
Kata orang, pesona seorang wanita memang membutakan mata. Baru juga kencan sekali, malam harinya Axel mulai menunjukkan efek samping dari suntikan kebahagiaan yang dia dapatkan tadi siang.
"Cih, kau sengaja pamer?"
"Sakit setan!!"
Rasanya Axel sama sekali tidak mencari masalah. Dia sudah memilih tempat untuk leluasa memandangi foto putranya, sekaligus Ana tentu saja. Namun, sama sekali tidak dia duga jika Ricko mencuri pandang dari belakang dan menarik rambut Axel seketika.
"Lebay."
"Iri!! Dengki!! Kau lupa apa kata Sean? Orang iri hidupnya tidak akan berkah," kesal Axel mengusap kepalanya, entah kenapa hidup dari remaja bersama Ricko tidak ada hal yang menyenangkan sedikit saja.
"Pret, salahmu pamer!! Sengaja?"
Terserah Ricko saja, seperti kata Hito yang waras memang sebaiknya mengalah. Axel memilih diam dan mencari posisi yang lain, duduk di sofa yang berada di sudut ruangan dan kembali membuka ponselnya.
Mereka sempat bertukar kontak tadi siang, demi Satria tentu saja. Namun, yang terjadi justru berbeda dan Axel menggunakan ponsel itu untuk mencaritahu kehidupan Ana dan Satria selama dia di penjara.
"Bibirmu lucu, persis mommy," puji Axel memandangi wajah putranya lekat-lekat, memang benar mirip Ana dan Satria adalah perpaduan dua insan itu.
"Apa tadi? Mom apa? Kenapa tidak umi saja seperti Zalina kan lucu."
Lihatlah, betapa irinya manusia itu. Sudah Sean tegaskan bahwa Ana adalah tanggung jawab Axel, bukan dirinya. Hanya saja, Ricko yang memang terpikat dengan kecantikannya jelas saja kepanasan melihat sahabat dalam suka maupun dukanya itu tersenyum tanpa henti sejak tadi sore.
"Kau gerah rupanya? Mandi sana, bangshat!!"
"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?"
Lagi dan lagi Axel hanya menghela napas kasar. Bingung juga kenapa di lingkungannya bisa hidup seonggok manusia yang tercipta dari tanah sengketa. Wajah tak berdosanya membuat Axel melemparkan bantal ke wajahnya.
"Woah kekerasan ... kau mengajakku bertanding rupanya?"
Mereka sudah dewasa, bahkan jika keluar rumah tidak ada lagi yang memanggil kakak, melainkan om. Namun, kebiasaan semacam ini memang sudah berlangsung lama, sejak mereka berdua dalam asuhan Hito.
Jangan ditanya bagaimana kondisi kamar itu, jelas sudah seperti kapal pecah. Padahal sudah Sean berikan kamar yang berbeda, tapi memang Ricko cari perkara. Sejak awal niatnya masuk ke kamar Axel untuk mengusiknya, tapi melihat temannya bahagia dia menggila.
"Woey!! Astaga ... kalian benar-benar akan begini seterusnya?"
Wajar saja Sean merasa aneh ketika melewati kamar Axel. Pintu yang sedikit terbuka membuat suara mereka terdengar sampai keluar, dan kini mata Sean dibuat ternoda dengan posisi Ricko dan Axel yang seolah sedang bercinta.
"Ah mau sekamar rupanya? Kenapa tidak bilang?"
Sama-sama lupa diri, mereka tidak sadar jika posisinya sudah sesinting itu. Rambut sama-sama tidak beraturan, dada Axel naik turun dan membuat Sean menatap keduanya curiga.
"Apa yang kau pikirkan? Aku masih normal ... dia mungkin tidak lagi," ujar Axel membenarkan piyamanya.
"Cih? Aku? Dasar gila, apa kau lihat gagakku berdiri karena menyentuhmu? Tidak, 'kan?"
"Jangan berisik, Ricko kembali ke kamarmu."
Bak kerbau dicolok hidungnya, Ricko menurut saja begitu Sean yang bicara. Bukan apa-apa, mungkin takut diusir sebenarnya. Sementara Axel masih terlihat berdiam diri di posisinya, dia tidak akan meminta maaf untuk hal semacam ini.
Tidak ingin berlama-lama, Sean berlalu segera dan meminta Axel mengunci pintu. Mungkin paham bagaimana perasaannya, terlebih lagi Irham sempat menghubungi Sean selepas isya. Pertemuan yang dahulu mereka rencanakan berjalan dengan baik, sangat baik dan Ana terlihat lebih tenang, begitu menurut penuturan Irham.
Hanya Axel yang kini berada di dalam kamar. Baru saja menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, ponsel Axel berdering dan hatinya seketika menghangat begitu menyadari Ana menghubungi. Bukan hanya panggilan suara, tapi video yang artinya mereka akan bertatap muka.
"Hallo, Daddy!!"
"Hai, Sayang ... belum tidur?"
Bukan Ana yang menyapanya, tapi tidak mengapa. Lagi pula apa alasan Ana menghubungi secara pribadi, yang paling penting saat ini adalah putranya.
"Tidak bisa, Dad ... tadi Satria mimpi buruk."
Kasihan, Axel berusaha menenangkannya. Dapat dia tangkap kekecewaan Satria karena Axel mengingkari janjinya untuk akan tetap berada di sisi Satria sebelum dia terlelap tadi siang.
Kini, putranya menagih janji dan pria itu hanya bisa berusaha memberikan pengertian pada Satria. Beruntung saja Satria tidak menyebalkan seperti Ricko, dia tidak banyak drama seolah mengerti masalah orang dewasa.
"Tidurlah, Daddy akan menjagamu dari sini," ucap Axel usai menenangkan putranya, menggemaskan dan ingin sekali dia peluk seperti tadi siang.
"Mommy ... ayo kita tidur, Daddy akan jaga dari sana," teriak Satria seketika membuat jantung Axel seakan lepas dari tempatnya.
"Satria," desis Axel yang belum apa-apa sudah salah tingkah, jika Satria mengajak Ana, maka besar kemungkinan Axel tidak akan tidur setelah ini.
"Please, Mommy!! Aku mau dipeluk Mommy terus dijaga Daddy."
.
.
❣️