
Sarah duduk termenung di dalam mobil, memandangi sekilas pinggiran jalan yang dia lewati. Di dalam kepalanya hanya terpikir tentang pernikahan Aaron,sambil berbicara dalam hati dan mengolah pikirannya sendiri untuk bisa menerimanya.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Apa aja yang telah ku lewatkan?"
"Selama ini kan aku udah berhasil menyingkirkan semua wanita yang sudah menggoda kak Aaron."
"Apa aku harus menerimanya?"
"Aah...Kata kak Vian aku harus menerimanya demi kebaikanku."
...
"Kak,apa kau mengenal istri kak Aaron?" Tanya Sarah.
"Kenal,tapi kami tak dekat."
"Kakak harap saat kamu bertemu dengannya kau tak membuat masalah,berusahalah menerima."
Sarah mengalihkan pandangannya ke luar jendela,menekan rasa kecewa karna pernikahan Aaron dan berkata dalam hatinya.
"Apa aku bisa..."
****
Hari ini rumah besar tidak seperti biasanya,hiruk pikuk para pelayan yang menata rumah untuk perayaan pesta masuknya Sora dalam keluarga Markle membuat nenek terlihat bersemangat dan berusaha menata dekorasi seperti yang di inginkannya.
Sederhana namun mewah yang di tampilkan dekorasi tersebut.
Sora menyusuri seluruh ruangan dengan matanya dan mendekati pelayan untuk membantu menata peralatan makan,nenek yang melihatnya berlari kecil dan melarang Sora melakukan hal itu.
"Sora apa yang kamu lakukan." Teriak nenek dengan menarik lengan Sora dan memintanya untuk diam dan duduk saja.
"Nek.." Ucap Sora lembut.
"Tidak,kamu harus dengerin nenek."
"Nenek tak ingin membuat kamu kelelahan dan sesuatu terjadi pada dirimu dan si kembar ."
"Dan juga..,apa kamu ingin jika Aaron memecat mereka?" Bisik nenek.
Sora menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku enggak mau nek,jangan sampai Aaron tau."
"Hahaha pasti kamu tau seperti apa sifat Aaron."
Sora tersenyum lebar.
"Tentu saja nek,dia orang yang seenaknya." Bisik Sora.
"Yah memang seperti itulah dia,tapi dia orang yang sangat perhatian pada keluarganya." Imbuh nenek.
Sora tersenyum.
"Benar nek,dia bahkan tak pernah meninggalkanku terlalu lama."
Nenek dan Sora berbicara panjang lebar dan sesekali mereka tertawa membuat Sarah yang baru saja memasuki rumah berdiri terdiam saat melihat mereka berdua.
"Apa wanita itu istri kak Aaron."
"Dan nenek seakrab itu?"
Batin Sarah.
"Rah kamu nggak masuk?"
Ucapan Vian menyadarkan Sarah.
"Iya kak,aku akan masuk."
"Nenek..." Teriak Sarah dengan manja.
"Sayang,sudah lama kamu tak kesini."
"Iya nek,maafkan Sarah."
"Apa nenek sudah merindukanku?"
"Tentu saja nenek merindukanmu."
"Karna kau tak datang tak ada yang menemani nenek minum teh." Jawab nenek.
"Vian,kau juga sudah melupakan nenekmu ini ya?"
"Kau tak pernah mengunjungi nenek."
"Hehe,Vian tak bermaksud seperti itu nek."
"Baiklah nenek mengerti,kau sibuk dengan pekerjaanmu."
"Kalian bertiga duduk dan berbicaralah dulu,nenek harus mengurusi taman belakang rumah."
Mereka mengangguk dan terlihat agak canggung satu sama lain.
.....
"Sarah?"
"Kudengar dari Fredy dia sedang sakit,tapi yang kulihat dia baik baik saja."
Batin Sora.
"Sora bagaimana kabarmu?" Tanya Vian.
"Aku baik baik saja,terima kasih." Balas Sora.
"Bagaimana denganmu?"
"Kau lihat kan aku juga baik." Jawab Vian di iringi dengan senyuman.
"Hai,aku Sarah,kamu istri kak Aaron ya?"
"Kau pasti tau kan jika aku dan kak Vian sepupu dari kak Aaron?"
"Ah,eh iya."
"Tentu saja."
Jawab Sora dengan nada yang sedikit bingung,dan berbicara dalam hatinya "Kok aneh sih,biasanya dia kan selalu bersemangat jika berbicara denganku."
"Apa sakitnya parah ya,sampai dia lupa denganku."
Di tengah pembicaraan mereka,ponsel Vian berdering,dan harus berpindah tempat untuk berbicara.
"Aku nggak tau gimana cara kamu menggoda kak Aaron,sampai dia mau menikahimu."
"Selama yang ku tau,kak Aaron tak akan pernah mencintaimu."
"Kau harus ingat itu."
Sora menanggapi perkataan Sarah dengan senyuman lalu mengucapkan beberapa kata.
"Kamu gak perlu bersusah payah deh ngingetin aku."
"Aku merasa kasihan denganmu karna kau akan melihat sendiri,bagaimana dan seperti apa Aaron mencintaiku."
Balas Sora.
Saat akan berbicara untuk membalas perkataan Sora mulut Sarah tertahan oleh kedatangan Vian.
"Sarah,kita pulang sekarang."
"Kakak harus kembali ke kantor."
"Baiklah."
"Sora,senang bertemu denganmu." Ucap Sarah.
"Aku juga,senang bertemu denganmu." Balas Sora dengan senyum yang terpaksa.
Sora menatap kepergian Vian dan Sarah dengan perasaan yang tak bisa di mengerti olehnya.
"Astaga,dia seperti punya dua kepribadian." Guman Sora.
Setelah Vian dan Sarah menghilang dari pandangan,Sora berdiri dan berjalan perlahan untuk mengelilingi setiap sudut ruangan di rumah besar.
Mengamati satu persatu foto yang tersusun rapi pada dinding yang terlihat seperti ruang keluarga.
Sora terlihat terkejut saat melihat foto seseorang yang dia kenal saat kuliah.
"Elan?"
"Laki laki ini... seperti Elan."
"Apa hubungan Elan dengan Aaron?"
Sora terkejut untuk kedua kalinya.
Yang pertama Sarah dan yang kedua Elan.
"Sayang,nenek mencarimu dari tadi."
"Ternyata kamu di sini."
"Maafkan Sora nek,sudah membuat nenek kebingungan mencariku."
"Sora tak ingin merepotkan nenek."
"Kamu tidak merepotkan nenek kok sayang."
"Nek...,bolehkah Sora bertanya."
"Tentu saja sayang."
"Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan." Ucap nenek.
"Nek,siapa laki laki yang berdiri di sebelah nenek selain Aaron?" Tanya Sora sambil menunjuk foto yang dia lihat.
"Oo dia cucu nenek,putra dari bibinya Aaron."
"Namanya Elan."
"Astaga!"
" Jadi Elan sepupu Aaron?" Batin Sora.
"Kau bisa bertemu dengannya saat pesta berlangsung?" Ucap nenek.
"Ah."
Balas Sora singkat dengan senyum yang di paksakan untuk menutupi rasa cemasnya.
"Nek Sora pamit kembali ke kamar."
"Iya,istirahatlah di kamar."
....
Setelah masuk ke dalam kamar Sora terlihat cemas.
Duduk di pinggiran tempat tidur dan menelepon.
"Tuuut.. tuuut.. "
"Jean...,kok nggak di angkat angkat sih."
Sora bertambah cemas.
Berulang kali Sora mencoba menelepon Jean namun tak terangkat.
...
"Sayang." Panggil Aaron.
"Hah."
Sora terkejut melihat Aaron yang tiba tiba berada di depannya.
"Kau kenapa?" Tanya Aaron.
"Enggak,aku nggak apa apa."
"Kamu keliatan cemas."
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Aaron untuk memastikan keadaan Sora.
"Mm..."
"Aku hanya ingin menelepon Jean,tapi dia tak mengangkatnya."
"Ku dengar dari nenek,Vian dan Sarah tadi datang kemari."
"Apa... Sarah mengganggumu?"
"Enggak."
"Bener nih,kamu nggak bohong kan?" Ucap Aaron.
Sora berdiri dari duduknya dan mendekati Aaron dengan perlahan lalu menyusupkan tangannya pada pinggang Aaron.
"Sayang tak semudah itu seseorang dapat menggangguku?" Ucap Sora pelan.
Aaron tersenyum lalu mengecup kening Sora dan memeluknya dengan erat.
"kamu pantas menjadi istri seorang Aaron Markle." Ucap Aaron bangga.
Di dalam pelukan Sora menyembunyikan kecemasannya saat mengetahui jika Elan adalah sepupu dari Aaron.