Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 112 - Pertama Kali


"Hai ... sayang sudah lama?"


Tidak ingin konsentrasinya terganggu, Sean berlari ke kamar bahkan sengaja mengurung diri demi bisa bebas memandangi wajah istrinya. Baru juga beberapa jam, tapi Sean sangat merindukannya.


Jika bukan karena memikirkan Mikhail, sudah tentu Sean pulang siang ini juga. Pemandangan yang dia tatap saat ini terlalu menggairahkan, mendadak Sean ingin bergabung segera.


"Zalina ... bisa dua-duanya? Katamu susah?"


"Bisa, mbok Ratri yang ajarin, Mas," tutur Zalina tersenyum tipis.


Sudah tentu Sean bertanya demikian pasca dia memerlihatkan kegiatan kedua buah hatinya secara sekilas. Sudah Sean katakan matanya memang tertuju hanya untuk Zalina, wanita cantik yang perlahan membentuk jiwa Sean berubah tanpa memaksa ataupun menekan dirinya.


Terlebih lagi, tanpa pernah merendahkan sang suami meski kala itu mereka memang bagaikan langit dan bumi. Zalina sesabar itu dalam penantian, sementara Sean tidak bercanda dalam menata dirinya. Ketika Sean tinggal, Zalina sendiri dan kembali dalam keadaan sudah bertiga.


"Mas sudah makan?"


"Hm, tadi ada Irham juga di sini," ungkap Sean kembali memulai pembicaraan.


Sejak lama, Sean memang selalu terbuka dan mengungkapkan apapun yang terjadi padanya. Meski dia memang kerap berbohong dalam beberapa hal, tapi andai dirasa penting Sean tentu akan bicara.


"Oh iya? Aku juga ketemu, Mas."


"Hah? Apa? Ketemu dimana?"


"Bandara."


Sean yang tadinya berbaring mendadak duduk pasca mendengar ucapan Zalina. Apa tadi? Bertemu dengannya, Sean mendadak murka tentu saja. Meski dia memaafkan dan secebis rasa iba itu memang ada, jika sudah perihal Zalina dia tetap akan berbeda.


"Kalian bicara?" tanya Sean dengan nada yang sedikit berbeda, bisa disimpulkan dia tidak suka.


"Iya, tapi tidak sengaja, Mas ... ada Mardi juga kok, aku tidak sendirian."


Terserah, mau ada Mardi ataupun bapaknya Mardi sama sekali dia tidak peduli. Yang jelas saat ini, Sean tidak terima lantaran Zalina sempat bicara pada Irham. Terlebih lagi, pria itu sama sekali tidak menyinggung masalah itu.


"Kenapa kamu mau?" Sean tampak frustrasi, jujur saja dia memang sedikit pencemburu.


"Hanya bicara, aku tidak macam-macam serius."


Siapa yang sebenarnya laki-laki dalam hubungan ini, Zalina juga bingung. Wajah Sean mendadak berubah usai Zalina mengutarakan jika dia juga sempat bertemu Irham di Bandara.


Bahkan, Sean mulai enggan menjawab pertanyaan Zalina terkait bagaimana bisa Irham masuk ke rumah itu. Wajah datar andalan Sean sudah dia perlihatkan, pria itu menyugar rambutnya sedikit kasar.


"Mas marah?"


Sean tidak menjawab, hanya tatapan mata saja yang bicara. Zalina meminta bantuan pengasuhnya usai Habil dan Iqlima melepaskan diri, seolah mengerti jika abi dan uminya perang batin.


"Mas," panggil Zalina sekali lagi, lembut sekali dan sebenarnya Sean bergemuruh setiap mendengar suara lembut Zalina.


"Mas, kamu dengar aku tidak?


Dengar sebenarnya, bahkan panggilan itu membuat Sean seakan ingin menyerangnya habis-habisan. Sayang sekali saat ini mereka terpisah cukup jauh.


"Aku minta maaf, andai tahu Irham juga di sana mungkin aku akan berpikir dua kali untuk mengantarmu ke Bandara."


Dia marah sungguhan sebenarnya, kali ini bukan pura-pura. Sean yang tadi masih menatap Zalina dengan tatapan tajamnya, kini berganti menatap kuku-kukunya sebagai objek untuk mengalihkan pandangan.


"Mas boleh tanya sama Mardi kalau tidak percaya, aku tidak bohong ... buat apa aku bicara yang tidak-tidak."


Jika Sean frustrasi, Zalina tentu sudah gila. Menghadapi cemburunya Sean memang bukan hal mudah, bahkan lebih sulit dari pada meminta seluruh hartanya.


Jalan tiga tahun pernikahan, mereka sama sekali tidak pernah bertengkar. Sekalipun Zalina menangis itu karena perpisahan kala Sean tersandung kasus pembantaian keluarga Mahesa.


Namun, sekalinya berselisih justru begini. Untuk pertama kali, Zalina sampai menangis sembari mengulangi kronologi bagaimana dia bisa bertemu Irham di Bandara.


"Mas Sean ... Iya tahu aku salah, maaf. Kamu boleh marah, tapi jangan diemin aku terus," lirih Zalina seraya menghapus kasar air matanya.


Air mata itu tampak nyata, Zalina benar-benar menangis diperlakukan sedemikian rupa. Mungkin jika Sean bersikap kasar dia tidak akan sesedih ini, tapi diamnya Sean seolah membunuh Zalina pelan-pelan.


Tanpa Zalina sadari sejak tadi hati Sean bergelora melihat wajahnya yang basah dengan air mata. Ingin sekali Sean menyekanya, tapi keinginan untuk melihat Zalina menangis lebih lama ternyata mendominasi.


Suara lembut Zalina sebenarnya menyiksa jiwa Sean yang tersiksa dengan kerinduan. Hingga, hati Sean tidak lagi tega untuk terus menyiksanya ketika napas Zalina mulai tidak baik-baik saja.


"Sayang sudah nangisnya?" tanya Sean kemudian tertawa sumbang seakan-akan tanpa dosa, tidakkah dia sadar jika saat ini Zalina bahkan ketar-ketir menghadapi perubahan sikapnya.


"Ih Mas apaan sih," kesal Zalina sedikit meninggi, tapi justru Sean berdebar mendengarnya.


"Jangan menangis lagi, kamu jelek begitu," ucap Sean yang tentu saja berbohong.


"Mas bikin takut."


"Takut apa, Sayang? Takut kehilangan?"


Tentu saja, sejak awal Sean tahu bahwa hal yang paling Zalina takutkan adalah kehilangan Sean. Baik itu raga, maupun jiwanya. Hal itulah yang menjadi alasan Sean justru menginginkan Zalina menangis hingga sesak.


"Masih tanya, iyalah ... jangan bercanda lagi ah."


"Kamu kenapa pakai ah ah begitu? Sengaja mancing, Na?"


Hanya dua huruf, Zalina bahkan tidak bermaksud begitu, tapi Sean justru menjadikan hal itu sebagai masalah. Wajah Zalina yang tadi memerah karena tangis, kini memerah karena malu. Sadar jika kini sang suami tengah menggodanya.


"Mas jadi pulang malam ini, 'kan?"


"Hm jadi, kenapa?"


"Bawain alpukatku yang dikulkas waktu itu, Mas kalau masih ada," pinta Zalina ketika sedikit lebih tenang.


"Kenapa harus yang dari sini? Beli di sana, 'kan bisa?"


"Tidak mau, maunya yang itu ... di sini beda, Mas."


"Iya, tunggu mas pulang ... dandan yang cantik, mas ingin kita pacaran nanti malam."


"Pacaran dimana? Mas mau ngajak makan malam?"


"Iya, menunya kamu," ucap Sean kemudian yang mematahkan semangat Zalina seketika.


"Nyebelin!!" Zalina mencebikkan bibirnya, sial itu terlihat imut bagi Sean.


"Ck, dia pikir aku kuat melihat ekspresinya yang begitu? Harusnya kubawa pergi saja wanita ini."


.


.


- To Be Continued -