Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Suasana bahagia.


20.30


Masih dengan suasana resepsi. Hanya saja kali ini cukup keluarga inti saja yang hadir.


Kini keluarga besar itu tengah duduk di meja makan sembari menikmati makan malam yang lezat.


"Mau lagi," pinta Rafandra mengangkat piring nya. Lana pun mengambil nasi beserta lauknya untuk Rafa. Bukan karena manja atau malas, hanya saja posisi nasi agak jauh dari Rafa.


"Aku juga, aku juga, Aunty." Delisa pun mengangkat piringnya. Mereka berdua memiliki karakter yang sama kalau sudah prihal makan.


"Ya ampun, kalian ini. Jangan malu-maluin, sudah seperti tidak makan sebulan saja," ucap Gamian merasa jengkel melihat kedua manusia kelaparan itu.


"Kami lapar," sahut Rafa dan Delisa bersamaan.


"Cih, ikut-ikut." Delisa menendang kaki Rafandra karena kesal mendengar perkataan laki-laki itu.


"Berbisik," balas Delisa menatap sengit saudara sepupunya itu.


"Hei, hei. Makanlah sebelum piring itu di tarik," sela Gamian tak bisa tenang melihat kedua manusia yang tak bisa bersatu dalam satu wadah.


"Iya, iya."


"Setelah itu kalian cuci piring," lanjut Gamian membuat orang-orang yang ada di meja makan hanya bisa tertawa kecil saja.


"Lah, kan ada mbak author yang nyuci, Uncle," jawab Delisa.


"Iya, untuk apa capek-capek cuci piring. Kan ada mbak author," timpal Rafa.


"Hei, hei, hei, dasar tak tau diri. Mbak author itu sudah capek nulis, jadi tidak bisa cuci piring lagi. Paham?" sela Daren kesal melihat kedua orang yang tak bisa diam.


"Hei, hei, hei. Tak bisakah kalian membedakan mana kandang milik kalian dan mana kandang milik orang," sela Zain menengahi.


"Hei, hei, hei....


"Hei! Apa sih hei, hei, hei?" teriak Anna yang sudah panas telinganya mendengar perdebatan tak berguna itu.


"Kita ini sedang makan, jangan banyak bicara! Nanti nasi nya loncat dari mulut," lanjut Anna mengeluarkan jurus mematikan nya.


"Iya, Ma."


"Iya, nenek. Maaf," ucap Rafa dan Delisa serentak.


"Maafkan kami, Gabriel. Mereka ini memang sering ribut karena hanya masalah sepele, jadinya tidak sopan. Apalagi kita sedang makan," ucap Anna merasa tak enak pada tuan rumah.


"Hahahaha, tidak apa-apa. Santai saja, anggap saja rumah ini adalah rumah kalian juga. Lagi pula kalau diam-diam saja akan terasa sangat tegang," sahut Gabriel tersenyum ramah.


"Meskipun begitu, rasanya sangat tidak sopan ketika kita sedang makan mereka malah hei, hei, hei. Entah apa yang hei?"


"Paman minta maaf yah, ini semua salah mereka," sela Zain sembari menunjuk dua cucunya.


"Lah?"


"Shuutttt," Zain meletakkan telunjuk tangan nya di mulut pertanda untuk diam.


"Iya, paman. Santai saja."


Makan malam pun terlewatkan dengan menyenangkan. Terkadang mereka bercanda hingga mengundang tawa.


****


1 bulan kemudian.


07.00


Rafika dan Keyla sudah pindah ke rumah pribadi milik Rafka.


Rafka sudah terlihat rapi karena akan segera pergi bekerja. Sedangkan Keyla masih berada di kamar mandi.


Terdengar Keyla muntah-muntah di dalam kamar mandi membuat Rafka menjadi khawatir dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Ada apa, sayang?" tanya Rafka semakin panik melihat istrinya sudah terkulai lemas.


"Key, ada apa?" Rafka dengan sigap mengangkat tubuh Keyla dan membaringkan istrinya di atas kasur.


"Kepala ku pusing, perut ku mual, aku ingin muntah," lirih Keyla memegang kepala dan perutnya.


"Aku akan memanggil dokter," ucap Rafka mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter wanita yang sudah menjadi dokter pribadi untuk Umi nya.


"Assalamualaikum, dok."


"...."


"Iya, tolong datang kemari yah. Istri saya sakit," lanjut Rafka.


"....."


"Baiklah, terimakasih. Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh." Rafka menutup panggilan lalu kembali mendekati istrinya.


"Sayang, mau minum," pinta Keyla pelan.


"Minum apa?" tanya Rafka mengelus perut Keyla dengan pelan. Ia takut Keyla mengalami sakit di ginjalnya. Ia takut itu.


"Eum, es rujak."


"Ha? Es rujak? Memang ada yah?" tanya Rafka bingung karena baru pertama kali mendengar es rujak.


"Ada, rujak nya di es. Jadilah es rujak," jawab Keyla tertawa.


"Yang benar saja, Key."


"Iya, sayang. Aku ingin es rujak," jawab Keyla mantap.


"Sayang mau apa?" tanya Keyla melihat Rafka mengambil kembali ponselnya.


"Menghubungi kepala pelayan untuk membuat es rujak," jawab Rafka.


"Jangan," cegah Keyla.


"Kenapa?" tanya Rafka.


"Aku maunya kau yang membuatkan es rujak untuk ku," jawab Keyla membuat Rafka kebingungan.


"Tapi aku tak tau cara membuatnya, aku saja baru dengar." Rafka duduk di tepi ranjang lalu mengelus kepala sang istri.


"Coba cari di internet," saran Keyla.


"Baiklah, tapi tak mungkin aku meninggalkan mu sendirian di sini, sayang."


"Tak apa, yang penting es rujak." Rafka pun mengangguk lalu membuka kembali kemeja nya.


Ia segera menuju ke dapur untuk membuat es yang dikatakan Keyla. Ini masih pagi tapi Keyla ingin es, tak apalah. Toh, butuh beberapa waktu untuk membekukan es nya. Jadi, tidak terlalu pagi.


Beberapa menit kemudian.


Dokter sudah datang, begitu juga dengan Aria dan Gabriel. Mereka khawatir saat menerima telepon dari Rafka bahwa Keyla sakit.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Gabriel melihat Rafka yang keluar dari dapur.


"Belum tau, Abi." Rafka memang belum tau karena dokter baru saja datang. Untungnya ia sudah selesai membuat rujak nya, hanya tunggu beku dan menjadi es saja.


Rafka pun membimbing dokter untuk masuk ke dalam kamarnya. Dokter langsung memeriksa keadaan Keyla sembari mengangguk-angguk.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rafka tak sabaran.


"Semua baik-baik saja, tuan. Nona muda hanya mengalami gejala morning sickness," jawab dokter dengan nada tenang membuat ketiga orang itu terkejut sembari terus mencerna.


"Maksudnya Keyla hamil, Dok?" tanya Aria memastikan.


"Iya, nyonya. Kandungan nona sudah memasuki usia 7 Minggu."


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah." Rafka langsung bersujud dengan rasa syukur. Matanya sudah berkaca-kaca, ia memang tak memikirkan soal anak tapi mendengar istrinya hamil membuat ia bahagia.


"Kehamilan nona masih sangat rentan akan bahaya, lakukan pemeriksaan rutin setiap bulan dan selalu jaga kesehatan serta pola makan. Jangan lupa untuk mengontrol atau mengendalikan emosi ibu hamilnya yah," saran dokter.


"Terimakasih, dokter. Akan saya lakukan dengan baik," ucap Rafka.


Dokter pun pamit meninggalkan keempat orang yang masih berbahagia di dalam kamar Rafka.


"Apa aku hamil, sayang?" tanya Keyla masih belum percaya.


"Iya, kita akan punya anak. Alhamdulillah," jawab Rafka senang.


"Selamat yah, kalian akan menjadi ayah dan ibu sebentar lagi," ucap Gabriel memberi selamat untuk putra dan menantunya.


"Terimakasih, Abi."


"Jangan lupa bawa istrimu untuk memeriksa keadaan kandungannya. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga istri pun terabaikan. Jadilah suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab," ucap Aria memberi semangat serta nasehat pada putranya.


"Terimakasih, umi."


Rafka tak henti-hentinya tersenyum dan memanjatkan syukur pada Sang Maha Pencipta. Ia sangat bersyukur karena diberi kepercayaan oleh Sang Maha Penyayang untuk memiliki anak.


"Terimakasih, sayang." Tak lupa Rafka mengucapkan terimakasih pada istrinya yang sudah memberikan ia kebahagiaan tiada tara.


_


_


_


_


_


_


Wah, selamat yah bang Rafka.🥰


Untuk Keyla jangan capek-capek yah, biar author aja yang kerja di dapur untuk kalian.


Impian author terwujud guys. Author masuk cerita juga akhirnya 😅 walau hanya sebatas pencuci piring.


Terimakasih Mas Daren sudah belain aku yang hanya butiran debu ini🤭🤧


Ada yang mau up lagi?


50 komen, 250 like untuk satu eps selanjutnya.


Author tunggu sampai jam 12.


Akan author update antara jam 10 atau 12 kalau sesuai target patokan persyaratan author untuk double up🤭


Suka kali author patok-patok yah😂


Iyalah, kan enak banyak yang komen, apalagi komennya panjang lebar berbobot pula tuh😂


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.