
"Dret dret dret."
Ponsel Jean yang berada di dalam tas bergetar,muncul nama Sora di layar ponselnya.
Namun dia tak mendengarnya.
"Pak Zain...,apa ini gak terlalu banyak?"
"Kita kan hanya berdua?"
Tanya Jean setelah melihat begitu banyak makanan di atas meja makan.
"Kenapa?"
"Bukankah ini semua makanan kesukaanmu?"
"Iya sih..."
"Tapi...,kau jadi repot karna memasak semua ini." Jean menatap satu persatu masakan yang ada di atas meja.
"Hah!"
Jean kaget ketika tiba tiba wajah Zain berada di depan wajahnya sambil tersenyum.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu,aku akan mengajakmu untuk makan." Ucap Zain.
"I..i..iya,tapi...bisakah bapak menjauh?"
Zain tersenyum lalu duduk di samping Jean.
"Haah bisa gila aku,aduuh jantungku bisa copot nih kalo dia gitu."
"Huh ngapain juga tadi aku iya in ikut dia sih."
"Dan kenapa gak makan di luar ajaa,kenapa harus ke rumahnya siih." Batin Jean.
Jean dengan malu malu mencoba makanan yang sudah di masak oleh Zain.
"Emm,gak ku sangka enak juga masakannya." Batin Jean.
"Kau suka?" Tanya Zain.
Jean hanya menganggukkan kepalanya dan bersemangat menikmati makanan yang ada di depannya.
"Jean,cobalah yang ini."
Ucap Zain sambil menyodorkan sesuap sendok di mulut Jean.
Jean yang belum siap membuka mulutnya, membuat suapan itu terjatuh di baju karna tersenggol oleh dagunya.
Zain yang panik mengambil tisu dan segera membersihkan,tanpa dia sadari jika makanan yang terjatuh berada di dada Jean.
Jean berusaha menahan,namum tangan Zain terlalu cepat.
Setelah Zain menyadari letak tangannya,dia menatap Jean yang wajahnya sudah terlihat memerah.
"Maafkan aku." Ucap Zain dan segera menarik tangan nya yang berada di dada Jean.
"Aku..aku harus ke toilet untuk membersihkan ini." Ucap Jean yang salah tingkah.
Jean lalu berdiri dan berlari kecil masuk ke kamar mandi."
"Ini..."
Jean keluar lagi karna dia salah memasuki kamar tidur.
Dengan malu Jean bertanya pada zain.
"Pak Zain,di mana kamar mandinya?"
Zain menunjuk pintu satunya yang berada di depan kamar tidurnya.
"Brakk."
Jean menutup pintu dengan terburu buru.
"Aah..,apaan sih buat aku malu aja." Jean menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ihik ihik,lebih baik tadi aku menghindarinya saja saat pulang kerja.
"Kenapa juga tadi dia coba suapin aku?"
"Ooh God..."
"Aku bisa salah paham nih."
"Lama lama hati aku bisa meleleh."
"Enggak gak,aku gak boleh terbawa perasaan,aku gak mau sakit hati karna cinta lagi."
Jean beradu argumen pada dirinya sendiri,sambil membersihkan noda makanan yang terlihat pada bajunya yang berwarna putih.
"Ah..sialan,aku teringat wajahnya."
Jean menggebrak tangannya di wastafel yang masih memegang tisu.
"Kalau...,aku pacaran dengan dia..."
Sekilas Jean membayangkan saat dia dan Zain berpacaran.
"Hah..,apaan sih kenapa aku harus bayangin hal kayak gitu."
"Tok tok..."
"Jean pakailah baju ini dulu,aku akan mencuci bajumu."
"Noda itu tak mudah untuk di bersihkan." Ucap Zain yang sedang menunggu di depan pintu.
"Tidak perlu pak."
"Aku akan mencucinya sendiri di rumah."
Jawab Jean.
"Baiklah jika itu mau mu."
...
Jean keluar dari kamar mandi,tanpa bisa menghilangkan noda yang masih terlihat di bajunya,dia berjalan dengan pelan ke arah kursi makan dan duduk dengan perlahan.
"Jean..."
Jean hanya menunduk dan mengabaikan panggilan Zain.
"Apa kau ingin menggodaku?" Ucap Zain.
"Menggoda?" Guman Jean.
"Maksud bapak?!"
Jean merasa tersinggung dengan ucapan Zain,dan menatap dengan marah.
Zain melihat ke arah bawah dengan pelan dan berhenti di tempat noda yang masih terlihat.
Jean masih bingung yang di lakukan oleh Zain,lalu Zain berusaha memberikan kode dengan apa yang dia lihat,dan berkata dengan pelan.
"Pakaian dalammu terlihat."
"What?"
Jean menatap ke bawah dan terlihat baju yang sebagian basah tembus membuat bra nya yang berwarna hitam terlihat.
"Aah."
Jean berdiri dan memutar tubuhnya lalu membelakangi Zain sambil menutupinya dengan telapak tangannya.
"Aah,ya Tuhan,aku malu." Batin Jean.
"Pakai saja ini." Ucap Zain dan menyodorkan baju untuk Jean pakai.
Jean mengambil dengan malu,dan segera berlari ke kamar mandi.
...
Setelah kejadian tadi,hanya ada keheningan yang ada.
"Pak, aku pulang dulu."
"Terima kasih makanannya."
Jean terburu buru keluar.
"Jean,tunggu!"
"Aku akan mengantarmu,ini sudah terlalu malam."
"Enggak usah pak,aku akan pulang naik taksi aja."
"Jean,apa kau malu dengan kejadian tadi?"
"A aku..." Jean terbata bata dengan jawabannya.
"Jika aku adalah pacarmu,kau tak akan malu kan?" Ucap Zain berterus terang.
"Pa pa pacar?"
Jean hampir tak bisa mengucapkan kata pacar. Rasa kaget membuatnya tidak tau apa lagi yang harus dia ucapkan.
Zain mengangguk,meyakinkan Jean untuk menjadikannya pacar.
"Aku ingin menjadi pacarmu." Terang Zain.
"Maksud bapak- "
Zain menghentikan mulut Jean dengan jarinya.
"Mulai saat ini panggil aku Zain,jangan panggil aku bapak."
"Deg deg deg."
Suara jantung Jean semakin berdetak semakin kencang. Dia merasa terbang dengan ucapan Zain.
"Karna kau tak menjawabnya,aku anggap kau menyetujuinya."
Zain tersenyum dan menarik tangan Jean dan memeluknya.
"Tu tunggu."
"Gimana ini."
"Aku kan belum jawab iya."
Suara Jean tak terdengar karena tertahan di rongga mulutnya,rasa kaget yang terlihat di wajahnya membuat dia hanya bisa berkata dalam hatinya.
"Aku pacaran dengan Zain?"
"Ha ha."
"Zain dan aku berpacaran."
"Ini gak mimpi kan?"
Jean mencubit tangannya sendiri.
"Auw"
Mendengar jeritan,Zain dengan panik bertanya.
"Ada apa Jean?"
"Kau berteriak,apa ada yang sakit."
Jean menggeleng.
"Tidak,aku kira ini hanya mimpi?"
"Trililit trililit."
Suara ponsel Zain berbunyi.
Dia merogoh di saku celananya,dan terlihat angka lima yang terlihat pada layar ponselnya.
"Kau tunggu di sini,aku akan mengantarmu pulang." Ucap Zain.
Jean mengangguk dengan jawabannya,lalu setelah itu Zain berjalan ke arah luar pintu geser yang terbuat dari kaca.
Jean berjalan pelan sambil tersenyum senyum sendiri tanpa dia sadari memasuki ruangan yang berisi rak buku yang tersusun rapi.
Lalu dia melayangkan pandangannya pada susunan rak yang ada di depannya,dan terhenti pada sebuah bingkai foto yang terpajang.
"Ini..,sepertinya aku familiar dengan wajahnya."
Jean lalu mengambil bingkai foto itu.
"Apa kau pernah melihatnya?" Tanya Zain yang tiba tiba berada di sebelahnya.
Jean sedikit tersontak.
"Aku seperti pernah melihatnya."
"Ah aku ingat,dia pria yang pernah menjaga Sora."
"Benarkah?"
Karna kegirangan mendengar jawaban Jean,tanpa di sadari oleh Zain,dia menggenggam kedua lengan Jean dengan erat.
"Di mana kau melihatnya?"
"Zain,sakit."
"Maafkan aku." Zain segera melepaskan.
"Apa kau pernah melihatnya atau bertemu dengannya?"
"Aku tak tau apakah dia orang yang sama,karna orang yang kulihat di tubuhnya tidak ada tatto."
Zain berpikir sejenak,dan bercerita pada Jean.
"Ini adalah adikku,kami kehilangan kontak beberapa bulan yang lalu."
"Sampai sekarang aku masih mencari keberadaannya."
"Orang yang aku lihat,sama atau tidak, dia pernah mengawal Sora sebelum hari pernikahannya." Ucap Jean.
"Benarkah?"
Jean mengangguk pelan.
Dan Zain kembali memeluk Jean.
"Itu sudah cukup,untukku mencari keberadaan adikku."
"Terima kasih."
"Smith,sebentar lagi kita akan bertemu."
Batin Zain.
...
Di dalam mobil,Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sudah beberapa kali Zain dan Jean saling berpandangan dan tersenyum.
Mereka pasangan yang sedang kasmaran.
Zain menggenggam tangan Jean dan tak ingin melepaskannya.
Bahkan sudah sampai di depan rumah Jean,Zain masih tak ingin untuk melepaskan.
"Bisakah kau melepaskan tanganku?"
Jean tersenyum malu saat bertanya.
Zain melepaskan genggamannya setelah itu turun dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Jean.
"Besok aku akan menjemputmu." Ucap Zain.
Jean mengangguk dan berjalan pelan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bahagia.