Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 44


Setelah mengantar Ratih ke stasiun, Bintang dan Rangga mampir ke restoran untuk makan. Tadinya Rangga ingin mengantar ibu mertuanya itu sampai ke kampung halaman, tetapi Ratih menolaknya, dia lebih nyaman naik kereta.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Rangga sambil melihat buku menu.


"Terserah,"jawab Bintang kurang bersemangat. Rangga membuang napasnya kasar.


"Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Rangga lagi.


"Menurutmu apa Kak Juan sudah berhasil menemukan Kakak?" tanya Bintang.


"Jadi dari tadi kamu diam karena memikirkan itu?" tanya Rangga, Bintang mengangguk.


"Kalau Juan sudah menemukan Mentari, dia pasti akan ngasih tahu kita," jawab Rangga sedikit kesal.


Sebenarnya Rangga bukannya tidak suka, Bintang selalu memikirkan kakaknya. Hanya saja setidaknya saat mereka sedang menghabiskan waktu berdua, dia ingin agar istrinya itu juga memperhatikannya dan calon anak mereka.


"Lagian aku juga sudah menyuruh orang untuk mencari kakakmu," lanjutnya.


"Maaf ya Sayang. Rasanya aku belum tenang kalau belum mengetahui keadaan Kakak,"ucap Bintang sambil menggenggam tangan suaminya itu.


"Bintang, aku tidak keberatan kalau kamu selalu ingin tahu keadaan Kakakmu. Tapi, aku harap kamu juga memperhatikan kesehatanmu dan juga calon anak kita. Aku tidak ingin kamu terlalu banyak pikiran," kata Rangga. "Masalah Kakakmu, serahkan saja padaku dan juga Juan. Kami pasti akan menemukannya."


"Baiklah. Maafkan aku ya," ucap Bintang.


Akhirnya mereka memesan beberapa masakan. Setelah mengahabiskan makanan,mereka segera menuju ke mobil mereka.


"Kamu mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu?" tanya Rangga.


"Hari ini aku ada kuliah, antar saja aku ke kampus," jawab Bintang sambil memasang seatbeltnya.


"Sayang, kamu itu sedang hamil apa tidak sebaiknya kamu ambil cuti?" tanya Rangga.


"Aku akan ambil cuti semester dua nanti," jawab Bintang enteng.


Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia mulai menjalankan mobilnya.


"Apa akhir-akhir ini kamu masih sering mual?" tanya Rangga.


"Sudah tidak terlalu, jadi jangan khawatir," jawab Bintang.


"Anak pintar, jangan menyusahkan mommy ya Sayang." Rangga mengusap perut istrinya.


"Iya Daddy," jawab Bintang yang menirukan suara anak kecil. Rangga terkekeh mendengarnya.


Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan gerbang kampus.


"Aku langsung ke kantor ya? Ingat jangan terlalu lelah!" Bintang mengangguk.


Sebelum turun Bintang mencium punggung tangan suaminya dan dibalas Rangga dengan mencium kening istrinya. Ciuman itu turun kemata, hidung, pipi, kemudian bibir istrinya itu. Cukup lama mereka berciuman, akhirnya mereka melepaskan ciuman mereka Karena takut di lihat mahasiswa yang lain.


"Hati-hati ya Sayang,"kata Bintang setelah turun dari mobil.


Bintang segera berjalan menuju ke kelasnya.Tapi di tengah jalan dia melihat Alex dan juga Ana, dia segera menghampiri mereka.


"Hai Lex, An tumben kalian cuma berdua, Dewi mana?" tanya Bintang sambil melihat sekeliling.


"Dewi lagi di perpus, sebentar lagi juga kesini," jawab Ana.


"Kamu belum ambil cuti ya?" tanya Ana pada Bintang, Bintang hanya cengengesan.


"Kamu ini nggak kasihan sama calon anak kamu?" tambah Ana.


"Aku baru akan ambil cuti semester dua nanti," jawab Bintang.


"Tunggu-tunggu kayaknya aku nglewatin sesuatu ya?" kata Bintang saat melihat Alex dan Ana bergandengan tangan.


"Apa?" tanya Ana bingung.


Bintang menunjuk dengan matanya. Ana dan Alex baru sadar kalau sejak tadi mereka berpegangan tangan. Karena malu, meraka buru-buru melepaskan tangan mereka.


"Sejak kapan kalian jadian?" tanya Bintang.


"E... baru kemarin," jawab Ana malu-malu.


"Slamat ya, semoga hubungan kalian langgeng," ucap Bintang.


"Awas ya, Lex, kalau Lo berani nyakitin Ana aku bakalan bikin perhitungan sama kamu!" kata Bintang dengan nada mengancam.


"Iya. Kamu jangan khawatir aku akan selalu bikin Ana bahagia." Janji Alex.


"Ohya Lex, Kak Juan kok nggak kelihatan beberapa hari ini? Kamu tahu dia kemana?" tanya Bintang.


"Biasanya sih pagi sampai sore dia selalu di rumah sakit. Malamnya dia pergi, kayaknya sih masih cari Kak Mentari," jawab Alex.


Bintang terdiam.


"An, sorry nunggu lama," kata Dewi yang baru saja muncul.


"Lho, Bi. Kamu belum cuti?" tanya Dewi saat melihat Bintang.


"Ntar semester dua," jawab Bintang.


"Ya, udah. Aku ke kelas dulu ya. Ntar pulang kuliah kita ketemu lagi," pamit Bintang.


"Aku juga musti ke toko buku nih, soalnya di perpustakaan nggak ada buku yang aku cari." pamit Dewi juga.


"Buat kalian berdua, awas jangan sering berduaan ntar ke bablasan," goda Bintang sebelum meninggalkan Ana dan Alex.


"Sialan Lo" kata Ana.


"Selamat berduaan ya," kata Dewi yang juga ikutan menggoda mereka.


Kini tinggal mereka berdua. "Aku juga harus ke kelas, nanti pulang kuliah kita ketemu lagi di sini," kata Alex.


Ana mengangguk.


Perlahan Alex mendekatkan bibirnya ke bibir Ana. Dia mencium bibir ranum milik Ana, karena itu kampus dia hanya menciumnya sekilas.


"Nanti kita lanjutkan yang lebih dari ini,"bisik Alex di telinga Ana, wajah Ana tampak merah bak kepiting rebus.


"Da, honey," kata Alex, Ana masih mematung di tempatnya.Jantungnya kembali berdegup tak beraturan.


"Apa ini? Setiap bisikan dan sentuhannya selalu bikin jantungku seperti mau meledak," batin Ana.


Di tempat lain, setelah selesai memeriksa pasien Juan menelpon orang suruhannya untuk mengetahui perkembangan pencarian mereka terhadap Mentari.


"Dimana kamu Tari?kenapa kamu begitu sulit di temukan?" gumam Juan sambil memainkan ponselnya.


Ketika malam tiba,sepulangnya dari rumah sakit Juan melanjutkan pencariannya.Dia masuk dari satu tempat hiburan malam ke tempat hiburan malam lainnya.Entah sudah berapa bar,diskotik dan juga tempat pelacuran yang dia datangi,tetapi dia belum juga menemukan keberadaan Mentari. Rasanya dia sudah hampir frustasi.


Dan malam ini saking frustasinya,saat memasuki sebuah diskotik dia memesan sebotol wine padahal dia adalah orang yang tidak pernah minum minuman beralkohol.Dan karena itulah baru seteguk dia minum,kepalanya sudah terasa berat dan akhirnya dia tak sadarkan diri.


Keesokan harinya saat bangun,Juan merasa heran karena dia berada di sebuah kamar hotel.Dia merasa lega saat melihat tubuhnya masih mengenakan pakaian lengkap.Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing,dia mengingat-ingat apa yang terjadi padanya semalam.Dia ingat sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri wajah terakhir yang dia lihat adalah Mentari.


Juan langsung bangkit dari tempat tidurnya saat melihat ada wanita yang sedang membuat minuman.Dia langsung memeluk wanita itu dari belakang.


"Tari akhirnya aku menemukanmu" kata Juan yang mengira wanita itu adalah Mentari.


"Maaf Tuan,saya bukan Tari" kata wanita itu, Juan menatap wajah wanita yang baru saja dipeluknya.


"Maaf "ucap Juan.


" Tapi... kalau Tuan mau,Tuan bisa menganggap aku Tari dan aku akan dengan senang hati melayani Tuan"kata wanita itu sambil mengalungkan tangannya di leher Juan.


Tanpa berpikir Juan langsung mendorong wanita itu hingga jatuh terjerembab.


"Ambil berapapun uang yang kamu mau setelah itu pergi dari sini" kata Juan sambil melemparkan dompet miliknya ke arah wanita itu.


Wanita itu hanya tersenyum, setelah mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompet tersebut,wanita itu keluar dari kamar itu.


Juan kembali duduk di tempat tidurnya sambil terus mengingat wajah yang dia lihat sebelum dia pingsan.


"Tapi...aku benar-benar melihat Mentari semalam" gumam Juan.