
Semua pekerja yang tadinya sedang duduk bersantai di lokasi pembangunan proyek rumah sakit langsung berdiri dengan kepala yang tertunduk. Mereka ketakutan mendapat tatapan dingin dan menakutkan dari laki-laki yang sedang beridiri di depan mereka. Tatapan yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa terintimidasi.
Para pekerja itu memang sebelumnya sudah di beri tahu, kalau bos besar mereka akan berkunjung ke lokasi proyek. Tapi mereka tidak pernah menyangka kalau itu adalah hari ini.
"Apa Wjaya grup menggaji kalian untuk duduk bersantai di tempat ini? Hah!" teriak Rangga di depan para pekerja itu.
Tubuh para pekerja itu bergetar karena ketakutan.
"Maaf, Tuan," salah seorang pekerja mengangkat satu tangannya. Dia memberanikan diri untuk menatap bos besar mereka itu.
"Ada apa?" tanya Rangga dengan memberikan tatapan tajamnya.
"Sudah hampir dua bulan ini, kami tidak mendapatkan gaji kami. Makanya kami bermalas-malasan, Tuan. Kami sudah bekerja dengan sungguh-sungguh selama ini, tapi kami sama sekali belum mendapatkan hak kami dalam 2 bulan terakhir ini," tutur salah seorang pekerja yang mengangkat tangannya tadi.
"Bagaimana mungkin?!? Wijaya grup selalu mentransfer gaji kalian tiap bulannya, bahkan kami selalu memberikan bonus di tiap minggunya untuk pekerja yang sering lembur," sanggah Rangga.
"Tapi, Tuan. Itu memang benar, sudah dua bulan ini kami belum mendapatkan gaji kami. Bahkan setiap kami meminjam uang pada mandor proyek, Kami harus mengembalikannya dua kali lipat," sambung pekerja yang lainnya.
"Iya, Tuan. Itu benar," kata pekerja yang lainnya lagi.
Rangga menatap satu per satu para pekerja di depannya. Dia ingin melihat adakah kebohongan di mata para pekerja itu. Tapi Rangga tidak melihat itu di mata mereka, itu artinya ada sesuatu yang terjadi di sini.
"Mas.." panggil Bintang kepada suaminya.
Bintang membisikkan sesuatu di telinga suaminya.
"Apa menurutmu itu akan berhasil?" tanya Rangga.
"Pasti berhasil percayalah," jawab Bintang penuh percaya diri.
"Kalian bekerjalah dengan baik! Hari ini juga aku akan memberikan gaji kalian yang selama 2 bulan ini belum di berikan berikut bonusnya."
"Alhamdulillah. Terimakasih, Tuan," ucap para pekerja itu senang.
"Tapi, aku ingin meminta bantuan pada kalian," kata Rangga kemudian.
"Bantuan apa, Tuan?" tanya para pekerja tersebut.
Rangga mulai menjelaskan bantuan apa yang dia inginkan dari para pekerjanya.
"Baiklah, Tuan. Anda jangan khawatir, kami semua pasti akan membantu Anda," jawab salah seorang pekerja.
"Iya, Tuan. Kami pasti akan membantu Anda," sambung para pekerja yang lain.
"Sekarang lanjutkan pekerjaan kalian!" seru Rangga.
"Baik, Tuan."
Akhirnya para pekerja itu kembali melanjutkan pekerjaannya, dan kali ini mereka bekerja lebih semangat dari hari-hari sebelumnya.
*****
"Apa ini cocok untukku, Sayang?" tanya Rangga sambil melihat dirinya di depan cermin.
"Itu sangat cocok, Mas. Yah...meskipun wajah Mas Rangga yang terlalu tampan ini tidak cocok menjadi seoarang pekerja bangunan," jawab Bintang seraya menatap suaminya itu dari atas hingga ke bawah.
Ya, saat ini Rangga sedang mencoba memakai pakaian yang sama seperti yang di kenakan para pekerja proyek.
"Seandainya aku hanyalah pekerja proyek, apa kamu akan tetap mencintaiku, Sayang?" tanya Rangga.
"Ehmmm," Bintang berpura-pura sedang berfikir.
"Jangan bilang kalau kamu hanya mencintaiku karena hartaku, karena aku pasti akan sangat kecewa," kata Rangga yang berpura-pura merajuk.
"Wah, Sayang, ternyata tebakanmu benar. Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku mencintaimu karena hartamu?" kata Bintang bercanda.
"Astaga, ternyata istriku ini materialistis juga."
"Semua wanita itu materialistis, Mas. Termasuk istrimu ini," jawab Bintang yang kembali dengan candanya.
Mendengar jawaban Bintang, Rangga kembali berpura-pura merajuk. Dia memalingkan wajahnya dari istrinya itu.
"Mas, aku akan selalu mencintaimu bagaimana pun keadaanmu," ucap Bintang seraya memeluk tubuh tegap suaminya.
"Benarkah?" tanya Rangga.
Bintang mengangguk pasti.
"Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup menderita. Seandainya aku hanya pekerja biasa aku akan bekerja siang malam untuk bisa memenuhi kebutuhanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup kekurangan," kata Rangga dengan menatap manik mata istrinya tersebut.
"Ingat, Mas. Ini masih di lokasi proyek! Mas lupa kalau ini toilet untuk para pekerja. Bagaimana kalau mereka tiba-tiba masuk dan melihat apa yang sedang kita lakukan?"
"Maaf, Sayang aku lupa," jawab Rangga.
Rangga dan Bintang saat ini sedang berada di sebuah toilet yang di khususkan untuk para pekerja. Rangga berada di dalam kamar mandi toilet tersebut untuk mengganti setelan jasnya dengan kaos oblong dan celana kusut persis seperti yang di pakai para pekerja proyek di tempat itu.
"Tapi aku akan memintanya malam ini," kata Rangga lagi.
"Jangan khawatir, Mas. Malam ini aku akan memberikan yang Mas minta, berikut bunganya," jawab Bintang seraya mengerlingkan matanya.
"Selain materialistis ternyata istriku pandai merayu juga rupanya," kata Rangga sambil mencuit hidung mancung istrinya tersebut.
Rangga dan Bintang segera keluar dari kamar toilet tersebut. Rangga bergabung dengan para pekerja lain, sementara Bintang dia menemui manager proyek sendirian.
*****
"Apa Anda manager proyek di sini?" tanya Bintang ketika dia masuk di sebuah ruangan.
Di sana ada seorang pria berumur sekitar 40-an sedang duduk dengan kaki yang di berada di atas meja.
"Maaf, maaf," ucap manager itu gugup.
Manager tersebut berdiri dan berjalan menghampiri Bintang.
"Apa Anda istri dari Tuan Rangga Wijaya?" tanya manager tersebut.
"Benar, aku Bintang Wijaya, istri dari Rangga Wijaya," jawab Bintang dengan penuh percaya diri.
"Apa Anda datang seorang diri?" tanya manager tersebut sambil melihat ke arah luar.
"Iya, Aku ke sini sendiri. Suamiku masih banyak pekerjaan di kota, jadi aku mewakilinya," jawab Bintang santai.
Bintang berjalan melewati manager tersebut dan duduk di kursi yang tadi sempat di duduki oleh sang manager.
"Wah, ternyata pekerjaan Anda menyenangkan juga ya. Ongkang-ongkang kaki tanpa memperhatikan bagaimana jalannya proyek," sindir Bintang.
"Nyonya, Anda salah. Aku selalu mengawasi para pekerja dengan baik," manager tersebut mencoba membela diri.
"Benarkah?" tanya Bintang lagi.
"Tentu saja, Nyonya. Kalau Anda tidak percaya, saya bisa mengantar Anda untuk berkeliling melihat jalannya pembangunan," kata manager itu.
"Siapa nama Anda?" tanya Bintang tanpa melihat ke arah sang manager.
"Saya Yudi, Nyonya," jawab manager yang ternyata bernama Yudi.
"Baiklah, Pak Yudi. Mari temani saya berkeliling!" ajak Bintang.
Dengan di temani oleh Pak Yudi, Bintang berjalan menuju ke lokasi pebangunan proyek.
Pak Yudi begitu gugup ketika melihat para pekerja sedang duduk bersantai, meraka bahkan memutar musik radio dengan sangat keras.
"Hentikan! Hentikan ini!" seru Pak Yudi kepada para pekerja.
Bukannya menanggapi omongan Pak Yudi, salah seorang pekerja malah semakin mengeraskan bunyi radio yang mereka putar.
Karena kesal Pak Yudi, mematikan radio tersebut.
"Kenapa kalian malah bermalas-malasan?" tanya Pak Yudi geram.
Para pekerja itu hanya diam tanpa memperdulikan ucapan dari Pak Yudi.
"Pak, apa ini cara mereka bekerja?" tanya Bintang kepada Pak Yudi.
"Nyonya, biasanya mereka tidak seperti ini," Pak Yudi berusaha membela diri.
"Aku akan melaporkan kepada Mas Rangga tentang semua ini, Permisi!" kata Bintang seraya berlalu dari tempat tersebut.
Begitu Bintang sudah tidak terlihat dari jangkauan, Pak Yudi melampiaskan amarahnya kepada para pekerja itu.
"Apa yang kalian lakukan?!? Kalau sampai dia melaporkan hal ini pada Rangga Wijaya, aku pastikan aku tidak akan menggaji kalian lagi! Dan gaji kalian dua bulan kemarin tidak akan pernah aku berikan!" ancam Pak Yudi.
"SUDAH BERAPA KALI KAMU TIDAK MEMBERIKAN GAJI MEREKA?"
➡️ Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak dengan memberikan like,komen dan vote sebanyak-banyaknya. Author tunggu🤗🤗🤗