
Demi kebahagiaan anak, Ana rela menampung Axel yang datang sepagi ini. Sudah tentu ikut sarapan bersama, malu-malu, tapi nambah juga. Axel terlalu lapar atau nasi goreng buatan Ana sesuai dengan seleranya hingga jadi begini.
"Mommy pintar masak, Dad ... kata mommy saat aku masih di dalam perut mommy, Daddy sangat suka masakan Mommy, benar, 'kan?"
"Uhuk."
Sejak tadi Ana diam, seketika terbatuk begitu mendengar pengaduan Satria. Dia lupa untuk memperingatkan Satria agar tidak membahas hal itu, kini jelas saja dia susah payah menahan malu.
"Mommy bilang begitu?"
Setelah batuk Ana perlahan mereda, pria justru kembali membahas ucapan Satria. Entah kenapa dia justru tertarik dan ingin mendengarnya sekali saja. Andai hal itu hanya sebuah kebohongan Ana agar putranya tenang, tapi entah kenapa dia berdebar saja mendengar kata saat aku masih di dalam perut Mommy.
Ya, kata-kata itu membuat Axel menghangat seolah mengkhayal dia sebagai sosok ayah yang tengah dirindukan. Padahal, jika dipikir segala logika mungkin saja detik itu Ana tengah mengutuknya agar tersiksa atau mati di penjara.
"Benar, Daddy ... kata Mommy begitu."
Menyesal sekali Ana mengatakan dongeng penenang sebelum tidur untuk Satria. Beberapa waktu lalu memang Satria bertanya panjang lebar, entah dimana dia melihat interaksi wanita hamil dan suaminya, mungkin tetangga sebelah.
Pikiran Satria terlalu jauh hingga bertanya bagaimana dahulu Mommy dan Daddy-nya sewaktu Satria masih dalam kandungan. Hendak mengatakan sejujurnya tidak mungkin dan terpaksa Ana mengada-ngada.
"Mommy masih ingat ternyata."
Sama iyanya, Ana mendelik ke arah Axel yang kini tertawa sumbang. Sungguh kerja sama yang saling menguntungkan dan berhasil membuat Ana malu sendiri. Mendadak nasi goreng buatannya seakan tawar, cita rasanya sudah berubah dan membuat Ana malas mengambilnya.
Hangat sekali sarapan pagi ini, biasanya hanya berdua dan kini ditemani pria yang begitu Satria rindukan bertahun-tahun, jelas saja bahagia. Usai sarapan, ketiganya kembali bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Sesuai keinginan Satria, pagi ini mereka pergi dengan sepeda motor. Ana tersenyum, menjadi pendengar ayah dan anak yang berceloteh di hadapannya membuat hati wanita itu menghangat.
"Daddy ... aku suka naik motor begini, kalau aku sudah besar aku yang bawa motornya, Dad."
"Kau mau jadi anak motor rupanya?"
"Bukan, aku anak Mommy dong sama Daddy juga," jawab Satria polos hingga gelak tawa Axel tidak lagi dapat dia tahan.
Lucu sekali, Ana yang mendengar saja tertawa pelan. Begitu banyak yang mereka bicarakan, hingga tiba di sekolah Satria. Sebuah sekolah dasar yang Sean pilih setelah berdebat bersama Ana cukup lama.
"Masuklah, Daddy tunggu di sini."
"Jangan pulang duluan ya, Dad," ucap Satria seakan takut Axel tinggalkan, sekhawatir itu dirinya andai Axel benar-benar pergi.
Menyisakan Axel dan Ana yang kini duduk berdua demi menunggu Satria di luar. Jelas tidak cukup semenit atau dua menit, tapi minimal dua jam. Ana kembali memilih diam, wanita itu mengeluarkan gawainya dan mencari cara agar terlihat sibuk di mata Axel.
Sementara Axel mencuri pandang melalui ekor matanya, penasaran dan seketika dia bernapas lega kala yang Ana lihat hanya sebuah tutorial memasak. Cukup lama mereka tenggelam dalam kebisuan, ternyata tanpa adanya Satria, pria itu benar-benar mati kutu.
Keduanya menunggu di luar sekolah, sebuah taman yang memang digunakan untuk bersantai di sana. Hingga, Ana beranjak berdiri kala seseorang menghubunginya.
"Ck, kenapa harus sejauh itu angkat teleponnya?"
Dia menggerutu, seakan tidak terima Ana menjauh darinya, padahal mungkin saja bersifat rahasia. Kendati demikian, Axel merasa tidak perlu menjauh, seketika dia mendadak khawatir jika yang menghubungi Ana adalah seorang pria.
Terlebih lagi, kala senyum Ana mengembang kemudian tertawa pelan. Wajah pria itu mendadak berubah, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, mungkin rasa iri seperti Ricko akhir-akhir ini.
"Telepon dari siapa?"
Setelah sejak tadi diam dan menahan, kini Axel melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Ana mengerutkan dahi. Bukan pertanyaan Axel yang membuat dia bingung, melainkan wajah Axel yang kini ditekuk.
"Kak Irham," jawab Ana singkat, dia meraih botol air mineral yang sejak tadi berada di antara mereka.
"Oh, kau terlihat bahagia ... ada kabar baik apa?" tanya Axel kemudian meraih botol di tangan Ana lantaran wanita itu terlihat kesulitan membuka tutupnya.
"Dia akan menikah dalam waktu dekat, aku bahagia sekali ...."
"Ehm syukurlah, lalu kita bagaimana?"
.
.
- To Be Continued -