
Zalina bergegas menuju kediaman Abrizam setelah menyadari kericuhan yang berasal dari sana. Bagi umi Rosita cekcok antara mereka memang kerap terdengar, tapi berakhir damai ketika umi Rosita menengahi pertikaian mereka.
Jika mereka berpikir kericuhan kali ini diakibatkan masalah pribadi pasangan itu, jawabannya jelas salah besar. Tidak hanya Sean yang ada di sana, tapi juga ada kiyai Husain dan yang lainnya di ruang tamu kediaman Abrizam.
Miris sekali melihatnya, hati Zalina terhenyak mendapati pemandangan yang menyakitkan hati tanpa sengaja. Mata Zalina memanas melihat penampilan Ayunda, dia tidak lagi mengenakan kerudung pakaian yang tampak robek di bagian dada.
"Ya Tuhan, Mas?!"
Tidak selesai di sana, kancing baju Sean yang berceceran membuat kemarahan Zalina membuncah. Ditambah lagi, saat ini Ayunda tengah menangis tersedu-sedu seolah Sean memang melakukan perbuatan tidak senonoh pada kakak iparnya.
"Sayang jangan salah paham ... wanita itu yang gila!!" teriak Sean menatap jijik Ayunda yang tengah menyeka air mata buayanya.
Beberapa saat lalu, tatapan penuh gairahlah yang Ayunda berikan kala berhasil menjebak Sean untuk masuk ke dalam rumahnya. Memanfaatkan tangisan putranya dan memecahkan guci di sana membuat Sean mengira jika bayi Abrizam benar-benar tengah celaka.
Namun, ketika Sean masuk yang terjadi justru berbeda dan Ayunda mengunci pintu demi membuat Sean tidak bisa keluar dari sana. Sayangnya, belum apa-apa Abrizam sudah mengetuk pintu rumahnya hingga membuat rencana Ayunda berubah.
"Abi demi Allah saya tidak melakukan apapun padanya, dia yang menjebak saya dalam permainannya."
Tidak hanya pada Zalina, Sean menjelaskan hal itu pada kiyai Husain segera. Dia yang memang pamit lebih dahulu karena sakit perut dikhawatirkan membuat mertuanya berpikir macam-macam, jika saja dia tahu akan berakhir begini lebih baik dia tidak peduli sekalipun anak Abrizam jatuh dari lantai dua.
"Pembohong kamu, Sean!! Setelah apa yang kamu lakukan padaku pagi ini ... bisa-bisanya kamu mengatasnamakan Tuhan!!"
Awalnya Sean mengira wanita itu tengah malu dengan usaha gagalnya hingga tidak mampu bicara. Nyatanya, dia justru tengah mencari jawaban untuk kembali menjerat Sean dalam jurang kebodohannya.
"Hei pellacur dengarkan aku ... istriku lebih segala-galanya darimu, andai di dunia ini hanya ada dirimu aku bahkan tidak sudi menyentuhmu!!"
"Dasar munafik!! Jika saja mas Abrizam belum pulang mungkin kamu sudah mendoaiku, Sean."
"Hahahah mendoai? Najish!! Kau tidak sadar jika sudah terlalu kotor dengan noda yang mengalir dalam darahmu?! Wanita sepertimu tidak layak ada di sini, jajakan tubuh di tempat lain."
"Sean istighfar, Nak!!"
Abrizam diam saja, dia hanya mengepalkan tangan seraya menunduk dan enggan mendekati Ayunda. Untuk itu kiyai Husain yang mencoba menenangkan menantunya. Sementara Agam berusaha berjaga di luar bersama Mardi demi menjaga aib memalukan ini.
"Istighfar? Abi memintaku istighfar untuk menghadapi wanita iblis seperti dia? Saya tidak bisa, Abi."
"Mas tenang," tutur Zalina dengan suara bergetar sembari mengusap pelan dada sang suami.
"Tenang apanya tenang? Dia memfitnahku, Zalina!!"
Jika difitnah menodai Zalina dia mungkin terima-terima saja, dahulu sekalipun membela diri Sean tidak sampai mengumpat dan melontarkan kata-kata kasar karena memang Zalina tidak menyeretnya.
Namun, untuk kali ini Sean jelas tidak bisa terima. Ayunda yang mencoba merayu Sean saja sudah membuat amarahnya membuncah, apalagi ketika Ayunda justru menebar fitnah akibat rayuannya gagal.
"Aku ingatkan padamu ... jika memang kau khawatir dengan pernikahanmu, jangan pernah menyeretku, Ayunda."
Tujuan Ayunda seolah tertebak, saat itu juga Abrizam menghela napas perlahan dan mengusap kasar wajahnya. Sejak pulang dari rumah sakit tadi malam, mereka memang sudah sama-sama panas.
Tidak hanya masalah hutang Ayunda yang berhasil membuat dada Abrizam sesak, tapi juga beberapa foto yang membuktikan kedekatannya bersama pria lain Abrizam dapatkan malam itu juga.
Dia takut, Abrizam mengetahui semua kebusukannya setelah kedekatan bersama Rangga itu kandas sebelum memulai. Kebencian merasuk dalam diri Ayunda dan mengira jika Sean yang mengadukan permainannya bersama Rangga.
Karena hal itulah dia menjebak Sean pagi-pagi buta. Harapannya, pernikahan Sean juga akan hancur setelah dirinya hancur. Namun, agaknya bukan hanya Sean yang bisa menerka tujuan Ayunda, tapi suaminya juga sama.
"Dia bohong, Mas ... mas lihat sendiri yang terjadi bagaimana, 'kan? Dia yang memaksaku, Mas," rengek Ayunda mendekati Abrizam yang sejak tadi membisu, dia masih bergeming dengan rahang yang kini mengeras.
"Menjijikkan, jika kau percaya wanita murahan itu jangan pernah mengajar lagi ... seorang guru yang bodoh tidak akan menghasilkan anak didik yang pintar," tutur Sean datar dan begitu mengena di hati Abrizam.
"Mas ... kamu tidak membelaku? Dia menghinaku berkali-kali." Ayunda mengguncang lengan sang suami, tanpa diduga pria itu justru menghempas kasar tangannya.
"Ayunda Prada Atmadja!!" bentak Abrizam meninggi hingga bahu Ayunda bergetar.
"Mulai detik ini kamu bukan istriku lagi ... silahkan angkat kaki dari rumah ini dan aku akan mengurus perceraian kita secepatnya!!"
"Mas?"
"Abrizam?"
Tidak hanya Ayunda yang terkejut, kedua orangtua dan adiknya juga sama. Mereka tidak salah dengar, Abrizam baru saja menjatuhkan talak pada Ayunda, tanpa keraguan dan dia mengatakan itu dengan sangat-sangat jelas.
"Mas? Aku tidak mau!! Mas kenapa tidak percaya padaku kali ini? Memang benar Sean yang berusaha menodaiku, dia berniat menghancurkanmu dan pernikahan kita ... Mas tahu bagaimana kebenciannya padamu, 'kan?"
.
.
- To Be Continued -