Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 82


Rangga terus mengejar Bintang, hingga pada akhirnya....


"AWAAASSSSS!!!"


Teriak Rangga saat melihat sebuah truk yang melaju dengan sangat kencang mrnabrak tubuh istrinya itu hingga terpental.


Tubuh Bintang terpental cukup jauh dari tempatnya semula.


Rangga segera menghampiri tubuh Bintang yang berlumuran darah dan merengkuhnya.


"Bintang bangun Sayang! Bintang bangun!" teriak Rangga sambil berusaha membuat istrinya itu tersadar.


Rangga membopong tubuh istrinya itu dan berlari menuju ke IGD.


"Dokter, dokter ,dokter",teriak Rangga di koridor rumah sakit.


Beberapa perawat dan dokter segera menghampirinya dan langsung membawa Bintang ke IGD.


" Penanggung jawab pasien" panggil salah seorang dokter yang baru saja keluar dari IGD.


"Saya suaminya"


"Maaf Pak,istri Anda harus segera di operasi karena pendarahan di otaknya cukup parah"


"Lakukan apa pun Dok,lakukan apapun untuk menyelamatkankan istriku"


"Silahkan Anda menandatangani ini", Dokter tersebut menyerah kan selembar surat pernyataan.


" Apa ini? "


"Itu surat pernyataan yang menyatakan bahwa Anda menyetujui istri anda di operasi,dan apapun hasilnya nanti Anda tidak akan menuntut rumah sakit ini"


"Apa-apaan ini? Kalau Kalian tidak bisa menyelamatkan istriku buat apa kalian jadi dokter." Maki Rangga kepada dokter tersebut.


"Maaf Pak,luka di kepala istri anda sangat parah dan harus secepatnya mendapatkan penanganan.Kalau Bapak tidak mau menandatangani surat pernyataan ini maka kami tidak bisa melakukan tindakan apapun terhadap istri Bapak"


Setelah Rangga menandatangani surat pernyataan tersebut, Bintang di pindahkan ke ruang operasi.


"Rangga, Bintang adalah gadis yang kuat dia pasti akan baik-baik saja" Lyvia duduk di sebelah Rangga yang sedang menunggui Bintang di depan ruang operasi.


Beberapa menit sebelumnya, Lyvia menolak untuk di operasi saat mendengar kabar Bintang kecelakaan.Dia meminta polisi untuk membawanya menemui Rangga.


Rangga menjauhkan tubuhnya dari Lyvia saat Lyvia hendak memegang tangannya.


"Rangga..." panggil Lyvia dengan suara lirih.


Rangga hanya diam dengan tatapan matanya yang kosong.


Rangga menyesali perbuatannya,seandainya dia jujur kepada istrinya pasti hal ini tidak akan terjadi.


Tidak lama kemudian, Nando datang.


Dia segera menuju rumah sakit saat mendengar kabar kecelakaan yang di alami Bintang.Karena Kebetulan Nando mengenal beberapa dokter di rumah sakit tersebut.


Apalagi salah seorang dokter bilang,kalau Rangga hanya diam saja setelah kecelakaan yang menimpa istrinya itu.


"Rangga, apa yang terjadi? Kenapa Bintang tiba-tiba ada di sini dan mengalami kecelakaan?"


Karena Rangga masih diam, Lyvia berinisiatif menjawabnya.


"Bintang melihat Rangga sedang berada di ruangan ku"


PLAAAKKKKK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lyvia dari seseorang yang baru saja tiba. Dia adalah Mia.


Mia baru saja tiba, saat mendengar Lyvia menjawab pertanyaan Nando.


"Kamu selalu saja kamu! Kapan kamu akan berhenti mengganggu putraku.Setelah dulu kamu menghianatinya,dan kamu pura-pura sakit agar putraku mau kembali padamu.Sekarang kebohongan apalagi yang ingin kamu buat untuk merusak kebahagiaan putraku", Mia berteriak memaki Lyvia.


" Ma...aku..."


"Jangan pernah memanggilku mama,karena kamu bukan anak apalagi menantuku"


Dulu sejak Lyvia menjadi kekasih Rangga,dia selalu memanggil Mia dengan sebutan MAMA.


"Sudah Mia,hentikan! Disini ada Tama dan Mikha, cucu kita" Ratih berusaha menenangkan besan sekaligus temannya itu.


"Lyvia, lebih baik kamu pergi dari sini. Biarkan semuanya tenang", Nando menyuruh Lyvia untuk meninggalkan tempat itu.


Lyvia yang sadar diri pun,akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut.


Tama dan Mikha mendekati sang ayah yang masih terdiam.


" Daddy, Mommy akan baik-baik saja kan?"


"Mommy akan bisa bermain dengan kami lagi kan?"


Rangga menatap kedua anaknya bergantian,kemudian dia memeluk keduanya dengan sangat erat.


"Maafkan Daddy, ini semua kesalahan Daddy. Maafkan Daddy", Rangga tidak henti-hentinya mengucapkan kata MAAF kepada kedua anaknya.


Dewi, Ana dan juga Alex mereka bertiga juga sudah berkumpul di tempat itu.


" Mas,apa yang terjadi pada Bintang? Kenapa Bintang bisa kecelakaan?",Dewi bertanya kepada suaminya Nando.


Semua orang cemas dengan keadaan Bintang. Apalagi Bintang masih berada di ruang operasi.


Setelah 2 jam,akhirnya operasi tersebut selesei juga di lakukan.


Dokter langsung membawa Bintang ke ruang ICU.


" Dok,kenapa istriku di bawa ke ruang ICU?Kenapa tidak di pindahkan keruang rawat? "tanya Rangga kepada kepala dokter yang menangani operasi Bintang.


" Operasinya memang berjalan dengan baik,tapi istri Anda mengalami koma"


"Lalu kapan dia akan sadar?"


"Koma yang di alami seseorang berbeda-beda,bisa satu jam,satu hari,satu minggu,satu bulan atau bahkan satu tahun.Kita tidak bisa memprediksinya" jawab sang Dokter.


"Berdo'alah semoga istri Bapak bisa secepatnya sadar" kata sang Dokter sebelum pergi meninggalkan Rangga.


Rangga memasuki ruangan dimana Bintang masih terbaring disana.


Dia duduk di kursi yang terletak tepat di sebelah bangsalnya.


"Bintang, bangunlah! Aku lebih suka kamu memarahiku atau bahkan memukulku jika perlu.Jangan hukum aku dengan cara seperti ini.


Aku sungguh menyesal karena tidak jujur padamu.


Bangunlah Sayang!".


Rangga terus menggenggam tangan istrinya itu.


" Ikut Mama!",tiba-tiba Mia menyuruh Rangga ke luar dari tempat Bintang terbaring.


"Jadi Bintang seperti ini karena ulahmu?", tanya Mia dengan memberi tatapan tajam pada putranya.


" Ma,Rangga minta maaf. Rangga tidak pernah berfikir kalau semuanya akan berakhir seperti ini.


Tadinya Rangga hanya ingin membantu Lyvia tanpa ingin menyakiti perasaan Bintang.Rangga memang salah Ma,Rangga minta maaf " jawab Rangga dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Meskipun kamu anak mama,tapi mama tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai menantu mama kenapa-napa. Camkan itu!".


Mia meninggalkan Rangga sendirian,karena dia lebih ingin menghibur kedua cucu kesayangannya.


" Bintang, pasti akan sadar. Percayalah",Nando berusaha menghibur sahabatnya itu.


Rangga kembali masuk ke ruangan di mana Bintang masih terbaring tak sadarkan diri.


"Sayang, bangunlah! Kedua anak kita merindukanmu. Mereka ingin di bacakan cerita oleh mommy nya", Tanpa terasa Rangga menitikan air matanya. Ini kali pertama seorang Rangga Wijaya menangis.


Bukan karena dia cengeng,tapi lebih kepada betapa dia mencintai sang istri.


Nando,Dewi, Ana dan Alex menatapnya dari luar.


Mereka ikut merasakan kesedihan yang sedang di alami oleh Rangga,Karena memang mereka juga mengalami kesedihan yang sama.


" Pak Rangga memang keterlaluan,untuk apa dia membantu Lyvia? Seharusnya dia tidak perlu sok-sok'an ingin membantu mantannya itu",Dewi merutuki sikap Rangga yang menurutnya terlalu bodoh karena berhubungan lagi dengan sang mantan, meskipun tujuannya untuk membantu.


"Jangan begitu Sayang, saat ini Rangga lebih sedih di bandingkan kamu atau yang lainnya", Nando berusaha membela temannya itu.


" Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya waktu itu aku tidak memberi tahu Rangga kalau Lyvia sakit dan ingin bertemu dengannya ",ucapan Nando barusan membuat Dewi menatapnya tajam, setajam silet.


" Oh...jadi secara tidak langsung kamu juga yang mengakibatkan kejadian ini terjadi?"


Nando hanya pasrah menerima amarah istrinya itu.


"Sayang, aku..."


"Jika terjadi sesuatu pada Bintang, jangan harap pernikahan kita ini akan baik-baik saja.Ingat itu!",Dewi mengatakan hal itu dengan sangat tegas.


" Sayang, jangan bicara seperti itu "


"Dew, jangan macam-macam dengan pernikahanmu",Ana ikut menimpali.


"Aku tidak main-main", setelah mengatakan itu Dewi meninggalkan Nando.


" Shit,ini semua gara-gara Rangga.Aku sudah bilang untuk jujur pada Bintang,tapi dia bilang tidak apa-apa. Nyatanya? Sekarang pernikahan ku juga dalam bahaya." Nando jadi ikut menyalahkan sikap temannya itu.


Karena emosi,Nando membawa temanya itu keluar dari ruangan Bintang.


"Rangga,aku sudah bilang padamu sejak awal supaya kamu jujur pada Bintang. Tapi kamu selalu bilang tenang saja,nyatanya apa coba? Gara-gara kamu pernikahan ku juga terancam" maki Nando.


Rangga hanya diam mendengar makian orang di depannya itu.


"Sekarang apa yang bisa kamu lakukan, hah?" teriak Nando.


Nando begitu kesal dengan Rangga yang hanya diam.Hampir saja dia melayangkan bogem mentahnya kepada Rangga,jika saja Alex dan Juan tidak mencegahnya.


Juan baru saja datang saat Nando memarahi Rangga.


"Nando, hentikan! Ini bukan waktunya untuk bertengkar!" kata Juan.


"Kamu urus adik iparmu itu", Nando meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah.


" Rangga, kembali lah masuk! Temani Bintang! " suruh Juan.


Tanpa mengatakan apapun Rangga kembali masuk ke ruangan Bintang.