
Bintang dan Mentari melepaskan pelukan mereka.
"Kakak, aku sangat merindukanmu," ucap Bintang disertai air mata.
"Kakak juga merindukanmu, Bintang," balas Mentari.
Bintang menghapus air mata kakaknya, demikian juga Mentari. Dia menghapus air mata yang meleleh di pipi adiknya.
Rangga dan Juan ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan dua orang di depan mereka.
"Bintang, bagaimana kabar ibu?" tanya Mentari.
"Ibu baik, Kak. Ibu juga sangat merindukan kakak," jawab Bintang. "Kenapa Kakak tidak menceritakan semuanya pada kami? Aku dan ibu mengira kalau kakak sudah melupakan kami."
"Kakak tidak ingin membuat kalian khawatir. Terutama ibu, Kakak tidak ingin ibu sedih mendengar kabar rumah tangga kakak," jawab Mentari.
"Kak, selama 2 tahun ini Kakak tinggal di mana?Apa kakak baik-baik saja?" tanya Bintang khawatir.
"Kakak tidak apa-apa, Bintang," jawab Mentari.
"Kak Juan, terimakasih ya karena Kak Juan sudah bisa membawa Kak Mentari kembali," ucap Bintang pada Juan.
"Tidak Bintang, ini bukan hanya demi kamu atau pun ibumu. Tapi ini juga demi diriku sendiri, karena aku sangat mencintai Mentari," jawab Juan sambil menggenggam tangan Mentari.
"Bintang, aku ingin mengenalkan Mentari kepada keluargaku. Kamu tidak keberatankan?" tanya Juan.
"Tentu saja tidak, Tapi Kak Juan harus berjanji padaku kalau Kakak tidak akan membuat kak Mentari terluka lagi. Kakak akan selalu membuat kak Mentari bahagia?" Jawab Bintang.
" Aku janji." kata Juan.
"Kak, sekarang ini Kakak tinggal di mana?Apa tidak sebaiknya Kakak tinggal bersamaku di rumah Rangga."
"Tidak, Bintang. Juan sudah menyewa apartemen untukku," jawab Mentari sambil tersenyum.
"Ohya Juan, bukannya aku menakutimu atau apa. Tetapi, apa keluargamu akan menerima Mentari?" tanya Bintang..
"Apa maksudmu?" Bintang balik tanya.
"Tante Ema adalah orang yang perfectionist, dia pasti akan menyelidiki latar belakang Mentari. Apalagi ini menyangkut soal wanita yang akan mendampingi anak kesayangannya. Aku rasa ini adalah awal ujian cinta kalian. Kamu harus bisa meyakinkan mamamu kalau Mentari adalah wanita terbaik untukmu," jawab Rangga panjang lebar. Juan memikirkan perkataan Rangga barusan. Semua yang di katakan Rangga ada benarnya. Dia yakin kalau mamanya tidak akan mudah menerima Mentari, apalagi jika mamanya tahu kalau Mentari pernah menjadi seorang penjaja cinta.
"Aku tidak perduli jika mamaku tidak bisa menerima Mentari. Sebagai anak aku hanya ingin Mama mengenal calon menantunya. Jika mama tidak bisa menerimanya,aku akan kawin lari dengannya," jawab Juan.
Rangga menepuk bahu sahabatnya itu. "Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu."
"Ohya Tari, ada yang ingin aku tanyakan padamu?" kata Rangga pada Mentari.
"Apa?" tanya Mentari.
"Apa kamu hanya punya satu adik? Soalnya seingatku, aku pernah disuruh Juan untuk mengantarkan hadiah untukmu. Terus di depan rumahmu ada cewek tomboy yang menyiramku dengan air." Rangga mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Sore itu, Rangga disuruh Juan untuk memberikan hadiah ulang tahun pada Mentari. Juan tidak bisa memberikannya secara langsung karena hari itu dia ada tugas di rumah sakit.
Hari itu, Rangga yang baru saja turun dari mobil tiba-tiba di sambut guyuran air saat hendak mengetuk pintu.
Saat itu Rangga sangat marah, terlebih orang yang menyiramnya bukannya minta maaf malah memakinya tidak jelas.
"Heh. Anak kecil. Kamu kira aku orang yang minta-minta sumbangan.Kamu nggak lihat penampilanku?" tanya Rangga kesal.
"Alah nggak usah sok-sok'an deh jadi orang kaya. Paling tu baju, baju pinjemankan? Aku yakin mobil itu juga mobil pinjeman. Udah deh kere, ya kere aja nggak usah sok," kata gadis itu nyolot.
"Nih, kasih ke kakak kamu bilang dari pacarnya. Aku kesini cuma buat ngirimin itu!" kata Rangga sambil memberikan sebuah kotak pada gadis SMP di depannya.
"Tuh, benerkan ternyata Lo itu kurir. Pakai berlagak sok kaya lagi," cibir gadis itu.
Rangga tidak mau meladeni gadis kecil itu, kerena semakin dia ladeni ucapan gadis itu makin membuatnya kesal.
"Dasar cewek stres,aku yakin kelak nggak bakalan ada yang mau nikah sama dia. Cewek tapi omongannya kasar banget," gerutu Rangga sambil berjalan meninggalkan gadis itu.
"Gua denger. Dasar cowok rese gua sumpahin Lo dapat istri yang sama resenya kayak Lo," teriak gadis itu.
Mentari melihat ke arah Bintang.
"Jadi cewek jelek, galak, dan tomboy itu.... "
Rangga tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat tatapan istrinya.
Glek Jangga menelan ludahnya sendiri karena sudah menjelekkan istrinya.
"Sayang, maaf aku..."
"Malam ini kamu tidur di kamar tamu" kata Bintang.
"Sayang, kamukan tahu aku nggak bisa tidur kalau tidak memelukmu," kata Rangga dengan wajah memelas.
"Bodo," jawab Bintang.
Mentari dan Juan hanya tertawa melihat kelakuan dua orang di depannya.
"Bintang, Rangga kami pamit ya ada hal yang harus segera kami seleseikan," pamit Juan.
"Kak, aku masih bisa bertemu denganmu lagikqn?" tanya Bintang.
"Tentu saja, Kalian jangan berantem lagi ya" jawab Mentari seraya menasehati mereka.
Juan dan Mentari meninggalkan mereka berdua di restoran.
"Sayang, aku tidak jadi tidur di kamar tamukan?"
"Pokoknya malam ini, kamu tidur di kamar tamu. Salah sendiri pake bilang aku jelek," jawab Bintang sambil berjalan. Rangga berlari mengukutinya sambil terus menarik lengan Bintang seperti anak kecil yang minta dibelikan sesuatu pada ibunya.
*****
Malam harinya di keluarga Wijaya
Bintang sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi siang. Dia memberikan bantal dan selimut pada suaminya.
"Ayolah Sayang, kamu boleh menghukumku apa saja asal jangan menyuruhku tidur jauh darimu!" pinta Rangga. Bintang hanya menggelengkan kepalanya.Rangga menghela napasnya pasrah. Saat dia hendak keluar, ada seseorang yang mengetuk kamar mereka.
Rangga membuka pintu kamarnya, dia terkejut saat ada seorang gadis yang tiba-tiba memeluknya. Demikian juga Bintang, dia menatap suaminya dengan sejuta tanya.