Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 153 - Lolipop


"Apa Mas melamarku?"


"Anggap saja begitu," jawab Sean mengecup kening sang istri begitu singkat.


Agaknya Zalina masih bingung apa yang baru saja terjadi di atas, apa mungkin karena putaran bianglala mempengaruhi otaknya atau memang terlalu terbawa apa yang Sean lakukan.


"Kalian lagi ada masalah?" tanya Zean yang tiba-tiba mencegat langkah keduanya, setia kawan atau hanya cari perkara hingga pasangan itu menunggu Zalina dan Sean sebelum berlalu ke tempat lain.


"Tidak, kenapa memangnya?" tanya Sean santai, sebisa mungkin bersikap biasa saja walau naluri untuk mencabut nyawa Zean masih ada.


"Aneh saja, cium istri seperti memastikan aroma durian."


Selain cerewet, Zean memang peduli lingkungan sepertinya hingga hal sekecil itu dia perhatikan juga. Sean tidak ingin marah untuk hal itu, hanya saja cara mereka dalam meratukan pasangan memang berbeda.


Jika Zean begitu mesra secara terang-terangan, Sean sebaliknya. Jangankan di depan umum begini, ketahuan mertua saja dia kalang-kabut. Beruntungnya, Zalina paham dan tidak membandingkan cara mereka sekalipun Zean kerap menggiring opini orang-orang di sekitarnya.


"Di luar ... kalau di balik pintu kamar beda lagi."


"Oh iya? Benar begitu?" tanya Zean mengullum senyum, seolah ingin membuat darah Sean mendidih.


Terserah, Sean malas untuk melayani saudaranya. Mungkin terlalu lama bergaul dengan Yudha, perlahan Zean terbawa suasana hingga sisi lain pria itu semakin terlihat dari masa ke masa.


Sean pikir kencan ini sudah berakhir, nyatanya masih berlangsung. Jujur saja yang dia nikmati dengan hati dingin hanya momen di atas bianglala, sisanya sakit kepala semua.


"Syil ... Syila!!" teriak Zean panik di tengah keramaian, sontak Zalina dan Sean panik hingga membalikkan badannya.


Awalnya mereka mengira jika Zean kehilangan istri atau terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Syila. Namun, yang terjadi justru berbeda karena kini Syila juga sama terkejutnya seperti mereka.


"Ada apa?"


"Anak kita mana?"


Setelah bersenang-senang cukup lama, dia baru ingat tentang putra sulungnya. Kemana otak Zean? Mungkin dia tukar untuk membeli jagung bakar itu, wajahnya panik dan segera meminta Sean menampung jagung bakar yang sudah dia makan setengah itu.


"Dasar gila, Hudzai ikut papa," ucap Sean yang kemudian membuat adik iparnya terbahak seketika.


"Syila kau tidak malu?" tanya Sean singkat pada wanita yang sejak tadi sedikit tertekan, sekalipun berusaha disembunyikan tetap saja kentara.


"Siallan, maksud pertanyaanmu apa," ketus Zean kembali menarik jagung bakar yang baru saja dia titipkan padanya.


Zalina hanya tertawa sumbang melihat wajah kusut Sean, selama ini Sean yang berulah dan kerap membuatnya tidak habis pikir. Kini, barulah Zalina pahami, bahwa satu-satunya lawan yang seimbang untuk menghadapi tengilnya Sean adalah saudara kembarnya.


"Kamu bahagia sekali, Na malam ini."


"Sejak kamu pulang setiap malam aku bahagia, Mas," jawab Zalina sejujur-jujurnya, tapi tidak dapat dia pungkiri malam ini memang dia lebih lepas karena ulah adik iparnya.


Sean melirik pergelangan tangan kirinya, belum terlalu larut, tapi mengingat mereka pergi meninggalkan kedua buah hati rasanya tidak tega jika pulang terlalu malam. Belum lagi, saat ini mereka masih terpisah-pisah, Sean sama sekali tidak mengetahui dimana papa dan juga yang lainnya.


Apa yang mereka lakukan serta bagaimana mereka menikmati waktu, Sean tidak tahu. Hingga, mata Sean menangkap sosok sang papa yang tengah mengabadikan kenangan Zia bersama Hudzaifah di sana.


Gayanya sudah seperti seorang ahli saja, lebih lucunya lagi Zia menuruti arahan Mikhail. Namun, beberapa saat kemudian sesuatu yang berada di saku celana papanya kembali menarik perhatian Sean.


"Ini apa, Pa?"


"Ays!! Siapa ka_ astaga, kau mengganggu saja."


Emosi sang papa masih sama rupanya, dia terkejut kala Sean menarik lolipop dari sakunya tanpa aba-aba. Namun kemarahan pria itu tidak berlangsung lama karena ketika sadar siapa yang berada di belakangnya, Mikhail tampak pucat pasi.


"Punya Hudzai," tegasnya cepat dan menarik paksa lolipop yang dia dapatkan dari merayu istrinya mati-matian beberapa waktu lalu.


"Oh iya? Setahuku Hudzai tidak suka permen begini."


Meski terpisah cukup lama dengan keponakannya, tapi Sean ingat betul apa yang menjadi kesukaan Hudzaifah. Sejak kecil anak itu memang tidak begitu suka permen dan semacamnya, sudah jelas karena Zean yang membiasakan.


"Lah terus, kau pikir punya siapa? Papa? Mana mungkin," ucapnya sewot, padahal lidahnya terlihat berwarna dan Sean dengan jelas menangkap kebohongan di sana.


"Hudzai!!"


"Iyaaa om," sahut Hudzaifah mendekat ke arahnya, wajah ceria anak itu mana mungkin berbohong.


"Permen ini punya siapa, Sayang?" tanya Sean berlutut demi menyesuaikan tinggi Hudzaifah, putra Zean yang sejak kecil justru lebih dekat dengannya.


"Punya opa," jawab Hudzai jujur sekali, sontak Mikhail menggunakan jurus pura-pura tuli dan asal jepret sana-sini hingga Zia sebal sendiri.


Habis sudah, Mikhail seketika menjadi sasaran anak-anaknya. Apalagi kala keluarga kecil Mikhayla kini turut bergabung dengan Keyvan yang membawa barang belanjaan banyak sekali, mungkin panci juga ikut dia beli.


"Cuma satu!! Yang itu tidak akan papa makan lagi," ucapnya ciut dan benar-benar takut kali ini, putrinya mulai mendelik usai mendengar aduan Sean.


Usai membuat Mikhail terjebak situasi, Sean kembali mencari saudaranya untuk memberikan kenangan tak terlupakan jua layaknya Zalina. Teriakan orang-orang yang menelisik indra pendengarannya membuat Sean rindu pada pria itu seketika.


"Kau jangan gila, Sean!!"


"Ayolah, kita berdua sudah lama tidak bersenang-senang seperti ini, Zean," ucap Sean sembari menarik paksa Zean dari belakang, teriakan pria itu semakin membuat Sean berambisi agar Zean menangis darah.


.


.


- To Be Continued -