
Lyvia sangat marah saat mendengar laporan dari orang suruhannya yang tidak berhasil menculik Bintang.
"Kalian bener-bener bodoh! Menangkap satu orang saja tidak becus," maki Lyvia pada orang suruhannya lewat telpon.
"Tenang saja Bos, besok kami pasti bisa membawanya," jawab orang suruhannya.
"Baik. Aku tunggu kabar baik dari kalian. Jika kalian sampai gagal aku tidak akan membayar sisa upah kalian!" kata Lyvia sebelum akhirnya menutup telponnya.
"Apa masih belum berhasil?" tanya Widya.
"Mereka semua tidak becus, Mi. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri," kata Lyvia kesal.
"Kalau kamu turun tangan sendiri, orang akan tahu kalau sakitmu ini cuma pura-pura." Widya memberi nasehat.
"Aku akan cari cara lain, Mi."
"Apa kamu sudah dengar kalau Juan hari ini kembali ke kota ini?" tanya Widya.
"Juan?" tanya Lyvia.
"Iya, Juan Rahardian. Anak sulung dari Dokter Danu itu. Sahabat Rangga waktu kalian kuliah di London." jawab Widya.
"Oh... si Juan bodoh itu." jawab Lyvia malas.
"Kenapa kamu bilang dia bodoh? Bukannya dia juga Dokter seperti ayahnya?" tanya Widya penasaran.
"Dulu waktu kuliah dia sama seperti Rangga disukai banyak gadis kaya dan cantik, tapi dia malah memilih gadis miskin itu. Tapi kisah selanjutnya aku tidak begitu tahu. Yang jelas gadis itu menikah dengan orang lain. Dan si bodoh itu masih setia menunggunya," jawab Lyvia.
"Wah, ternyata kisah cinta dua sahabat ini tragis ya? Sama-sama di khianati kekasihnya. Juan ditinggal kekasihnya dan Rangga ditnggal olehmu, benar-benar kisah cinta yang menyakitkan," ledek Widya.
"Sudahlah, Mi. Ini bukan saatnya membicarakan itu. Lebih baik Mami bawa aku keruangan Dokter Danu!"
"Untuk apa?" tanya Widya.
"Mami lupa kalau kita musti bayar orang-orang suruhan kita itu."
"Apa Dokter Danu mau memberikan kita uang?"
"Selama foto dan video itu ada bersama kita, Dokter Danu akan menuruti semua kemauan kita," jawab Lyvia dengan senyum liciknya.
*****
Bintang bangun kesiangan karena dia semalam tidak bisa tidur, setelah mendapat telpon dari Rangga semalam perutnya makin mual dan dia harus bolak-balik ke kamar mandi.
Bintang sudah berpakaian rapi saat ponselnya berdering, ya itu adalah video call suaminya.
"Sayang, kenapa baru angkat telponku? Aku sudah menelponmu dari jam 4 pagi tadi. Kamu membuatku khawatir," kata Rangga sambil menatap istrinya cemas.
"Oh... aku baru bangun. Semalam aku nggak bisa tidur, jadi agak kesiangan deh bangunnya," jawab Bintang.
"Kamu sudah sarapan belum?"
"ini mau sarapan."
"Ingat, nanti minta mama temenin kamu ke Dokter!" suruh Rangga.
"Iya."
"Kalau ingin ke kampus minta antar Pak Mun. Jngan sampai kamu pergi sendirian aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu!"suruh Rangga lagi.
"Iy,a Sayang. Aku akan menuruti perintah kamu."
"Bagus, sekarang satu lagi yang paling penting."
"Apa?"" tanya Bintang bingung.
"Morningkiss-nya mana?" pinta Rangga.
"Bagaimana caranya?" tanya Bintang.
"Kamu tempelkan bibir kamu di layar ponsel sambil memejamkan mata anggap kalau aku sedang berada di depanmu!" suruh Rangga.
Bintang menuruti apa yang dikatakan suaminya itu. Dia menempelkan bibirnya di layar ponselnya demikian juga Rangga. Mereka sama-sama memejamkan mata seolah-olah mereka benar-benar sedang berciuman.
"Sudah! Sana kuliah! Ingat ya jangan pergi sendirian. Love you my sweet wife."
"Love you too my hubby," jawab Bintang.
Sebelum akhirnya mereka benar-benar mematikan ponsel mereka.
Bintang segera sarapan dan dengan diantar pak Mun, dia pergi ke restoran milik Ana. Karena hari ini mereka sudah janjian mau berangkat ke kampus bersama.
"Sudah sampai kamu? Ku kira kamu lupa? Biasanyakan di antara kita bertiga orang yang sering lupa dan nggak pernah on time itukan kamu," kata Dewi.
"Cih." Bintang berdecih.
"Udah ah berangkat yuk!" ajak Ana.
"Baik, Nyonya," jawab Pak Mun.
Pak Mun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun baru beberapa menit berjalan, dia mengerem mobilnya mendadak.
Ciiittt. Sebua decitan terdengar saat Pak Mun mengerem mobilnya mendadak.
"Ada apa, Pak?" tanya Bintang dan dua orang temannya bersamaan.
"Itu Non, di depan ada orang yang menghadang kita!" jawab Pak Mun sambil menunjuk ke depan.
Lima orang pria berdiri tepat di depan mobil mereka.
"Itukan orang kemarin," kata Bintang.
"Maksud kamu?" tanya Dewi.
"Kemarin aku juga diikuti sama mereka."
Kelima orang itu berjalan mendekat ke arah mobil mereka.
"Suruh cewek yang bernama Bintang turun atau kita hancurin ni mobil!" suruh salah seorang dari mereka.
"Jangan, Bi!" cegah Ana dan Dewi saat Bintang akan membuka pintu.
"Iya Nyonya. Jangan! Biar saya yang keluar sambil menunggu bantuan datang," kata pak Mun.
Pak Mun keluar dari mobil. "Maaf, siapa kalian?" tanya Pak Mun. Bukannya menjawab, salah seorang dari mereka malah memukul Pak Mun dengan balok.
"Aaaaa!" Bintang, Ana dan Dewi berteriak karena terkejut dan juga takut.
"Kamu mau apa Bi?" tanya Ana dan Dewi.
"Yang mereka cari adalah aku, jika aku turun kalian tidak akan kenapa-napa," kata Bintang sambil membuka pintu mobilnya. Sebenarnya Bintang sangat takut tapi dia tidak mau melihat teman-temannya terluka, apalagi saat melihat kondisi Pak Mun yang sudah banyak mengeluarkan darah.
Bintang keluar dari dalam mobil. Dengan kaki gemetar dia melangkah mendekati mereka.
"Aku nggak bisa ngebiarin Bintang sendirian." Ana juga ikut keluar dari mobil tersebut, demikian juga Dewi. Keduanya ikut turun dari dalam mobil.
"Bi, kita adalah sahabat mana mungkin kita ngebiarin kamu menghadapi mereka sendirian," kata Ana.
"Iya. Bukankah masalah salah satu di antara kita adalah masalah kita bersama. Jadi, kalau mereka musuhmu mereka juga musuh kita bersama," tambah Dewi. Bintang mengangguk dan tersenyum.
Bintang, Ana dan Dewi berjalan mendekati kelima orang tadi.
"Nyonya jangan! Kalian pergi saja! Sebentar lagi bantuan pasti datang!" kata Pak Mun sambil memegangi kepalanya yang terluka.
Entah datang dari mana dua orang pria yang kemarin menolong Bintang, tiba-tiba berdiri di depan mereka bertiga.
"Nyonya, kalian larilah biar mereka menjadi urusan kami!" kata salah satu dari dua orang tadi.
Bintang, Ana dan Dewi segera berlari meninggalkan tempat itu. Setelah agak jauh mereka berhenti karena lelah.
"Aku tidak kuat, perutku sakit," ucap Bintang.
"Tapi kita tetap harus lari, Bi, kata Ana.
Bintang menghentikan langkahnya karena merasa perutnya semakin sakit dan kepalanya juga pusing.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Dewi yang melihat wajah Bintang memucat.
"An, Dew, aku...." belum sempat menyelesaikan perkataannya Bintang sudah jatuh pingsan.
Ana dan Dewi bingung, dia tidak tahu bagaimana cara membawa Bintang lari.
Ana langsung berdiri di tengah jalan raya untuk menghentikan mobil ketika ada sebuah mobil melaju di sana.
Hampir saja mobil menabraknya. Seorang laki-laki keluar memarahinya.
"Hei, cewek gila! Kalau mau bunuh diri jangan di depan mobil gua! makinya.
Bukannya menjawab Ana langsung menarik laki-laki tadi ke arah Bintang yang sedang pingsan.
"Tolong, bawa temen kita pergi dari sini. Dia di kejar orang jahat. Bawa dia ke rumah sakit!" pinta Ana.
Laki-laki itu menatap wajah Bintang.
"Bintang," kata laki-laki itu, dia langsung membawa Bintang masuk ke dalam mobilnya.
"Kalian tidak ikut?" tanya laki-laki itu.
"Kami akan mengelabuhi penjahat itu, tolong jaga teman kami!" kata Ana.
Ana dan Dewi, sengaja lari ke arah yang berlawanan dengan mobil yang membawa Bintang tadi.