Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 152


"Melakukan apa?", tanya Bintang yang pura-pura tidak tahu maksud dari suaminya itu.


Namun saat tubuh Rangga mulai mendekat ke arahnya, Bintang segera menahan tubuh suaminya itu dengan tangannya.


" Iya iya aku tahu. Kita lakukan itu malam ini di rumah. Aku tidak mau jadi tontonan gratis di sini ",kaya Bintang.


Rangga terkekeh melihat ketakutan istrinya itu. Rangga mulai menyalakan mobilnya.Kemudian mobil sport warna hitam itupun meninggalkan halaman rumah sakit.


*****


Ketika sampai di rumah keluarga Wijaya, Bintang dan Rangga turun dari mobil.Mereka di sambut oleh kedua malaikat kecil mereka.


" Mommy..."


"Daddy...."


Panggil Mikha dan Tama seraya berlari ke arah kedua orang tua mereka.


Keduanya memeluk daddy dan mommy mereka.


"Bagaimana dengan sekolah kalian hari ini?" tanya Bintang.


"Kami mengerjakan tugas di sekolah dengan baik,kami juga tidak nakal" jawab Tama.


"Iya,Mommy. Tama hari ini bersikap baik di sekolah,bahkan dia dapat bintang lima dari bu guru", imbuh Mikha.


" Wah anak-anak mommy memang hebat",puji Bintang.


"Kalian memang anak yang pintar.Teruslah menjadi anak kebanggaan mommy dan daddy", kata Rangga.


" Hai,Bi.Hai Pak Rangga ",sapa Dinda yang berada di ruang tamu bersama dengan Harry dan mama Mia.


" Kamu sudah balik,Din?",tanya Bintang.


"Aku ke kamar dulu ya,Sayang" kata Rangga kepada Bintang.


"Iya,Mas.Nanti aku menyusul", jawab Bintang.


" Silahkan kalian lanjutkan lagi",seru Rangga sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Bintang menggandeng tangan kedua anaknya dan berjalan ke arah sofa tampat yang lainnya berada.


"Din,kapan kamu balik? Kok kamu nggak ngasih tahu aku sih?", Bintang mendudukkan dirinya di sebelah Dinda.


" Sudah beberapa hari yang lalu, cuma aku baru kesini"jawab Dinda.


"Aku benar-benar khawatir saat tahu kamu pergi waktu itu.Tapi aku senang karena akhirnya kamu kembali", kata Bintang.


" Ohya Kak Rania bilang persiapan pernikahan kalian sudah 80% dan tinggal memilih baju yang akan kalian gunakan. Apa kalian sudah menentukan baju seperti apa yang akan kalian pakai?" tanya Bintang kepada Harry dan Dinda.


"Sudah, tadi siang kami sudah ke tempat desainernya", jawab Dinda.


" Bagus deh,berarti persiapannya sudah hampir final",kata Bintang


" Maaf ya aku mandi dulu,gerah",kata Bintang sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tama,Mikha.Mommy mandi dulu ya. Kalian di sini temani grandma, om Harry dan tante Dinda", seru Bintang kepada dua anaknya.


" Oke,mommy "jawab keduanya.


Bintang segera meninggalkan tempat tersebut dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


" Din,jadi berapa tamu yang ingin kamu undang.Biar sekalian di cetak?",tanya Mia kepada calon menantunya tersebut.


"Tidak banyak,Ma.Hanya beberapa teman sejawat dan orang yang sudah aku anggap keluarga", jawab Dinda.


" Baiklah kalau begitu biar sekalian kami yang mencetaknya",kata mama Mia.


Mereka melanjutkan perbincangan mereka tentang pesta pernikahan yang akan Harry dan Dinda gelar beberapa minggu lagi.


******


Saat memasuki kamarnya, Bintang melihat suaminya masih mengenakan baju kantornya.Dia duduk di sofa yang ada di dalam kamar dengan laptop di pangkuannya.


"Kamu belum mandi,Mas?" tanya Bintang sambil meletakkan tas miliknya di atas nakas.


"Aku menunggumu", jawab Rangga sambil menutup laptop yang ada di pangkuannya dan meletakkannya di meja.


" Kenapa harua menungguku?",tanya Bintang.


"Aku ingin mandi bersamamu", jawab Rangga sambil memeluk istrinya itu dari belakang.


" Mas....tap..."


Belum selesei dia menjawab,Rangga sudah menggendongnya masuk ke kamar mandi.


Mandi yang seharusnya sebentar menjadi lama karena mereka melakukan kegiatan lain di sana.


*****


Di tempat lain...


Pak Prayoga duduk di balkon rumahnya sambil menyeruput secangkir kopi di tangannya. Dia segera meletakkan cangkir di tangannya di atas meja, ketika kopi di dalamnya tinggal ampasnya saja.


Sambil menatap langit yang mulai gelap,dia menghela napasnya seolah melepas beban berat di hatinya.


"Pak, ada apa?", tanya Gery yang sedari tadi duduk diam di sebelahnya.


" Wanita itu memang pantas menamparku.Bahkan dia pantas melakukan yang lebih dari itu",jawabnya sambil mengingat tamparan yang di berikan oleh Ratih tadi siang.


"Pak,semua itu bukan salah Anda. Bukan Anda yang melakukan operasi itu", kata Gery


" Tapi operasi itu dilakukan atas namaku. Dan waktu itu aku bahkan tidak mencegahnya.Aku membiarkan direktur rumah sakit menyuruh orang lain menggantikanku.Padahal aku tahu kalau dokter yang menggantikanku mengoperasinya adalah dokter yang baru seminggu magang dan bahkan belum pernah melakukan operasi sekalipun. Apalagi dokter itu malakukan operasi tersebut tanpa di didampingi dokter senior.Waktu itu aku hanya fokus dengan pasien VIP saja.Padahal harusnya aku juga memperhatikan pasienku yang lain",tutur Pak Prayoga.


"Gery,apa kamu tahu sesuatu tentang dokter wanita itu?", tanya Pak Prayoga.


" Dia bernama Bintang Permata Putri, dokter sekaligus istri dari pengusaha muda Rangga Wijaya. Aku dengar saat ini,Rangga Wijaya sedang mendirikan rumah sakit di pedesaan untuk istrinya. Rumah sakit yang di peruntukkan bagi orang-orang yang tidak mampu",jawab Gery panjang lebar.


"Apa mereka sudah mendapatkan dokter ahli yang akan di tugaskan di sana?", tanya Pak Prayoga.


" Sepertinya mereka belum merekrut dokter apapun,karena kelihatannya pembangunan rumah sakit tersebut masih dalam tahap awal",jawab Gery lagi.


"Begitu ya", kata Pak Prayoga.


" Anda tidak berniat untuk bekerja di rumah sakit itu kan? Karena saya yakin,istri dari Rangga Wijaya itu tidak akan bersedia menerima Anda di sana",kata Gery saat melihat senyum aneh di bibir atasannya itu.


"Bukankah kamu pandai dalam membuat identitas palsu? Jadi bantulah aku masuk ke rumah sakit itu saat rumah sakit itu akan di buka", kata Pak Prayoga.


" Tapi,Pak..."


"Aku juga ingin mengabdikan ilmuku untuk orang-orang yang tidak mampu", sela Pak Prayoga.


" Baiklah,kalau itu yang ingin Bapak lakukan",jawab Gery pasrah.


Pak Prayoga adalah seorang dokter ahli bedah.Dia di kenal sangat piawai dalam hal mengoperasi.Hampir semua operasi yang dia lakukan berhasil.


Pada suatu hari ada pasien dengan penyakit usus buntu yang harus segera mendapatkan penanganan darinya,pasien itu bernama ALFIAN. Awalnya Alfian di tangani oleh dokter Prayoga. Tapi menjelang operasi berlangsung,mendadak ada pasien VIP yang mengalami gagal jantung dan harus segara di operasi.


Pada saat itu Pak Prayoga yang akan melangsungkan operasi usus buntu pada Alfian.Tiba-tiba di panggil oleh direktur rumah sakit untuk mengoperasi pasien lain.


#Flash back on..


"Pak direktur,tidak bisakah Anda menunggu sampai saya melakukan operasi pada pasien usus buntu ini?" tanya Pak Prayoga kepada direktur rumah sakit tersebut.


"Tinggalkan saja,nanti aku akan menyuruh dokter lain menggantikanmu.Lagian dia hanya orang miskin", jawab direktur rumah sakit itu.


" Keluar lah dari ruang operasimu,dan segera kamu lakukan operaai pada pasien VIP tersebut. Aku akan menyuruh orang menggantikanmu mengoperasi pasien itu",seru direktur rumah sakit melalui sambungan telponnya.


"Benar apa kata direktur,mengoperasi orang miskin tidak akan membuatku cepat kaya", batin Pak Prayoga waktu itu.


Tanpa merasa berdosa Pak Prayoga meninggalkan Alfian di meja operasi. Dia ke ruang operasi lain,untuk mengoperasi pasien VIP.


Namun saat dia selesei melakukan operasi pada pasien VIP, dia mendengar kalau pasien yang harusnya menjadi tanggung jawabnya meninggal di meja operasi.


Pak Prayoga benar-benar syok mendengarnya.Apalagi ketika dia bertanya kepada direktur siapa yang menggantikannya melakukan operasi usus buntu tersebut. Dengan santainya direktur itu mengatakan dia menyuruh dokter magang yang belum lulus untuk melakukan operasi itu.


" Kamu benar-benar gila.Bukankah ada dokter bedah lain yang juga ahli,kenapa kamu malah menyuruh dokter magang yang belum berpengalam melakukan operasi bahkan tanpa dokter ahli pendamping",maki Pak Prayoga dengan menarik kerah baju direktur tersebut.


"Dia hanya pasien miskin, jangan berlebihan seperti itu menanggapinya", kata direktur itu santai.


" Lagian meninggal di meja operasi itu wajar.Jadi tidak usah seserius",kata direktur itu sambil melepaskan kerah baju yang di cengkeram oleh Pak Prayoga.


"Tapi keberhasilan operasi itu 90%,aku bisa melaporkan ini ke badan pengawas", kata Pak Prayoga.


" Lapor saja,kamu lupa kalau kamulah yang menandatangani surat operasi itu",ancam direktur itu.


Setelah mengatakan hal itu,direktur tersebut melenggang melewati Pak Prayoga.


Rasa bersalah Pak Prayoga semakin menjadi saat melihat wanita dengan dua anak perempuannya menangis pilu,di depan mayat suaminya.


Pak Prayoga mendekati wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


"Maaf", ucapnya kepada wanita yang sedang menangis itu.


"Anda bilang operasinya akan berhasil,tapi kenapa sekarang suamiku terbujur kaku seperti ini?", kata wanita itu.


" Maaf, maafkan aku",hanya kata-kata itu yang bisa dia ucapkan.


"Ayah...bangun ayah! Jangan tinggalkan kami", kata kedua anak perempuannya.


" Sayang, ayah sudah di ambil oleh Tuhan. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi.Jangan sedih ya Nak",bujuk wanita itu kepada dua anaknya yang sedang menangis.


"Silahkan,anda pergi dari sini", seru Ratih kepada Pak Prayoga.


Pak Prayoga pun pergi meninggalkan tempat itu dengan penyesalan yang mendalam.


Setelah itu,Ratih mencoba menuntut pihak rumah sakit melalui jalur hukum.Tapi usahanya sia-sia, rumah sakit dinyatakan tidak bersalah. Bahkan saat itu Ratih malah harus berurusan dengan hukum.


Namun diam-diam Pak Prayoga membantunya,sehingga Ratih juga di bebaskan dari tuduhan oencemaran nama baik.


#Flash back off..


*****


(Kediaman keluarga Wijaya)


Malam itu, Rangga berniat mengajak Bintang dan kedua anaknya untuk makan malam di luar.


Rangga dan kedua anaknya sudah menunggu Bintang di depan rumah.


" Kenapa Mommy kalian lama sekali ",gerutu Rangga.


" Biar,Mikha panggil",kata Mikha seraya kembali masuk ke dalam rumah.


15 menit sudah berlalu,tapi sekarang bukan hanya istrinya saja yang belum datang. Malah sekarang anaknya juga ikutan tidak muncul lagi.


"Tama,coba kamu panggil Mommy dan Mikha", suruh Rangga pada anak laki-lakinya.


" Baik,Daddy ",jawab Tama sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Rangga menunggu istri dan anaknya sambil memainkan ponsel di tangannya.


" Sayang,kenapa kamu lama sekali",ucap Rangga saat lengannya di peluk oleh seseorang.


"Mas,siapa dia?", suara itu membuat Rangga menoleh ke sampingnya dan menatap orang yang memeluk lengannya.