
Rangga membuka pintu ruangannya, untuk sesaat dia berhenti dan menatap orang yang sudah menunggunya di sana.
" Untuk apa kamu ke sini?" tanya Rangga dengan menatap tajam orang yang berdiri di depannya.
"Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas kelancangan yang telah aku dan papaku lakukan", jawab orang yang itu.
" Pak Rangga, tolong maafkan aku", ucap orang itu yang tak lain adalah Ester.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa lagi bekerja sama denganmu. Aku tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak profesional", jawab Rangga.
Kemudian Rangga berjalan dan duduk di meja kerjanya.
" Pak Rangga, tapi kerjasama antara Wijaya Grup dan perusahaan MATSUHITO sudah berjalan setengahnya. Jika harus berhenti di tengah jalan bukankah itu sayang", ujar Ester.
"Selain itu,perusahaan MATSUHITO juga bukan perusahaanku atau pun perusahaan milik papaku. Aku hanya bekerja di sana. Jika Anda memutuskan kerjasama itu gara-gara aku,maka artinya Anda yang tidak profesional", tambah Ester.
Rangga terdiam cukup lama. Dia memikirkan perkataan Ester barusan. Apa yang dikatakan Ester memabg tidak salah,kerjasama antara Wijaya Grup dan perusahaan MATSUHITO memang sudah berjalan setengahnya. Jika berhenti di tengah jalan banyak orang yang akan dirugikan,terutama perusahaan miliknya.
" Baiklah aku tidak akan menghentikan kerjasama perusahaan Wijaya Grup dengan perusahaan milik tuan Hito. Lagian bukan aku juga yang menangani proyek kerjasama itu. Aku sudah menyerahkannya kepada Nando dan juga Sigit", tutur Rangga.
Rangga menyalakan komputer di depannya,dia mulai melihat beberapa berkas laporan di sana.
"Kenapa, masih di sini?", tanya Rangga saat melihat Ester masih diam di tempatnya.
" Pak Rangga... seandainya aku adalah orang yang lebih dulu bertemu dengan Bapak, apakah Bapak akan bisa jatuh cinta kepadaku?", tanya Ester hati-hati.
Rangga yang tadinya menatap ke layar komputer beralih menatap Ester kembali.
"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas,sejak aku bertemu dengan Bintang dan jatuh cinta padanya. Tidak ada tempat lagi di hatiku untuk orang lain", jawab Rangga tegas.
" Iya,aku tahu. Aku bisa melihatnya dari cara Pak Rangga menatapnya, juga cara Pak Rangga memperlakukannya. Sekali lagi aku minta maaf untuk sikap lancang aku dan papaku semalam. Permisi", setelah mengatakan itu, barulah Ester keluar dari ruangan Rangga.
Di depan pintu Ester berpapasan dengan Sigit.
"Ester,bisakah kamu menungguku di sini? Aku akan menyerahkan laporan ini sebentar", pinta Sigit.
" Baiklah, aku tunggu di lobi kantor saja",jawab Ester.
Sigit masuk ke ruangan atasannya itu untuk menyerahkan beberapa berkas. Beberapa menit kemudian dia langsung ke luar dan mencari Ester.
*****
"Katanya mau menungguku di lobi, kenapa malah kesini?", tanya Sigit saat melihat Ester duduk di kursi yang ada di depan gedung Wijaya Grup.
Sigit memberikan minuman ringan yang baru saja dia beli dari pedagang asongan. Kemudian dia duduk di samping Ester.
" Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Sigit.
"Lebih baik", jawab Ester sambil menyeruput minuman yang Sigit berikan .
" Aku juga sudah minta maaf kepada Pak Rangga atas kelancanganku semalam ", tutur Ester,dia kembali menyeruput minuman di tangannnya.
" Terimakasih ya, Git. Karena ucapanmu semalam aku jadi sadar akan sesuatu ", ucap Ester seraya melihat ke arah Sigit.
" Apa..?"
" Kalau kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima perasaan kita", jawab Ester dengan tersenyum kecut.
" Yakinlah,suatu saat kamu pasti akan menemukan orang yang kamu cintai dan mencintaimu", ujar Sigit.
Ester mengangguk.
"Aku pergi dulu ya,besok kita bertemu di lokasi proyek", pamit Ester.
Kemudian Ester bangkit dari posisinya yang semula duduk.
" Makasih ya untuk nasehat dan minumannya", ucap Ester. Perempuan itupun segera berjalan meninggalkan tempat itu.
"Hati-hati", teriak Sigit. Kemudian dia juga kembali masuk ke gedung Wijaya Grup.
*****
Pukul 10.00 wib,Harry dan Dinda baru saja keluar dari kamar mereka. Setelah memesan makanan dan memakannya di dalam kamar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui keluarga mereka yang masih berada di hotel.
" Mbok Inah dan Rini beneran akan pergi dari hotel sore ini?", tanya Dinda begitu dia masuk ke kamar Mbok Inah.
" Iya,Mbak. Sebelum kita pulang kampung, Mas Sigit sudah janji mau ngajak Rini dan ibu jalan-jalan ", jawab Rini sambil mengepak bajunya ke dalam koper.
" Lagian kita jugakan nggak mau gangguin bulan madu Mbak Dinda sama Mas Harry ", tambah Rini sambil terkekeh.
Dinda melihat ke arah suaminya.
" Ehm...Sayang aku ke lobi duluan ya,aku mau menemui ibu Yuna dulu", pamit Harry kepada istrinya.
"Iya,Mas. Nanti aku nyusul ke sana", jawab Dinda.
Kemudian Harry meninggalkan kamar tersebut.
"Mbak, semalam kalian main berapa ronde?", tanya Rini dengan memelankan suaranya.
Mendengar hal itu Mbok Inah memukul bahu anak perempuannya itu dengan tangan.
" Hussst, anak perawan kok ngomongnya ngelantur", tegur Mbok Inah.
" Sakit tahu,Bu" kata Rini sambil mengusap bahu yang di pukul ibunya tadi.
"Din,saiki kowe wes duwe bojo dadi kowe kudu manut karo omongane bojomu", nasehat Mbok Inah kepada cucu dari mantan majikannya itu
( Din,sekarang kamu sudah menjadi istri orang, jadi kamu harus menuruti perkataan suamimu ).
" Nggeh,Mbok. Matur nuwun kangge nasehate", ucapa Dinda.
( Iya,Mbok. Terimakasih untuk nasehatnya ).
"Mbok,Rini. Nanti kalau kalian mau ke rumahnya mas Sigit,bilang sama Dinda ya. Biar Dinda nyuruh sopir buat ngaterin Simbok sama Rini ke sana", kata Dinda.
" Iya,Mbak", jawab Rini.
"Aku tinggal dulu ya,nanti aku ke sini lagi", pamit Dinda.
"Iya", jawab Rini dan Mbok Inah.
*****
Siang itu Bintang sedang berada di ruangan Alex untuk berdiskusi tentang keadaan beberapa pasien.
" Menurutmu apa pasien itu memerlukan tindakan pembedahan?", tanya Bintang sambil menunjukan detail laporan seorang pasien kepada Alex.
"Aku rasa tidak perlu,dari yang aku lihat ini bisa di atasi dengan obat", jawab Alex sambil menatap laporan yang Bintang tunjukan barusan.
" Baiklah, besok aku akan memberitahaukan keluarganya", kata Bintang seraya mengambil kembali laporan tersebut dan memasukkannya ke dalam laci.
" Kalau begitu aku kembali ke ruanganku ya",pamit Alex.
"Tunggu, Lex. Si Ana menelpon", kata Bintang sebelum Alex keluar dari ruangannya.
Bintang menjawab telpon dari sahabatnya itu.
" Apa!?! Iya- iya,aku segera ke sana", kata Bintang setelah berbicara dengan Ana.
"Ada apa, Bi? Kenapa dengan Ana?" tanya Alex khawatir saat melihat perubahan raut wajah dari sahabat istrinya itu.
## *Kira-kira ada apa ya dengan Ana?. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote ya...biar author makin semangat buat update.
Sambil nunggu up berikutnya baca juga karya temen author di bawah ini*:
mampir juga ke karyaku yang satu lagi:
Terimakasih😘😘😘