau nemuin dia? Padahalkan kamu sudah semalaman jagain dia?" tanya wanita itu pada temannya.
"Dia baik-baik sajakan, Dev?" Nama wanita itu adalah Devi.
"Iya, dia baik. Tapi, tadi dia sempat melukku karena ngira aku ini kamu," jawab Devi.
"Syukurlah, kalau dia baik-baik saja."
"Tapi Tari, kenapa sih kamu nggak nemuin dia aja?" tanya Devi kepada temannya yang tak lain adalah Mentari. Orang yang semalam membawa Juan ke hotel adalah Mentari. Dia juga yang semalaman menjaganya. Namun, saat Juan mulai sadar, Mentari langsung keluar dari kamar Juan dan menyuruh temannya Devi untuk menggantikannya.
"Aku udah nggak pantes lagi buat dia, Dev. Aku ini kotor," jawab Mentari dengan wajah muram.
"Tari, dengerin aku! Kalau dia beneran cinta sama kamu, aku yakin, dia akan nerimakamu apa adanya."
"Terus menurut kamu, Bos Roy akan nglepasin aku gitu aja?" tanya Mentari. Devi terdiam. Mentari banar, dia adalah aset di tempat hiburan ini, mana mungkin Bos Roy mau melepaskannya begitu saja. Bos Roy adalah pemilik tempat hiburan malam tersebut dan dia adalah orang yang membeli Mentari dari Iwan.
"Tapi sampai kapan kamu akan tetap di sini Tari? Kamu itu punya keluarga. Kamu punya ibu dan adik yang pasti akan sangat sedih melihat keadaan kamu saat ini," kata Devi.
"Mereka tidak tahu aku di sini. Yang mereka tahu, aku hidup bshagia di luar negeri bersama Iwan," jawab Mentari dengan wajah sendunya.
"Sabar ya, Tar. Aku yakin suatu saat kamu akan bisa keluar dari lingkaran setan ini." Devi menepuk bahu temannya itu.
"Bukan hanya aku, tapi kita berdua suatu saat pasti akan bisa keluar dari sini," sahut Mentari.
"Kalau aku keluar, aku malah tidak tahu harus kemana. Berbeda dengan dirimu yang masih memiliki keluarga. Aku yatim piatu, Tari. Jadi, tempat ini memang cocok untukku." Devi tersenyum miris.
"Aku yakin, suatu saat kamu juga akan bertemu demgan orang yang jatuh cinta kepadamu dan bisa menerima kamu apa adanya."
"Semoga," jawab Devi. "Kita pulang yuk! Jangan sampai Bos tahu kalau semalam kita nggak melayani tamu!"
"Ayo!"
Namun, saat mereka berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu, ada orang yang menghalangi mereka. Mentari terkejut saat tahu orang yang berdiri tepat di hadapannya adalah Juan.
"Ju-Ju-Juan."
"Tari, seleseikan masalah kamu dulu. Aku balik duluan ya," pamit Devi. Kemudian dia berjalan meninggalkan mereka.
Beberapa menit sebelumnya....
Setelah Devi keluar dari kamar Juan, Juan masih yakin kalau wanita yang dia lihat sebelum dia pingsan adalah Mentari. Karena itulah untuk menjawab rasa penasarannya dia mengikuti Devi. Saat melihat Devi bertemu seseorang, Juan terkejut sekaligus bahagia karena orang yang selama ini dia cari ada di depan mata. Saat melihat meraka akan pergi, dia langsung menghadangnya.
Juan langsung menarik Mentari ke dalam pelukannya.
"Akhirnya aku menemukanmu Tari. Aku sangat merindukanmu. Jangan menghilang kagi! Jagan pergi dariku lagi!" kata Juan. Mentari berusaha melepaskan pelukan Juan.
"Juan, aku tidak pantas untukmu. Aku kotor."
"Tidak Tari. Bagaimana pun dirimu sekarang aku akan selalu mencintaimu," kata Juan sambil memegang kedua bahu Mentari.
"Tidak Juan. Kamu pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku."
Mentari melepaskan tangan Juan dari bahunya.
"Aku yang tidak pantas untukmu. Karena akulah yang menyebabkanmu jadi seperti ini." Juan menatap mata Mentari.
"Aku tahu, kamu menerima lamaran dari Iwan karena taruhanku itu kan? Meskipun aku tahu kamu marah, aku malah tidak mengejarmu dan membiarkanmu pulang ke Indonesia."
"Itu tidak benar Juan, aku menerima lamaran itu bukan karena kamu. Itu keputusanku sendiri, jadi jangan pernah kamu menganggap segala hal yang terjadi padaku adalah kesalahanmu. Itu semua terjadi, karena memang sudah jalannya harus begitu. Jadi, jangan pernah salahkan dirimu!"
"Tapi seenggaknya, jika waktu itu aku tidak melakukan taruhan itu. Kamu tidak akan menerima lamaran dari Iwan. Dan hal ini tidak akan terjadi padamu," jawab Juan. "Tari, aku mohon padamu, jangan pergi lagi! Aku sangat mencintaimu .Aku tidak perduli dengan dirimu yang sekarang, aku hanya ingin terus bersamamu." Juan menggenggam tangan Mentari.
Mentari tidak bisa mengatakan apapun karena sejujurnya dia juga masih sangat mencintai Juan. Juan kembali menarik Mentari kedalam dekapannya. Mentari hanya bisa menangis, satu sisi dia sangat bahagia tapi disisi lain dia takut kalau Juan akan mendapatkan masalah karena dirinya.
Juan membawa Mentari masuk kembali ke kamarnya.
Mentari hanya bisa mengangguk.
"Setelah urusan dengan Bosmu selesei, kita temui Bintang. Kasihan dia, selama ini dia juga mengkhawatirkanmu," kata Juan lagi.
"Apa Bintang sudah tahu keadaanku?" tanya Mentari.
"Iya" jawab Juan.
"Lalu ibuku?" tanyanya lagi.
"Aku rasa Bintang tidak mengatakan apa pun kepada ibumu," jawab Juan. Mentari lega mendengarnya,setidaknya untuk saat ini ibunya tidak boleh tahu apa yang terjadi padanya.
"Ohya, Bintang sudah menikah. Dan saat ini dia juga sedang mengandung," kata Juan memberitahu.
"Menikah? Dengan siapa? Bukankah Bintang ingin menjadi seorang dokter? Lalu kenapa dia menikah?" tanya Mentari ingin tahu.
"Aku juga tidak tahu cerita awalnya, tapi memang dia sudah menikah. Dan soal keinginannya menjadi dokter, saat ini Bintang juga sedang kuliah di Universitas ternama." jawab Juan.
"Suaminya? Siapa suaminya?" tanya Mentari.
"Kamu kenal dengannya." Lagi-lagi Mentari menatap Juan.
"Adikmu itu menikah dengan Rangga, temen kita waktu kuliah dulu,"jawab Juan.
"Kok bisa? Bukannya Rangga cinta mati ya sama Lyvia?Bahkan saat tahu Lyvia berselingkuh dia seperti mayat hidup yang membenci semua wanita," ucap Mentari lagi.
"Karena setahunya dulu Rangga begitu mencintai Lyvia, bahkan dulu Rangga sering mengabaikan omongan teman-temannya soal Lyvia. Sejak kuliah Lyvia sering berpacaran dengan cowok lain di belakangnya."
"Itulah takdir. Akhirnya cewek yang berhasil menaklukan hatinya adalah Bintang. Adikmu yang ceroboh dan sedikit tomboy itu," jawab Juan.
Setelah selesai mandi, Juan meminta Mentari membawanya menemui Bosnya Roy Harmoko. Meskipun takut, Mentari tetap membawa Juan menemui Bos besarnya tersebut.
"Ada apa?" tanya Roy dengan wajah seramnya.
"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri. Kenalkan namaku Juan Rahardian, Dokter specialis penyakit dalam. Aku kesini untuk membawa Mentari keluar dari tempat ini," jawab Juan. Roy menatap mereka bergantian.
"Kau tahukan kalau dulu aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelinya. Jadi, jika kau mau membawanya, kamu juga harus memberiku uang sebagai ganti rugi. Karena jujur saja, Mentari ini adalah primadona di tempat ini," kata Roy.
"Berapa uang yang kamu minta?" tanya Juan lagi.
"1 milyar," jawab Roy.
"Bos, bukankah kau membeliku dari iwan cuma 10 juta? kenapa kau meminta 1 milyar darinya? Itu tidak adil Bos, selain itu setiap malam aku juga sudah memberimu banyak uang. Kau hanya memberiku 1 juta dari 50jt yang meraka bayar." kata Mentari.
Juan menarik tangan Mentari dan menyuruhnya diam.
"Aku setuju. Aku akan siapkan uangnya sekarang juga," kata Juan. Mentari menatapnya.
"Tidak Juan, ini pemerasan namanya." kata Mentari.
"Tari, bagiku uang segitu tidak ada artinya di banding dengan dirimu," kata Juan lagi.
Setelah memberikan uang 1 milyar kepada Roy, Juan membawa Mentari keluar dari tempat hiburan malam tersebut.
Juan menelpon Rangga untuk membawa Bintang bertemu dengannya di restoran. Juan ingin memberikan kejutan tidak hanya pada Bintang, tapi juga Mentari.
Setelah 30 menit menunggu, akhirnya Rangga dan Bintang tiba di restoran tempat mereka janjian untuk bertemu. Kebetulan saat mereka tiba Mentari masih berada di toilet.
"Ada apa sih Juan? Kenapa tiba-tiba kamu ngajak ketemu disini?" tanya Rangga.
"Iya, Kak, apa Kakak sudah menemukan Kak Mentari?" tanya Bintang tidak sabaran.
"Maaf ya, aku terlalu lama di toilet," ucap seseorang dari belakang Bintang. Bintang merasa tidak percaya dengan suara yang baru saja dia dengar. Perlahan Bintang melihat ke arah sumber suara tersebut. Dia terkejut sekaligus bahagia saat melihat Mentari.
Tidak hanya Bintang, tapi Mentari juga merasakan hal yang sama. Dua kakak beradik itu akhirnya berpelukan sambil menangis.