
"Sayang, kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu sepertinya memikirkan sesuatu?" tanya Rangga seraya duduk di bangku sebelah istrinya.
Bintang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku tidak memikirkan apa-apa kok,mungkin aku hanya sedikit lelah" jawab Bintang berbohong.
"Ohya Mas,kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya villa yang mewah di tempat ini?Bahkan villa ini jauh lebih mewah dan indah di bandingkan villa yang pernah kita kunjungi waktu itu"
"Benarkah?tapi aku lebih suka villa yang pernah kita kunjungi dulu"
"Kenapa?"
"Karena di villa itu ada kenangan kita berdua.Disanalah kita menghabiskan malam pertama kita.Jadi menurutku villa itu jauh lebih indah dari pada villa ini." jawab Rangga dengan mata berbinar.
"Kapan-kapan kita kesana lagi yuk! Sekalian bikin adik buat Tama dan Mikha" goda Rangga dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih Mas.Tama dan Mikha masih kecil,apalagi aku baru kembali kuliah.Aku belum ingin nambah anak" jawab Bintang
"Lagiankan kenapa harus kembali ke sana,tiap malam juga kita selalu bikin adik buat Tama dan Mikha,meski sengaja nggak di bikin jadi sih" tambah Bintang dengan suara yang sedikit lirih.
"Iya ya,kamu kan pakai alat kontrasepsi.Jadi meskipun kita lembur tiap malam adik buat Tama dan Mikha juga nggak akan jadi"
"Sayang,gimana kalau kamu nggak usah pakai alat kotrasepsi lagi.Aku nggak masalah kok kalau kita punya anak 10 lagi.Aku pasti sanggup biayai kalian semua"kata Rangga antusias.
Bintang mencubit pinggang suaminya.
"Pokoknya aku belum mau nambah anak lagi sebelum aku lulus kuliah"
"Ayolah Sayang, kan lucu kalau Tama dan Mikha punya adik 10" goda Rangga lagi.
"Tidak akan"
"Ayolah"
"Pokoknya tidak", Bintang berlari mendekati kedua anaknya yang sedang asik membakar jagung dengan Pak Naryo.
Rangga bahagia melihat istrinya tersenyum kembali.Sebenarnya dia tahu kalau tadi Bintang sedang memikirkan Lyvia.
" Aku sengaja tidak membawamu kesini karena aku memikirkan perasaanmu. Aku tidak ingin masa laluku merusak kebahagiaan kita."batin Rangga.
"Aku Sangat mencintaimu Sayang" tambah Rangga dalam hati.
Dia juga ikut bergabung dengan Pak Naryo dan yang lainnya.
"Nah jagungnya sudah mateng neh.ini buat Aden kecil yang kasep dan yang ini buat Neng kecil yang geulis" Kata Pak Naryo sambil memberikan jagung kepada dua anak majikannya tersebut.
"Ini buat Den Rangga dan Non Bintang", Sekarang giliran Rangga dan Bintang yang mendapatkan jatah jagung dari Pak Naryo.
Malam itu menjadi malam yang membahagiakan bagi keluarga kecil Bintang dan Rangga.
*Semua orang memiliki masa lalu
Dan apapun yang terjadi di masa lalu kita tentu tidak bisa merubahnya
Tapi jangan pernah biarkan masa lalu merusak kebahagiaan kita.
Apalagi jika kebahagiaan itu kita dapatkan dengan susah payah*.
Malam semakin larut,pesta sederhana di belakang villa pun telah usai.
Setelah membereskan sisa-sisa pesta tadi,Pak Naryo dan Bi Nani pun masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
Bintang menemani kedua anaknya sambil membacakan cerita, sementara Rangga dia memeriksa pekerjaannya melalui email yang di kirim oleh Nando.
Rangga membuka satu per satu email yang di kirim oleh Nando. Tapi ada satu email yang menarik perhatiannya.
'*kemarin siang,Lyvia pingsan di tahanan.Dan polisi bilang kalau dia ingin bertemu denganmu.
Saat ini Lyvia beneran sakit dan dia di rawat di rumah sakit* '
Begitulah isi email terakhir yang Nando kirimkan.
"Lyvia sakit???"
Ada perasaan kasihan yang timbul di hati Rangga ketika mendapat kabar kalau wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya bertahun-tahun saat ini dalam keadaan sakit.
Tapi ketika mengingat penghianatan dan kejahatan yang wanita itu lakukan terhadap dirinya dan keluarganya,membuat perasaan kasihan di hatinya sedikit menghilang.
Rangga kembali memfokuskan pikirannya kepada laporan yang di berikan Nando tentang pekerjaan.
Bintang segera beranjak dari tempat tidur anaknya setelah keduanya tertidur dengan lelap.
Bintang mencari keberadaan suaminya yang tidak berada di dalam kamar,padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Kebiasaan,kalau sudah menyangkut pekerjaan dia akan lupa dengan waktu" gumam Bintang saat melihat salah satu ruangan masih menyala.
Bintang pergi ke dapur guna membuatkan kopi untuk suaminya.Dia menaruh satu sendok kopi hitam ke dalam gelas dengan sedikit gula,karena suaminya itu memang tidak begitu menyukai kopi yang terlalu manis.
Setelah menyeduh kopi tersebut,Bintang membawanya ke tempat di mana suaminya sedang berkutat dengan pekerjaan.
"Kelihatannya sibuk banget Mas?", tanya Bintang seraya meletakkan secangkir kopi di meja suaminya.
" Terimakasih ya Sayang "ucap Rangga sambil menatap istrinya sekilas,kemudian pandangannya kembali fokus ke layar laptop di depannya.
" Ingat Mas,besok kamu harus nyetir lho.Jadi jangan tidur terlalu malam"
"iya Sayang, ini juga sebentar lagi selesei" jawabnya.
"Mas,apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku tentang villa ini?" tanya Bintang dengan hati-hati.
Rangga menghentikan jemarinya yang sedang berada di atas keyboard,dia memicingkan matanya menatap mata sang istri seolah bertanya memang apa yang harus dia katakan tentang villa ini?
"Aku tahu dulu setiap liburan kuliah kamu sering kesini bersama Nando, Kak Juan dan juga...Lyvia kan?"
Rangga menghela napasnya, ternyata benar istrinya masih penasaran tentang villa ini.
"Apa yang ingin kamu tahu?"tanya Rangga yang merasa sesikit kesal dengan sikap yang di tunjukkan Bintang.
" Ya...apapun"
Rangga menutup laptop yang ada di depannya.
"Baiklah, tapi aku harap setelah aku selesei bercerita kamu tidak akan lagi membahas tentang villa ini.Atau apapun yang menyangkut tentang villa ini"
"Baik" jawab Bintang karena dia benar-benar penasaran dengan cerita villa ini.
"Dulu aku memang sengaja membeli villa ini.Aku membeli villa ini dari keuntungan proyek pertamaku saat membantu perusahaan milik almarhum papa."
Rangga menatap sang istri seraya melihat raut wajah istrinya, dan sepertinya masih aman karena raut wajah sang istri masih biasa saja.
"Tadinya aku berharap kalau villa ini akan menjadi villa yang menyenangkan untukku,tapi kenyataannya villa ini malah menjadi tempat yang tidak ingin aku datangi lagi.
Kalau bukan karena kalian aku tidak ingin menginjakkan kaki di villa ini lagi"
"Apa karena sebenarnya dulu kamu membeli villa ini untuk Lyvia?" tanya Bintang lagi.
"iya" jawab Rangga dengan wajah datar,dia tidak ingin berbohong tentang villa ini kepada istrinya.
Bintang terdiam, ada perasaan cemburu yang muncul di hatinya.
"Mas,seberapa besar rasa cinta mas kepada Lyvia dulu?Apa lebih besar dari rasa cinta mas kepadaku sekarang?"
"Sayang, sebesar apapun perasaan cintaku pada Lyvia tetap akan lebih besar rasa cintaku padamu saat ini. Jadi berhentilah menanyakan hal konyol tentang Lyvia lagi,karena aku sudah tidak ingin mengingatnya"
"Satu lagi, kenanganku bersama dengan Lyvia memang banyak.Tapi aku ingin mengukir kenangan bersamamu seumur hidupku.Jadi jangan pernah bandingkan dirimu dengan Lyvia, karena kamu lebih segala-galanya di banding Lyvia" Rangga mengatakan hal itu dengan sangat jelas,seolah tahu kegundahan yang di rasakan oleh Bintang.
Akhirnya Bintang merasa lega setelah mendengar hal yang ingin dia ketahui.
"tidurlah,aku akan menyusulmu setelah pekerjaanku selesei" suruh Rangga kepada Bintang.
"Jangan terlalu malam,karena besok kita harus kembali ke kota.Aku tidak ingin mas kecapek'an",Rangga mengangguk.
Dia tahu tadi istrinya tidak bisa tidur karena memikirkan tentang villa ini dan Lyvia.
Rangga mencium bibir istrinya itu sekilas, karena itu sudah menjadi rutinitasnya selama ini sebelum mereka tidur.
"I Love you istriku"
"Love you too suamiku"
Bintang meninggalkan Rangga di tempat kerjanya.
**Hei para reader di tengah merebaknya virus korona,Author mau ngingetin neh
Jaga selalu kesehatan kalian, jangan panik,terapkan pola hidup sehat dan jangan lupa biasakan cuci tangan dengan menggunakan sabun.
Author juga mau minta maaf karena baru bisa up,🙏🙏🙏!
Maklum kadang-kadang meski garis besar cerita sudah ada,sewaktu mau menuangkan ke dalam tulisan kadang bingung nyari kata-kata yang tepat**.