Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 85


Hari ini Bintang sudah di perbolehkan untuk pulang.


Bintang terlihat begitu bahagia karena dia sudah merasa bosan di rumah sakit.


Apalagi setelah mendengar kabar dari kedua temannya bahwa dia seorang mahasiswi sekarang.


Dia ingin secepatnya kembali berkuliah,meski dia sama sekali tidak ingat seperti apa proses perkuliahannya sebelumnya.


"Bu,kenapa kita pulang ke sini?inikan bukan rumah kita?" tanya Bintang saat taksi yang di tumpanginya berhenti di depan sebuah rumah mewah.


"rumah kita sudah lama di jual" jawab Ratih berbohong.


"Kenapa di jual?"


"E...biaya rumah sakitmu sangat mahal dan ibu tidak punya uang jadi terpaksa ibu menjualnya.Ini adalah rumah teman ibu,dia mempersilahkan kita tinggal di sini"


"Maafkan Bintang ya Bu,gara-gara Bintang ibu harus menjual rumah" ucap Bintang dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, ibu senang karena kamu sudah sadar" jawab Ratih.


Ratih dan Bintang sudah di sambut oleh seorang wanita yang seusia ibunya di depan pintu.


Ya,dia adalah Mia.Dia terlihat bahagia melihat menantu kesayangannya sudah kembali sehat.


" Bintang kenalkan, ini teman ibu namanya Mia",Ratih memperkenalkan wanita itu pada putrinya.


Bintang menyalaminya dengan mencium punggung tangan wanita itu.


Mia langsung memeluk Bintang, air matanya megalir di kedua pipinya.


Bintang menatap ibunya,seolah meminta penjelasan.


"Maafkan Tante,kamu pasti bingung karena Tante menangis.Tante hanya teringat dengan menantu Tante" jawab Mia kemudian mengusap air matanya.


Bintang mengangguk mengerti.


"Ayo masuk!" ajak Mia,dia menggandeng tangan Bintang dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Mia langsung mengantarkan Bintang ke kamarnya. Dia sengaja menempatkan Bintang di kamar yang bersebelahan dengan kamar utama.


"Ini kamarmu,istirahatlah sebentar kamu pasti masih lelah.Nanti saat makan siang aku akan mengenalkanmu dengan putra dan cucu-cucuku" suruh Mia.


"ohya Bintang, bisakah Tante minta sesuatu darimu?"


"Apa itu?"


"Tolong jangan panggil Tante, panggil saja Mama karena kamu sudah seperti putri bagiku" pinta Mia.


"Iya,Tan..maksudku mama".


Mia meninggalkan Bintang di kamarnya.


" Bu,kenapa aku merasa rumah ini sangat familiar?Dan sepertinya ini bukan kali pertama aku bertemu dengan teman ibu "


' Tentu saja, Nak.Karena dia adalah mertuamu ' batin Ratih.


"Jangan terlalu di fikirkan,istirahatlah. Saat jam makan siang nanti ibu akan membangunkanmu" jawab Ratih.


Ratih tidak ingin putrinya itu memikirkan banyak hal, karena Juan menyarankan agar Bintang jangan sampai memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya.


***


Bintang menggeliatkan tubuhnya,ketika merasa pipinya di tusuk-tusuk dengan jari oleh seseorang.


"emmhhmm,berhenti menggangguku" gumam Bintang dengan setengah kesadarannya.


Dia langsung menarik tangan orang yang di rasa mengganggunya itu.Saat merasa pipinya masih di tusuk-tusuk dengan jari.


Dan membuat orang itu jatuh di atas tubuhnya.


Kedua mata mereka saling bertemu,entah kenapa Bintang merasa ada sesuatu yang terjadi di hatinya.


Saat kesadarannya kembali penuh,Bintang mendorong tubuh orang itu hingga dia tersungkur.


"Aw" ringis orang itu sambil memegangi pinggangnya.


"Hei, kenapa kamu begitu kasar?" tanya orang itu sambil berusaha bangun dari posisi dia jatuh.


"Salah sendiri, kenapa kamu menindihku?", Bintang memposisikan dirinya duduk di pinggiran ranjang.


" Hei,nona kamu yang menarikku tadi?" protes orang itu.


"Itu karena kamu menggangguku" jawab Bintang.


"Tunggu! kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?"


"Mama menyuruhku memanggilmu untuk makan siang."


"Mama?!?" tanya Bintang


Orang itu mengangguk.


"iya"


"Dunia memang benar-benar sempit,ternyata orang yang mengaku sebagai suamiku di rumah sakit adalah anak dari teman ibuku?",


Bintang menggelengkan kepalanya malas mengetahui fakta bahwa orang yang waktu di rumah sakit mengaku-ngaku sebagai suaminya ternyata anak dari teman baik ibunya.


" Siapa namamu?"tanya Bintang sekali lagi.


"Aish,ternyata ingatanmu memang buruk ya."


"Mari kita kenalan sekali lagi!", Orang itu mengulurkan tangannya, Bintang menatap orang itu kemudian membalas uluran tangannya.


" Namaku Rangga, Rangga Wijaya. Ingat itu,karena mulai sekarang kita akan sering bertemu"


'Dan sekali lagi akan aku buat kamu jatuh cinta padaku' batin Rangga


"Bintang, Bintang Permata Putri****"


Usai berkenalan mereka pun segera turun menuju ruang makan.


Di sana sudah menunggu Mia dan Ratih. Dan dua orang anak kecil.


Kedua anak itu menarik perhatian Bintang.Bintang berjalan mendekati kedua anak itu.


"Hay" sapa Bintang kepada keduanya, Kedua anak itu menatap Bintang dengan mata berkaca-kaca.


Bintang berjongkok di depan keduanya,


"Kalian kenapa?"tanya Bintang kepada kedua anak itu.


Kedua anak itu melihat ke arah Rangga yang berdiri di sebelah Bintang. Keduanya berusaha untuk tidak menangis,karena ingat ucapan Daddy nya kalau saat ini mommy mereka sedang sakit dan tidak mengingat mereka.


" Siapa nama kalian? "tanya Bintang lembut.


" Aku Tama"


"Dan aku Mikha"


"Wah,kalian cantik dan juga sangat tampan" puji Bintang.


Tiba-tiba kedua anak itu memeluk Bintang dengan sangat erat.


"Mommy...mommy... mommy",suara keduanya disertai isak tangis.


Bintang membalas pelukan kedua anak kecil itu.Dia merasakan kehangatan di hatinya.


" Mereka anak-anak ku,mungkin mereka sedang merindukan mommy nya" ucap Rangga.


"Memang dimana mommy nya?" tanya Bintang.


'kamu mommy nya,Sayang. Dan mereka sangat merindukanmu'


"Jangan bahas itu, lebih baik sekarang kita makan".


Rangga membawa kedua anaknya untuk duduk.


" Apa kalian mau Tante suapi?"tanya Bintang kepada keduanya. Dia duduk di samping kedua anak itu.


Tama dan Mikha kembali menatap Daddy mereka meminta persetujuan.


Rangga menjawabnya dengan mengangguk kan kepalanya.


Bintang mulai menyuapi kedua bocah kembar itu,yang sebenarnya adalah anknya sendiri.


Mia dan Ratih menatap pemandangan di depannya dengan perasaan sedih.


'*mereka anak-anak mu,Bintang. Dan mereka sangat merindukanmu' batin Mia.


' Semoga ingatanmu cepat kembali ,Nak.Kasihan anak-anak mu' batin Ratih*.


Berbeda dengan Rangga, dia merasa tidak kuat melihat pemandangan di depannya. Dia semakin merasa bersalah karena membuat ibu dari kedua anaknya melupakan mereka.


"Aku,ada pekerjaan. Permisa" Pamit Rangga. Dia meninggalkan meja makan dan memilih pergi ke ruang kerjanya.


***


Lyvia tidak mau melakukan operasi begitu tahu Bintang hilang ingatan.


Dia merasa bersalah karena menyebabkan kecelakaan itu terjadi.


Apalagi beberapa hari yang lalu,saat Bintang dalam keadaan koma,dia melihat laki-laki yang pernah di cintainya terpuruk dan tak berdaya.


"Maaf kan aku Rangga, aku yang mengakibatkan semua ini terjadi" gumamnya dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


Ini pertama kali dia merasa menyesal dengan perbuatannya.


Maaf baru up,cz dari tadi pagi sibuk he...he. he.