
Tidak lama kemudian seorang Dokter keluar.
"Ibu Ema, Dokter Juan sudah sadar dia hanya dehidrasi dan kurang asupan gizi. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat."
"Terimakasih, Dokter," ucap Ema.
Juan sudah di pindahkan ke ruang rawat, dia sangat bahagia saat melihat Mentari datang bersama mamanya.
"Aku senang kamu datang, aku sangat merindukanmu, Tari," ucap sambil memeluk Mentari.
"Juan jangan seperti ini, malu di lihat yang lainnya." Mentari berusaha melepaskan pelukan Juan. Namun, Juan makin mengeratkan pelukannya.
"Sepertinya putraku ini tidak bisa jauh darimu Tari," ledek Ema.
"Aku rasa... minggu depan adalah waktu yang tepat untuk kalian menikah," lanjut Ema. Juan menatap mata mamanya tak percaya.
"Mama serius?" tanya Juan memaatikan.
"Iya, kenapa? Apa waktu seminggu terlalu cepat? Kalau benar iya, mama tunda deh sebulan lagi," goda Ema.
"Jangan, Ma! Jangan! Juankan sudah terlalu lama menunggu Tari. Masa mau di tunda lagi sih," Jawab Juan cepat.
Semua orang tertawa mendengarnya.
"Wah-wah, rupanya sahabatku ini sudah nggak tahan lama-lama tidur sendiri," cibir Rangga bercanda.
"Sialan kamu! Inget sebentar lagi aku ini jadi kakak ipar kamu. Jadi mulai sekarang kamu harus bersikap hormat sama aku, kalau parlu kamu belajar tuh manggil aku Kakak atau Abang juga nggak apa-apa deh."
"Ogah banget manggil kamu Abang." Rangga melempar bantal ke arah Juan.
"E... e... aku ini pasien, masih sakit tahu. Lihat sayang kelakuan adik ipar kamu!" kata Juan yang berlagak manja. Mentari hanya tertawa mendengarnya.
"Tambah lagi deh cowok bucin, hedech!" sambung Alex.
"Emang kamu nggak? Bukannya kamu juga sama aja kalau lagi berdua sama temenku, Ana." Bintang ikutan bicara.
"Ih, kok bawa-bawa namaku sih?" kata Ana yang juga pura-pura cemberut.
"Yah... apes dech, nasib jomblo kayak aku." Dewi menepuk jidadnya sendiri.
"Makanya buruan sono cari pacar!" kata Bintang dan Ana bersamaan.
#Seminggu kemudian....
Hari yang di tunggu-tunggu Juan dan Mentari pun tiba. Mentari sangat gugup bahkan sampai bolak-balik ke kamar mandi. Prosesi ijab qabul mereka akan dilaksanakan di masjid dan siangnya mereka akan menggelar resepsi di hotel bintang lima.
Semua orang sudah berkumpul di masjid termasuk kedua mempelai dan keluarganya.
Mentari terlihat cantik dengan kebaya berwarna putih dan membuat Juan tidak berkedip menatapnya. Dia masih merasa hari ini seperti mimpi, wanita yang dia cintai sejak dia kuliah akhirnya akan segera menjadi istrinya. Butuh proses yang cukup panjang untuk mereka sampai pada titik ini.
"Saudara Juan, apa Anda sudah siap?" tanya Bapak penghulu.
"Tentu saya siap, Pak," jawab Juan.
Akhirnya ijab qabul pun di mulai. Semuanya tampak bahagia saat saksi mengatakan SAH.
Selesei ijab qabul mereka langsung menuju hotel tempat di mana resepsi akan di langsungkan.
Resepsi pernikahan Juan dan Mentari berlangsung meriah. Saking banyaknya tamu, acara baru selesei tepat jam 12 malam.
Bintang dan keluarga Wijaya memutuskan untuk pulang ke rumah, sementara keluarga Rahardian seluruhnya menginap di hotel.
Malam itu di kamar pengantin, Mentari begitu gugup. Usai mandi dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, dia berpura-pura memejamkan matanya. Kebetulan tadi setelah mandi Juan minta izin untuk bertemu beberapa teman sejawatnya yang belum pulang.
Jam 1 malam Juan masuk ke kamarnya, dia melihat istrinya sudah berbaring di ranjang. Juan mendekatinya dan ikut berbaring di sebelahnya. Juan memeluk istrinya dari belakang.
"Aku tahu kamu belum tidur," kata Juan.
Jantung Mentari berdetak lebih cepat dari biasanya, memang ini bukan yang pertama baginya tapi rasanya tetap berbeda. Kali ini dia akan melakukan itu dengan orang yang dia cintai. Jantungnya makin tak karuan saat tangan Juan mulai membuka resleting bajunya.
Apalagi saat tangan itu masuk dan merem*s gundukan kembar miliknya. Dengan telaten Juan mengabsen bagian belakang istrinya itu. mulai dari leher dan berakhir di tulang punggungnya. Dia membuka baju istrinya itu dan hanya menyisakan ********** saja. Juan juga membuka bajunya sendiri.
Sekarang dia sudah berada di atas tubuh Mentari, dia mulai mencium kening, mata dan terakhir di bibir merah sang istri. Mulai dari ciuman lembut hingga berakhir dengan ciuman yang makin panas. Keduanya hanyut kedalam kanikmatan dunia yang sudah lama mereka nantikan.
Pagi harinya di keluarga Wijaya
"Nyonya ini ada paket buat Non Bintang." Mbok Jum menyerahkan amplop warna coklat tersebut kepada Mia.
"Dari siapa, Mbok?"
"Tidak tahu Nyonya, tadi saya menemukan itu di depan pintu," jawab mbok Jum.
"Ya, sudah biar saya yang memberikannya pada Bintang," kata Mia.
Mbok Jum kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
"Apa isinya ya?" Mia memperhatikan amplop tersebut dan karena penasaran dia membukanya.
"Apa itu Ma?" tanya Bintang yang baru saja turun dari kamarnya dan diikuti Rangga di belakangnya.
Dengan cepat Mia mengambil benda yang berserakan tadi dan kembali memasukkannya ke dalam amplop.
"Bu... bukan apa-apa," jawab Mia gugup sambil menyembunyikan amplop tersebut di belakang tubuhnya.
"Benarkah?" selidik Bintang.
"Benar. Ini bukan hal penting."
Bintang menatap mata mertuanya itu, dari matanya terlihat jelas kalau ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Jika memang tidak ada yang mama sembunyikan, kenapa Mama gugup?" kata Bintang dengan sorot mata mengintimidasi.
Bintang mengambil amplop yang di sembunyikan Mia di belakang tubuhnya, dan alangkah terkejutnya dia saat tahu isi amplop tersebut adalah foto-foto mesra suaminya dengan Celin. Tubuhnya hampir saja jatuh kalau saja Rangga tidak menangkapnya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rangga yang baru saja datang.
"Jelaskan padaku apa maksud semua ini!" seru Bintang dengan menahan amarahnya. Dia melemparkan isi amplop tersebut ke tubuh suaminya.
Rangga menatap benda yang berserakan tadi. Tidak lama kemudian Celin datang dengan tangisannya.
"Kak Rangga, Kak Rangga harus tanggung jawab. Kak Rangga harus tanggung jawab!" kata Celin dengan air mata bercucuran di kedua pipinya.
Bintang menatapnya. "Apa maksudmu?" tanya Bintang pada Celin.
"A... aku... aku hamil anaknya Kak Rangga."
Bak disambar petir, berita itu sukses membuat Bintang shock dan jatuh pingsan.
Rangga segera menggendong istrinya dan merebahkannya di sofa.
"Telpon Dokter Lisa sekarang, cepat!" titahnya pada orang yang bekerja di rumahnya.
10 menit kemudian, Doktet Lisa datang. Dia memeriksa dengan teliti keadaan Bintang.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rangga panik.
"Dia hanya shock, janinnya cukup sehat dan tidak ada masalah," jawab Dokter Lisa.
Dokter Lisa menuliskan sebuah resep dan memberikannya pada Rangga.
"Kalau begitu saya permisi ya, Pak," pamit Dokter Lisa.
"Terimakasih, Dok," ucap Rangga.
Rangga menatap wajah istrinya. "Maafkan aku, Sayang! Aku tidak bermaksud membuatmu jadi begini," kata Rangga sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.
Celin yang melihat itu sangat iri, tapi dia pura-pura tersenyum. Celin ingin terlihat baik di depan Rangga.
"Kak, aku minta maaf ya. Gara-gara aku Kak Bintang jadi begini," ucap Celin.
Rangga hanya meliriknya sekilas.
"Sebenarnya aku ingin membuka kedokmu sekarang, tapi... sepertinya aku harus bisa menahannya sebentar lagi," batin Rangga.
Tidak lama kemudian Bintang mulai membuka matanya.
"Sayang, tadi... aku bermimpi kalau kamu mengkhianati aku," kata Bintang. Dia berusaha bangun dan menatap mata suaminya.
"Maaf kan aku, Sayang," ucap Rangga sambil menunduk.
"Ja... jadi itu bukan mimpi?"
Bintang menyingkirkan tangan Rangga dari bahunya.
"Aku butuh waktu untuk sendiri," ucapnya sambil berjalan meninggalkan Rangga. Dia masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Hatinya terasa hancur saat ini. Bagaimana mungkin Rangga tega mengkhianatinya.
Sejak awal Bintang memang sudah tahu kalau Celin menyukai suaminya, hanya saja dia tidak pernah memikirkan kalau semuanya akan berakhir dengan menghamili Celin. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
πΊπΊπΊ
Yuk, mampir di cerita anak-anak Bintang dan Rangga.
Juga karya otor yang lain di bawah ini:
Terimakasih π€π€