
Dewi kembali tersenyum setidaknya, Bintang masih menganggapnya ada.
"An, aku minta maaf," ucap Dewi.
Ana pura-pura tidak mendengar. Dia malah sengaja memasang earphone di telinganya.
"Maaf ,Sayang, aku telat. Soalnya aku baru nganter Kak Juan dan Kak Tari ke bandara," kata Alex.
Ana melepas earphone yang di pakainya tadi.
"Ya udah kita berangkat sekarang yuk! soalnya ada banyak barang keperluan resto yang musti aku beli," ajak Ana.
"Em... em.... " Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ada apa?" tanya Ana.
"Hari ini aku di suruh mama ngebantuin di rumah sakit. Soalnya akan ada alat kesehatan baru yang didatangkan, jadi mama nyuruh aku buat ngecek alat-alat itu," jawab Alex panjang kali lebar.
"Harusnya kamu telpon aku dari awal, jadikan aku bisa minta pegawaiku nemenin aku," kata Ana kesal.
"Dew, kamu bisa temenin Ana kan belanja?" tanya Alex. Mata Ana melotot menatap Alex seolah mengatakan 'kenapa minta Dewi nemenin aku?'
"Iya, Lex. Kebetulan aku nggak ada kuliah hari ini," jawab Dewi.
"Nggak perlu, aku bisa sendiri." Bentak Ana, kemudian dia berjalan meninggalkan tempat itu.
Alex menepuk bahu Dewi. "Sorry ya, Wi," ucap Alex. Dewi tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa, trimakasih karena sudah berusaha membantuku,"jawab Dewi.
Alex mengangguk kemudian dia segera mengejar Ana.
"Ana, tunggu! Ana!" panggil Alex seraya berlari mengejarnya.
Dewi duduk di deretan bangku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menangis sesegukan membayangkan saat-saat indah yang di laluinya dengan dua sahabatnya.
"Kenapa menangis?" tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Nando, kamu di sini?" kata Dewi saat melihat Nando ada di sebelahnya.
"Ini bukan saatnya kamu menangis. Ini baru awal perjuanganmu. Mungkin nanti kamu akan mendapatkan perlakuan yang lebih menyakitkan dari ini. Jadi, simpanlah air matamu itu!"
Dewi menghapus air matanya kemudian dia tersenyum.
"Terimakasih ya Ndo, karena kamu selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk memberiku semangat," ucap Dewi.
"Sama-sama," kata Nando. Nando seperti vitamin bagi Dewi, dia adalah penyemangat baginya untuk mendapatkan maaf dari sahabatnya. Saat dirinya mulai menyerah, Nandolah orang yang membangkitkan semangat itu.
"Apa kamu hanya akan diam di sini?" tanya Nando.
"Tentu saja tidak, aku akan ke restoran. Meskipun, Ana mengusirku atau bahkan menyeretku dari sana aku akan tetap bertahan dan akan berusaha mendapatkan maaf darinya," jawab Dewi yang kembali terlihat bersemangat.
"Aku senang karena semangtmu sudah kembali lagi."
"Nando, sekali lagi terimakasih ya," ucap Dewi, dia menggenggam tangan Nando.
Nando menatap tangannya yang sedang di genggam oleh Dewi. Entah kenapa rasanya ada yang berdesir di hatinya.
"Nando, apa kamu bisa mengantarku ke restoran?" tanya Dewi.
"E... i... iy... iya, tentu saja," jawab Nando entah apa yang merasukinya hingga dia merasa begitu gugup saat ini.
"Ayo!" Dewi menarik tangan Nando untuk segera mengantarnya. Dia jadi lebih bersemangat setelah Nando datang. Dengan senang hati Nando segera mengantarnya.
Seharian Dewi membantu Ana di restoran, meskipun Ana menganggapnya tidak ada dia tidak perduli. Dia menganggap ini adalah salah satu hukuman yang harus dia terima. Setidaknya ini tidak sebanding dengan kesalahan yang telah di perbuatnya.
Sudah seminggu Dewi berusaha mendapatkan maaf dari temannya, tetapi mungkin kekecewaan Ana dan Bintang yang terlalu besar terhadapnya, makanya temannya itu belum bisa menerima maafnya. Atau mungkin Dewi yang kurang bekerja keras untuk mendapatkan maaf mereka.
Bintang dan Ana sudah janjian untuk membeli buku di toko buku. Sepanjang perjalanan Bintang terlihat gelisah. Lagi-lagi dia menoleh ke belakang.
" Ada apa sih, Bi?" tanya Ana.
Ana melihat kesekeliling. "Nggak ada siapa-siapa kok, perasaan kamu aja kali," katanya kemudian.
"Tapi, kenapa aku ngerasa ada yang ngikutin aku sejak keluar rumah tadi ya," gumam Bintang.
"Mungkin si Dewi," jawab Ana cuek.
"Tapi nggak mungkin Dewi, hari ini diakan ada kuliah."
"Kalau bukan Dewi, itu artinya ya emang nggak ada siapa-siapa," kata Ana.
Ana dan Bintang berjalan menuju jalan raya.Mereka berniat menyeberang jalan raya karena letak toko buku tersebut ada di seberang jalan. Namun, saat mereka hendak menyeberang,tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah mereka.
Bruk!
Tubuh Bintang dan Ana terjungkal di sisi trotoar setelah ada yang mendorong mereka menghindari mobil yang akan menabrak mereka.
"Bintang kamu nggak apa-apakan?" tanya Ana sambil membantu Bintang untuk berdiri, karena dia khawatir terjadi sesuatu dengan kehamilan sahabatnya itu.
Namun, mata Bintang malah melihat ke arah lain, dia melihat seorang wanita terkapar di jalan dengan tubuh berlumuran darah.
"Dew, Dewi," panggil Bintang sambil berlari ke arah wanita yang terkapar tadi. Ana pun melihat ke arah yang sama, dia juga berlari mendekati tubuh Dewi yang berlumuran darah.
"Dew, bangun Dew! Bangun!" teriak Bintang dengan air mata yang terus mengalir.
"Bi, Ana, aku minta maaf." Setelah mengucapkan itu Dewi tak sadarkan diri.
"Panggil ambulan cepat! Cepat!" teriak Bintang pada orang-orang yang ada di situ. Tidak lama kemudian ambulan datang dan membawa Dewi ke rumah sakit.
Ana dan Bintang selalu berada di dekatnya sambil menggenggam tangan Dewi.
Begitu sampai di rumah sakit, Dewi langsung di bawa ke IGD.
"Maaf Mbak, Kalian silahkan tunggu luar!"kata salah seorang perawat.
"Dewi, pasti akan selamatkan, An? Dia pasti baik-baik sajakan?" tanya Bintang sambil terus menangis.
"Dia pasti baik-baik saja, dia adalah wanita yang kuat," jawab Ana. Dia berusaha menenangkan sahabatnya itu. Padahal dirinya sendiri juga sangat sedih melihat keadaan Dewi sekarang. Sikap buruknya selama seminggu ini bersliweran di kepalanya.
"Maafin aku Dew, maaf atas sikapku selama ini," batin Ana.
Alex yang kebetulan sedang berada di rumah sakit segera menghampiri Ana dan Bintang di depan ruang IGD.
Beberapa menit sebelumnya....
Seorang perawat menghampiri Alex yang saat itu sedang berada di ruangan Kakaknya karena dia harus menggantikan Kakaknya.
"Pak, pacar Bapak ada di depan IGD. Sepertinya ada temannya yang mengalami kecelakaan," suster itu memberi tahu.
"Kamu nggak bercandakan, Sus?" tanya Alex.
"Tidak, Pak. Kalau Bapak tidak percaya Bapak besa cek sekarang juga," jawab suster itu.
Alex yang khawatir segera berlari menuju IGD.
"Ana, kamu tidak apa-apa kan? Siapa yang kecelakaan?" tanya Alex.
Ana langsung memeluk Alex.
"Lex, Dewi Lex. Dia seperti ini karena menyelamatkan kami," kata Ana.
"Tenanglah, tenang. Dewi pasti baik-baik saja," ucap Alex.
"Apa kamu sudah memberitahu Kak Rangga?" tanya Alex. Ana menggelengkan kepalanya.
"Kamu tunggu di sini dulu! Aku telpon Kak Rangga sebentar!" suruh Alex.
Alex sedikit menjauh dari tempat itu, dia segera menelpon Rangga. Lima menit kemudian dia kembali duduk di samping Ana.
Tidak lama kemudian, Rangga tiba di tempat itu bersama Nando. Rangga mendekati istrinya dan memeluknya untuk memberikan ketenangan padanya. Sementara Nando, dia berdiri tepat di depan pintu IGD berharap dokter segera keluar dan memberikan kabar baik padanya.