
Bintang dan Lina segera menerobos kerumunan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Bintang melihat seorang ibu yang berdiri membelakanginya sambil memarahi Pak Prayoga,sementara Pak Prayoga hanya diam mendengar makian ibu itu.
" Maaf,Bu.Tolong jangan membuat keributan di rumah sakit",kata Bintang sambil berjalan mendekati mereka.
Bintang terkejut saat tahu siapa ibu yang memaki Pak Prayoga barusan.
"Ibu!?!", panggil Bintang saat tahu kalau orang itu adalah ibunya.
" Apa yang ibu lakukan di sini? Kenapa ibu menampar Pak Prayoga?",tanya Bintang kepada ibunya.
Ratih masih diam sambil melihat ke arah putrinya itu. Bibirnya bergetar seolah menahan sesuatu yang akan ke luar dari mulutnya.
Beberapa menit sebelum di rumah sakit.
## flash back on..
Ratih yang tahu kalau putrinya belum sarapan, sengaja membawakan makanan untuk di antar ke rumah sakit.
Ratih sangat paham dengan kebiasaan putrinya.Dia akan lupa makan saat sibuk dengan pekerjaannya meski perutnya belum diisi seharian.
Dengan memesan ojek online, Ratih segera menuju rumah sakit. Ratih langsung turun dari motor yang di tumpanginya saat motor tersebut berhenti di depan rumah sakit,tempat anaknya itu bekerja.
Ratih berjalan menyusuri koridor rumah sakit,setelah sebelumnya ada yang memberitahu ruangan dimana putrinya itu berada.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dia kenal.Sosok yang membuat dia dan keluarganya menderita.Sosok itu yang menyebabkan suaminya meninggal dan membuat anak-anaknya menjadi seorang yatim. Sosok itu adalah Pak Prayoga.
Pak Prayoga yang saat itu sedang berjalan dengan asistennya hendak meninggalkan rumah sakit.Di buat terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba menamparnya.
## flash back off.
"Bu,katakan kenapa ibu menamparnya?" tanya Bintang.
"Tidak apa-apa,Nak.Ibu hanya lepas kendali tadi", jawab Ratih.
" Tidak,pasti ada yang ibu sembunyikan. Katakan padaku alasan kenapa ibu menamparnya? "tanya Bintang sekali lagi. Bintang sangat paham dengan sifat ibunya,dia tidak akan menyakiti orang tanpa sebab.
" Tidak ada apa-apa,Sayang. Sebaiknya kita ke ruanganmu sekarang",jawab Ratih sambil berusaha membawa anaknya itu pergi dari tempat itu.
Namun langkah keduanya terhenti saat asisten Pak Prayoga mengatakan sesuatu.
"Nyonya, sebaiknya Anda minta maaf dengan Pak Prayoga dengan tindakan yang Anda lakukan barusan", seru asisten Pak Prayoga.
" Gery,sudah hentikan!",suruh Pak Prayoga kepada asistennya yang bernama Gery.
"Anda telah melakukan tindakan yang tidak menyenangkan di depan umum,Kami bisa melaporkan Anda ke polisi", kata Gery sambil memberikan tatapan dinginnya kepada Ratih.
Ratih tertawa kecut.
" Kamu memang benar orang kecil sepertiku mana bisa di bandingkan dengan Tuanmu itu. Meski dia telah melakukan mal praktek terhadap suamiku yang menyebabkan nyawanya hilang,dia tetap bisa menikmati kebebasannya sampai sekarang",kata Ratih tanpa ada rasa takut.
Bintang menatap ibunya,dia terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Anda jangan bicara sembarangan,Nyonya. Pengadilan sudah memberi keputusan kalau Pak Prayoga tidak bersalah.Jadi atas dasar apa Anda mengatakan kalau dia melakukan mal praktek", kata Gery lagi.
" Gery,sudah! Jangan bahas itu lagi, lebih baik kita pergi dari sini",ajak Pak Prayoga karena dia tidak ingin memperpanjang masalah.
"Tunggu Pak Prayoga!", seru Bintang.
Bintang berdiri tepat di hadapan Dr.Prayoga dan asitennya Gery.
" Jika memang Andalah orang yang harus bertanggung jawab atas hilangnya nyawa ayahku. Aku akan pastikan Anda akan segera mendekam di penjara. Aku akan mencari tahu kejadian yang sebenarnya terjadi di ruang operasi 14 tahun yang lalu. Camkan itu!",kata Bintang dengan menatap tajam dua orang di depannya itu bergantian.
Tanpa mengatakan apapun Pak Prayoga membawa asistennya itu pergi dari tempat itu.
"Bubar,semuanya bubar dan kembali bekerja", seru Lina kepada orang yang ada di tempat itu.
Bintang membawa ibunya ke ruangannya.
^°^°^°^°
" Bu,katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada ayah 14 tahun yang lalu!",seru Bintang.
Selama ini Bintang mengira kalau ayahnya meninggal karena sakit.
Ratih masih diam, sebenarnya dia tidak ingin menceritakan kejadian 14 tahun lalu kepada anak-anaknya.Dia tidak ingin kedua anaknya tumbuh dewasa dengan menyimpan dendam dan kebencian terhadap orang lain. Cukup dia yang menyimpan kebencian itu seorang diri.
"Ibu..",
" Nak,sudah lupakan saja. Lagian peristiwa itu juga sudah lama,ibu tidak ingin membicarakannya lagi",jawab Ratih.
"Ibu ke sini membawakan makanan untukmu.Ibu tahu kamu tidak sarapan tadi pagi,jadi ibu bawakan semua makanan ini", kata Ratih sambil membuka rantang yang dia bawa.
Ratih meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja.Dia sengaja melakukannya agar anaknya itu tidak lagi membahas kejadian 14 tahun lalu.
Ratih mulai menyuapi anaknya itu.
" Bagaimana enak tidak? ",tanya Ratih.
" Maaf,Nak. Ibu tidak mau kamu bekerja dengan menyimpan dendam.Ibu ingin agar kamu bisa bekerja dengan tulus",batin Ratih.
" Enak kok ,Bu. Kebetulan aku juga sangat lapar karena tidak sarapan tadi pagi ",jawab Bintang.
" Baguslah,sekarang habiskan makananmu sendiri karena ibu harus pulang. Mertuamu masih membutuhakan ibu untuk menyiapakan pernikahan Harry",kata Ratih. Kemudian dia meninggalkan putrinya itu di ruangannya.
"Aku tahu ibu sengaja tidak menjawabku. Tapi yakinlah aku akan mengungkap semua kebenaran yang terjadi 14 tahun lalu", batin Bintang.
Bintang kembali melanjutkan makannya,karena dia tidak mau menyi-nyiakan makanan yang telah di bawa oleh ibunya.
*****
Di perusahaan Wijaya Grup...
Rangga dan Nando begitu sibuk dengan persiapan meeting yang akan mereka lakukan dengan direktur dari perusahaan dari Jepang. Bahkan Rangga mengecek berkali-kali berkas yang akan menjadi bahan meeting pagi ini.
" Nando, apa ini angkanya sudah pas?"tanya Rangga sambil menatap berkas yang ada di tangannya.
"Itu angka yang tepat yang sudah aku hitung berkali-kali", jawab Nando.
" Kapan dia akan tiba di perusahaan kita?",tanya Rangga sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Semalam asistennya bilang kalau dia akan tiba sebelum jam satu siang ini",jawab Nando.
Rangga segera membereskan berkas-berkas yang akan dia bawa ke meeting hari ini.
Tidak lama kemudian ada panggilan dari resepsionis.
" Maaf Pak,Nona dari perusahaan MATSUHITO sudah berada di lobi",kata resepsionis memberi tahu.
"Bawa dia ke ruang meeting, aku dan Pak Rangga akan segera ke sana", jawab Nando.
" Nona?!? Nando,kamu bilang Pak Hito sendiri yang akan menghadiri meeting hari ini? Kenapa jadi Nona? ",tanya Rangga kepada Nando.
" Mana aku tahu,semalam Pak Hito bilang begitu padaku. Mungkin Nona itu sekertaris yang menemani Pak Hito untuk meeting hari ini",jawab Nando
"Ya sudah kita temui dia sekarang", ajak Rangga.
Rangga dan Nando segera ke ruang meeting untuk bertemu dengan orang dari perusahaan yang di maksud.
Rangga melihat kesekeliling saat tidak melihat siapa pun di ruang meeting, kecuali seorang wanita yang sedang duduk membelakangainya sambil meliahat berkas yang ada di meja.
Rangga memberikan kode kepada Nando untuk menyapa wanita yang sedang duduk tersebut dengan matanya.
" Maaf, Nona. Ini Pak Rangga direktur sekaligus CEO perusahaan kami",kata Nando yang membuat wanita itu berdiri dan berbalik ke arah mereka.
Wanita itu tersenyum lebar saat melihat Rangga di depannya.
"Hallo Pak Rangga, saya ke sini mewakili Pak Hito", ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Rangga menatap wanita itu malas, rasanya dia tidak ingin melanjutkan kerjasama yang sudah di bicarakannya dengan Pak Hito.
" Nando, kamu wakili aku untuk meeting dengannya",suruh Rangga kepada Nando.
"Maaf Pak Rangga, Pak Hito bilang harus Anda sendiri yang membahas kerjasama ini", sela wanita itu.
Dengan terpaksa Rangga duduk di depan wanita itu.Kemudian mereka mulai membahas bentuk kerjasama yang mereka inginkan.
Setelah satu jam mereka meeting,akhirnya mereka mencapai sebuah kesepakatan.
" Terimakasih,Pak Rangga. Semoga kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar"ucapa wanita itu yang kembali mengulurkan tangannya.
Meskipun malas,Rangga membalas uluran tangan wanita itu.
"Permisi,Pak Rangga. Kita pasti bertemu lagi dalam waktu dekat".
Wanita itu pergi dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
" Siapa dia? Sepertinya kalian saling kenal? ",tanya Nando penasaran.
" Bukan siapa-siapa ",jawab Rangga karena dia benar-benar malas harus bertemu lagi dengan wanita itu.