
Setelah selesei Bintang membereskan rantang yang dia bawa.
"Aku pulang ya, Sayang" pamit Bintang.
"Kenapa buru-buru?" tanya Rangga sambil memeluk istrinya itu dari belakang.
"Aku harus kembali ke restorannya Ana. Sekalian mau cari buku buat tugas kuliah besok," jawab Bintang.
Rangga melepaskan pelukannya. "Ingat, Sayang! Jangan terlalu capek, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita!" kata Rangga.
"Iya, Aku ngerti, kok. Aku akan istirahat kalau sudah merasa capek," jawab Bintang.
"Aku pulang sekarang ya," pamit Bintang lagi.
"Iya. Hati-hati ya, Sayang," kata Rangga kemudian mencium kening istrinya. Sepeninggal Bintang, Cellin masuk ke ruang Rangga.
"Kak Rangga, Celin benar-benar minta maaf," ucap Celin dengan wajah memelas.
Rangga masih diam tidak menjawab, dia malah sibuk dengan pekerjaannya.
"Kak," panggil Celin.
Rangga menghentikan aktivitasnya, dia menatap Celin intens.
"Denger ya Celin! Aku menganggapmu sebagai adikku.Jadi jangan lakukan hal yang akan membuatku membencimu. Ingat itu!" kata Rangga penuh dengan penekanan.
"Iya, Kak.. Tapi Kak Rangga maafin akukan?" tanya Celin lagi. Dia masih memasang wajah memelasnya.
"Iya. Keluarlah dari ruanganku, aku sibuk! Aku sibuk." jawab Rangga yang kembali fokus pada pekerjaannya.
Celin keluar dari ruangan Rangga, dia semakin membenci Bintang.
"Awas kamu Bintang! Aku pasti akan menyingkirkanmu dengan cara apapun," batin Celin penuh kebencian.
*****
Setelah mengerjakan pekerjaan di restoran milik Ana. Bintang meminta izin kepada Ana untuk pulang lebih awal. Tentu saja hal itu langsung disetujui oleh Ana. Tadinya Bintang ingin meminta Rangga untuk menjemputnya. Tetapi, dia mengurungkan niatnya tersebut ketika melihat orang yang dia kenal masuk ke dalam ruangan yang didekorasi oleh Bintang siang tadi.
Bintang melihat ruangan tersebut dari luar. Dia melihat orang tersebut sedang berbicara dengan orang yang tadi pagi dia lihat. Tetapi, kali ini mereka datang bersama dengan orang lain lagi yang kemungkinan adalah rekan bisnisnya.
"Bi, katanya mau pulang, kok masih di sini?" tanya Ana.
"Oh, iya. Ini aku udah mau pulang kok," jawab Bintang.
Bintang sampai di rumah 10 menit setalah suaminya. Dengan banyak pertanyaan di hatinya, dia masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kok baru pulang?" tanya Rangga saat melihat sang istri masuk kedalam kamar.
"Tadi, aku ada urusan sebentar," jawab Bintang, kemudian dia kembali diam. "Ohiya, Sayang, Suami Kak Rania orangnya seperti apa sih?" tanya Bintang.
"Oh... Kak Agung Dia seorang pebisnis yang hebat. Dulu dia yang membantu Kak Rania menyelesaikan masalah di perusahaan almarhum Papa yang ada di Luar Negri. Karena itulah kemudian mereka menikah," jawab Rangga.
"Boleh aku lihat fotonya?"
Rangga mengambil ponselnya dan membuka galeri kemudian menunjukkannya pada Bintang.
"Aku hanya punya foto saat pernikahan mereka," kata Rangga. Bintang memperhatikan foto tersebut dan benar saja laki-laki yang dia lihat tadi pagi di jalan dan di restoran adalah suami Rania.
"Kenapa Kakak tidak membawa suaminya kemari?" batin Bintang.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rangga lagi.
"Tidak ada apa-apa" jawab Bintang.
Bintang begitu mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya, apalagi saat mengingat ekspresi Kakak Iparnya yang terlihat seperti sedang tertekan.
"Kamu mau kemana?" tanya Rangga.
"Aku antar ya" kata Rangga, "Tidak usah biar Pak Mun saja yang mengantarku," jawab Bintang.
"Baiklah, kebetulan aku juga ada meeting lewat video sebentar lagi. Tapi kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku!
"
"Iya Sayang, pasti, " kata Bintang.
Bintang segera kembali ke restoran Ana, dia mencari keberadaan Kakak iparnya di sana. Tetapi karena tidak melihat keberadaan kakak iparnya tersebut, akhirnya Bintang memilih untuk langsung pulang. Namun, sesampainya di parkiran dia melihat Rania masuk kedalam mobil bersama dengan dua orang lelaki yang salah satunya adalah suami kakak iparnya.
"Pak Mun, tolong ikuti mobil yang di depan ya!Sepertinya aku melihat orang yang aku kenal!" suruh Bintang pada sopirnya. Pak Mun mengikuti perintah majikannya, dia mengikuti mobil warna hitam di depan mereka.
Mobil yang diikuti tadi berhenti di sebuah hotel Bintang lima.
"Bukankah itu Non Rania ya, Neng?" tanya Pak Mun saat melihat Rania keluar dari dalam mobil.
"Pak Mun, tolong Pak Mun tunggu di sini ya. Aku akan mengikuti mereka!" titah Bintang.
"Tapi Neng..." Belum selesei pak Mun menjawab, Bintang sudah berlari keluar dari dalam mobil.
Bintang mengikuti mereka dari belakang.
"Cepat Nia,kamu segera temani Direktur dari perusahaan XXX. Ingat kamu harus membuatnya puas agar dia mau menandatangi kontrak kerjasama dengan perusahaanku!" suruh Agung, Suami Rania.
"Mas, aku tidak mau melakukan itu! Aku ini istrimu. Kenapa kamu tega memperlakukanku seperti ini?" Rania berusaha menolak.
"Aku tidak perduli. Yang jelas aku harus mendapatkan kontrak itu." Jawab Agung. Dia berusaha mendorong Rania masuk ke kamar hotel.
"Tidak! Aku tidak mau melakukan itu lagi!" tolak Rania. Dia terus memohon sambil menangis. Tetapi Agung tetap memperdulikannya. Bintang yang melihat itu tidak bisa tinggal diam. Dia segera menarik Agung dan mendorongnya hingga jatuh.
Agung terkejut saat ada wanita yang tiba-tiba berani mendorongnya. Rania juga terkejut melihat keberadaan Bintang di sana.
"Hai. Kau ini banci atau apa? Kau tega menyuruh istrimu melayani laki-laki lain hanya demi sebuah kontrak? Suami macam apa kau ini?!"
"Siapa kamu? Beraninya kau ikut campur urusanku," ucap Agung marah.
"Aku adalah adik iparnya. Kenapa?" tanya Bintang.
"O... Jadi kau istrinya Rangga? Laki-laki bodoh yang hanya gara-gara dikhianati wanita menjadi seorang pecundang?"
"Benarkah? Mungkin beberapa tahun terakhir ini kau tidak membuka internet atau televisi ya?Atau jangan-jangan selama ini kau sibuk mencari cara licik untuk mendapatkan kontrak kerjasama makanya kau tidak tahu berita apapun tentang suamiku" jawab Bintang dengan tatapan dinginnya.
"Apa maksudmu?" tanya Agung.
Bintang membuka situs berita bisnis di ponselnya, kemudian dia menunjukkan berita yang dia cari kepada Agung.
"Kau lihat berita hari ini?" tanya Bintang yang menunjukkan sebuah artikel yang berjudul 'PEBISNIS NOMOR SATU SE ASIA DIREKTUR WIJAYA GRUP' dan di sana juga tertara foto Rangga.
"Itu orang yang kau bilang pecundang"
Agung terdiam. Tidak bisa dipungkiri kalau laki-laki yang pernah terlihat putus asa ketika dikhianati oleh kekasihnya tersebut sudah menjadi pebisnis yang handal.
"Sekarang lepaskan Kak Rania!" suruh Bintang.
"Siapa kamu hingga berani mengancamku?" Agung mencengeram kerah baju Bintang.
"Aku sudah memberitahu sopirku soal ini. Jika dalam lima belas menit aku tidak kembali, maka mereka akan datang dengan membawa polisi!" ancam Bintang. Terpaksa agung melepaskan cengkeramannya.
"Bintang, kamu tidak apa-apakan?" tanya Rania yang mengkhawatirkan keadaan iparnya. dia membantu Bintang untuk berdiri.
"Tidak apa-apa, Kak. Bagaimana keadaan Kak Nia?Apa tadi suami Kakak melukai Kakak?" Bintang malah balik menanyakan keadaan Kakak iparnya.
Rania memeluk adik iparnya tersebut. "Terimakasih Bintang, terimakasih, kau telah menyelamatkan aku. Terimakasih," ucap Rania