
Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah apartemen. Dengan cemas dia segera menggendong Bintang masuk ke dalam.
"Kak, Kakak! Cepat tolong Dia! Sepertinya kondisinya tidak baik!" teriaknya saat memasuki apartemen.
"Kenapa kamu suka sekali teriak sih, Lex?" kata orang yang di panggil kakak tadi.
"Kak, cepat tolong periksa dia!"suruh Alex. Ya, aki-laki yang menolong Bintang tadi adalah Alex. Alex membaringkan tubuh Bintang ke kamar miliknya.
Orang yang di panggil Kakak itu pun mendekati wanita yang di bawa oleh Alex. Orang itu juga terkejut saat melihat wajah Bintang.
"Bintang!" kata orang yang dipanggil kakak itu.
"Kak Juan kenal dengan Bintang?" tanya Alex.
Ya, nama kakak Alex adalah Juan Rahardian.
"Iya," jawab Juan dengan wajah yang berubah sedih.
"Jangan bilang, dia mantan kekasih kakak ya," kata Alex lagi.
"Bukan. Tetapi dia adalah adik dari Mentari," jawab Juan.
"Maksud kakak, dia adik dari cewek yang membuat kakak gagal move on itu?" tanya Alex.
"Hei, jangan bicara seperti itu dengan kakakmu sendiri!"
Juan mulai memeriksa keadaan Bintang. "Tidak mungkin," kata Juan dengan mata terbelalak.
"Apa maksud kakak?" tanya Alex bingung dengan reaksi kakaknya.
"Alex, kamu nggak bikin dia hamilkan?" tanya Juan.
"Kakak ngomong apa sih?" tanya Alex bingung.
"Sepertinya dia sedang hamil, tapi untuk memastikannya kita harus bawa dia ke rumah sakit menemui dokter kandungan. Di tambah lagi sepertinya ada sedikit masalah dengan kandungannya," Juan menjelaskan.
"Apa! Jadi Bintang hamil? Apa itu artinya dia sudah menikah?" kata Alex yang sedikit kecewa karena sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengan Bintang dia sudah menyukainya.
"Mungkin, tapi yang terpenting sekarang kita bawa dia ke rumah sakit. Takutnya ada apa-apa dengan kandungannya." jawab Juan.
"Tunggu, Kak! Tadi temannya bilang kalau dia sedang dikejar orang-orang jahat, aku takut orang jahat itu bakal menemukan dia," kata Alex sedikit khawatir.
"Kita bawa ke rumah sakit papa, untuk sementara kita palsukan identitasnya sampai dia sadar," kata Juan.
Akhirnya Juan dan Alex membawa Bintang ke rumah sakit dengan identitas palsu.
*****
Ketika sampai rumah, Mia sangat terkejut saat melihat Rangga sudah ada di rumah.
"Kamu sudah pulang, Nak? Bukannya baru lusa ya kamu pulang?" tanya Mia.
"Pekerjaanku, sudah selesai. Jadi, aku buru-buru pulang," jawab Rangga.
"Ohya ,Ma, di mana Bintang?" tanya Rangga.
"Tadi katanya ke kampus, tapi sampai sekarang kok belum pulang. Mama sedikit
mengkhawatirkannya. Apalagi ponselnya belum bisa di hubungi. Di tambah Pak Mun supir kita itu sampai sekarang juga belum pulang." jawab Mia dengan raut muka cemasnya.
"Jangan cemas! Mungkin Bintang ada urusan di kampus. Dan mengenai Pak Mun nanti akan coba Rangga telpon!" Rangga berusaha menenangkan mamanya.
"Ma, Rangga ada sedikit urusan. Rangga pergi dulu ya. Mama jangan terlalu cemas, Rangga akan cari Bintang di kampus," kata Rangga. Kemudian dia pergi meninggalkan Mia.
Rangga pergi ke kantornya, dari raut wajahnya dia terlihat mencemaskan sesuatu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo. Bagaimana dengan tugas yang aku suruh. Apa sudah ada hasilnya?" tanya Rangga.
"Sudah, semua sesuai dengan dugaanmu," jawab orang di seberang sana.
"Apa kita bisa melakukannya sekarang?"
"Tentu, sesuai permintaanmu"
"E, maaf ya seharusnya aku tidak meminta bantuanmu soal ini. Apalagi ini menyangkut hubungan keluarga kalian," ucap Rangga.
"Tidak masalah, aku juga sudah bicara dengan ibuku." jawab orang itu lagi.
"Baiklah, sekarang aku akan segera kesana. Kamu tunggu saja aku di sana!"
"Ya, kebetulan aku juga sudah ada di sini. Aku tunggu di sini."
"Thanks ya," ucap Rangga sebelum akhirnya mematikan panggilannya.
Rangga kembali menghubungi seseorang. "Bagaimana?" tanyanya.
"Maaf, maafkan Kami," ucap orang itu.
"Sudahlah, kalian lanjutkan saja." suruh Rangga.
Rangga segera memakai jasnya dan segera pergi menuju ke suatu tempat.