
Widya datang ketempat Lyvia dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba marah?" tanya Widya pada sang putri.
"Mi, wanita sialan itu terang-terangan melawan kita. Dia bahkan dengan sengaja menantangku, aku tidak bisa terima Mi.Aku harus memberinya pelajaran," Kata Lyvia penuh emosi.
"Maksudmu siapa?" tanya Widya.
"Siapa lagi kalau bukan Bintang," ucap Lyvia.
#Flashback on...
Beberapa bulan sebelumnya. "Kita benar-benar sial, kamu meninggalkan Rangga untuk hidup lebih nyaman.Tapi malah sekarang kita luntang-lantung nggak jelas.Kita bisa kembali kesinipun atas belas kasihan orang. Benar-benar sial" gerutu Widya.
"Kalau aku tahu Hans akan bangkrut, aku juga tidak sudi menikah dengan dia," kata Lyvia. Mereka berjalan kaki menyusuri trotoar.
"Kenapa kamu tidak kembali lagi dengan Rangga, Mami dengar perusahaannya maju pesat. Cabangnya juga dimana-mana," kata Widya pada putrinya.
"Apa menurut Mami Rangga masih mau menerimaku?" tanya Lyvia.
"Mungkin saja, dia itu kan sangat mencintaimu. Dulu saja dia rela menentang keluarga besarnya demi dirimu," jawab Widya optimis.
"Aku akan coba menemuinya besok," kata Lyvia.
Keesokan harinya, Lyvia dan Widya datang ke rumah keluarga Wijaya. Tapi meraka terkejut saat melihat ada wanita asing yang tinggal di rumah itu. Bahkan para pelayan di rumah itu memanggilnya nyonya muda.
Awalnya mereka menyerah, tapi saat tahu Rangga menyembunyikan status pernikahannya, mereka yakin masih ada kesempatan.
Dan kebetulan tanpa sengaja mereka melihat Dokter Danu, Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus direktur utama rumah sakit ternama di kota tersebut sedang berada di sebuah hotel bersama dengan seorang perempuan. Dan timbulah ide licik untuk menjebak Danu.
Setelah berhasil memperoleh sesuatu yang mereka butuhkan, mereka menemui Dokter Danu di rumah sakit miliknya.
"Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba kalian ingin bertemu denganku?" tanya Danu yang memang tidak pernah mengenal mereka berdua.
Lyvia hanya meletakkan sebuah amplop
coklat di depan Dokter Danu.
"Apa ini?" tanyanya.
"Bukalah" suruh Lyvia.
"Apa mau kalian?" tanya Dokter Danu.
"Kerjasama. Aku ingin anda bekerjasama dengan kami," jawab Lyvia santai.
"Kalau aku tidak mau?"
"Istrimu akan melihat foto-foto itu. Dan jika itu terjadi Anda akan di tendang dari rumah sakit ini dan karir Anda juga akan hancur. Karena aku tahu rumah sakit ini adalah milik istrimu, kamu hanya menumpang hidup dengan istrimu yang kaya itu." jawab Lyvia penuh ancaman.
"Kau mengancamku?" tanya Danu.
"Terserah apa katamu, keputusan ada di tanganmu," jawab Lyvia dengan menyilangkan tangan di dadanya.
"Kerjasama apa yang kau inginkan?" tanya Dokter Danu yang akhirnya menyerah.
"Buatlah diagnosa yang menyatakan kalau aku terkena kanker otak. Dan aku menjalani pengobatan di sini," kata Lyvia.
"Untuk apa?" tanya Dokter Danu lagi.
"Kau tidak perlu tahu, tugasmu hanya menuruti perintahku," jawab Lyvia.
"Baiklah, tapi serahkan semua foto itu padaku."
"Tidak akan sampai misiku selesai," kata Lyvia.
"Ingat tugasmu hanya menuruti perintahku, jika kau macam-macam foto-foto itu akan langsung sampai di tangan istrimu," kata Lyvia dengan nada penuh ancaman.
#flashback off..
"Kau benar Sayang, Mami tidak mau hidup menjadi gembel lagi.Lalu apa yang harus kita lakukan pada gadis kecil itu?" tanya Widya.
"Kita singkirkan dia,sebelum dia mengacaukan semua rencana kita," kata Lyvia dengan mata berapi-api.
"Caranya?" tanya Widya lagi. Lyvia membisikkan sesuatu kepada Maminya.
"Apa itu akan berhasil?"
"Aku yakin, Mi.Kita tidak punya pilihan lain" jawab Lyvia.