Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 123 - Negosiasi


"Mas, bagaimana? Rumah itu akan disita dalam waktu dekat .... nanti aku yang bantuin mas Abrizam bayarnya."


"Kamu?"


"Iya ...."


Sebenarnya sama sekali Sean tidak berencana menganggap itu hutang juga. Namun, tingkah polos istrinya membuat pria itu mengulum senyum dan justru berpikir berbeda. Bahkan demi membuat Zalina memohon dia seolah sengaja memijit pangkal hidungnya.


"Aku mohon, Mas ... aku tidak mungkin lari sekalipun harus kucicil seumur hidup."


Apapun demi Abrizam, dia benar-benar berpikir jika Sean keberatan mengingat perlakuan Abrizam pada mereka. Sama sekali tidak Zalina duga jika sikapnya yang begitu benar-benar Sean manfaatkan untuk menjerat istrinya sendiri.


Sean menatap lekat manik Zalina yang kini penuh permohonan, sebesar itu harapannya jika hati Sean akan tergerak. Soal tarik ulur adalah kemampuan Sean sejak lama, dia tidak butuh kata-kata untuk membuat lawan bicaranya terjebak.


"Jaminannya apa? Hm?"


"Apa? Mas tahu sendiri aku tidak punya harta benda ... masa harus pakai jaminan juga, sama istri sendiri padahal," celetuk Zalina mengerucutkan bibir, agaknya berhutang pada Sean tidak berbeda seperti berurusan dengan Subagio.


Lagi dan lagi Sean kembali menarik sudut bibirnya tipis sekali. Istrinya sangat pintar sebenarnya, tapi entah kenapa di beberapa keadaan kecerdasaran dan daya ingatnya sedikit terkikis. Zalina dengan tegas mengatakan jika dia tidak memiliki harta, padahal semua aset mereka yang ada di Bandung tertulis atas nama Zalina.


"Benar juga, biasanya aku meminta jaminan, Na ... tapi berhubung keluarga sendiri jadi tidak apa-apa walau tanpa jaminan."


"Jadi Mas benar-benar pernah jadi renternir ya?" tanya Zalina dengan polosnya.


"Tentu saja, kan semua pekerjaan sudah mas jalani."


Menjelang 34 tahun usianya, baru kali ini ada seorang wanita polos yang percaya jika dia benar-benar pernah menjadi seorang renternir. Zalina yang memang sejak dahulu lurus-lurus saja tampaknya akan selalu terjebak dalam pesona Sean yang sangat pandai bersilat lidah.


"Mas, bisa ya?" tanya Zalina lagi, sejak tadi hanya tanda-tanda Sean menyanggupi, dia belum mengiyakan permintaan Zalina.


"Hm iya, bisa ... besok mas kasih uangnya sama Abrizam."


"Alhamdulillah, tapi tanpa bunga, 'kan, Mas?" Zalina memastikan, khawatir jika terjebak di kemudian hari.


"Hm, sejak dahulu mas tidak pernah pakai bunga, haram Zalina."


Zalina mengelus dadanya, sejak tadi dia merasakan sesak dan berpikir jika Sean sama saja seperti Subagio. Kini, dengan pengakuan Sean yang bersedia melunasi hutang Abrizam lebih dulu dan mereka tidak perlu memikirkan bunga dia benar-benar bersyukur. Ditambah lagi, besar cicilan dan waktunya tidak Sean tentukan.


"Terima kasih, Mas! Alhamdulillah rumah itu tidak akan pindah ke tangan orang yang salah."


Sebahagia itu Zalina sampai mengecup punggung tangan Sean berkali-kali. Bahkan, tanpa segan dia mengecup pipi sang suami karena pada akhirnya tidak ada drama rumah disita. Sean yang mendapat perlakuan sang istri jelas saja menggeleng pelan, ternyata benar bahwa segalanya butuh uang, termasuk agresifnya seorang istri.


"Mas mau kubuatkan kopi?"


"Terus maunya apa? Jus? Susu atau teh? Bilang, aku buatin, Mas," rayu Zalina seraya menggenggam erat jemarinya seakan enggan berjauhan dari pria itu.


"Buat anak saja kalau bersedia, mas tidak haus."


Sean tertawa sumbang menatap Zalina yang kini memerah seketika. Mungkin baru sadar jika dirinya terlampau agresif untuk sekadar mengungkapkan tanda terima kasih.


"Oh iya, tanpa bunga bukan berati tidak ada syaratnya ya."


Zalina pikir mereka sudah sepakat, ternyata belum. Sean menarik sang istri untuk naik ke kamar dan meminta Zalina duduk manis mendampinginya. Firasat Zalina mulai tidak enak sejak melihat kop surat yang Sean buat, tidak main-main karena dia mengatasnamakan perusahaan yang didirikan papanya.


"Kok serius begini, Mas?"


"Harus dong," jawabnya singkat dan memulai mengetik butir-butir perjanjian dengan jemari lincahnya.


Sean memang bukan pria kantoran, tapi masalah perjanjian semacam ini dia ahlinya. Terlebih lagi jika untuk kepentingan dirinya sendiri. Zalina bersandar di bahu Sean, setiap sang suami selesai dia akan mengerutkan dahi dan merasa isinya hanya ditujukan untuk Zalina.


"Kok isinya begitu? Kan hutangnya bukan tanggung jawabku sendiri, Mas."


"Perjanjiannya sendiri-sendiri karena memang agak rumit."


Sejak awal firasat Zalina memang sudah buruk, semakin kesini semakin buruk tentu saja. Apalagi setelah Sean selesai mencetaknya, wajah Zalina yang tadinya sumringah mendadak datar menatap wajah Sean.


"Materai dimana, Na?" tanya Sean yang benar-benar membuat mata Zalina membola.


"Harus pakai ya, Mas?"


"Harus dong, perjanjian tetap perjanjian," jawab Sean santai, entah kenapa Zalina sedikit sebal mendengar jawabannya kali ini.


"Tidak ada."


Tidak ada? Zalina pikir dengan jawaban singkat semacam itu Sean akan berhenti dan menganggap tidak masalah tanpa materai tempel di sana. Namun, yang terjadi justru berbeda dan pria itu berlalu keluar kamar entah kemana tujuannya.


"Aku sedang ditipu ya?" Zalina meremmas ujung kerudungnya, dia menatap kertas putih dengan 10 butir perjanjian yang melihatkan namanya di sana.


.


.


- To Be Continued -