
"Abi serius, Sayang ... Habil mau punya dedek, jadi Habil nen sama abi saja, abi juga punya loh," ucap Sean seraya mengangkat bajunya hingga ke dada.
Zalina hanya menggeleng pelan, terlebih lagi kala Habil justru menoleh ke arahnya seolah meminta izin. Tatapan mata Habil juga seakan menegaskan jika dia ingin, lucu sekali baginya.
"Oh Habil tanya umi dulu ya, Sayang? Boleh, kan, Umi?" Sean mewakili diamnya Habil yang dia artikan bermaksud meminta izin.
"Boleh, coba sana siapa tahu betah," jawab Zalina sama iyanya, Sean terbahak mendengar jawaban sang istri.
Tanpa menunggu lama, putranya benar-benar menurut dan kini mulai membuka mulutnya seakan milik Sean memang menghasilkan. Sean menahan napas kala merasakan puncak dadanya menghangat.
"God boy ... biasanya umi yang begini, Nak."
"Mas Sean ih!! Fitnah banget kalau ngomong!!"
"Kelepasan, itu rahasia kita ya, Na?" tanya Sean yang membuat Zalina mendelik tajam.
"Rahasia apanya? Memang aku tidak pernah begitu!!"
"Shuut ... lihat Habil lagi nen, Umi," tutur Sean menempelkan jemari ke bibirnya, seakan yang dia lakukan benar-benar sungguhan.
Awalnya memang tidak ada yang mencurigakan, dia berhasil menggantikan posisi Zalina menyusui putranya meski jujur saja geli. Namun, belum sampai tiga menit, geli yang tadinya Sean rasakan mendadak berubah menjadi rasa sakit tiada tara. Kebetulan, dua gigi atas dan bawah Habil memang sudah tumbuh.
Entah hanya karena giginya gatal, atau memang kecewa karena tidak ada isinya hingga gigitan Habil benar-benar kuat. Zalina kira awalnya bercanda, tapi kala melihat Sean menggigit bibirnya baru Zalina berhenti tertawa.
"Awwwh!! Sakit, Zalina tolong ... tubuhmu juga kenapa seberat ini, Habil!!"
Sean bukan pria lemah, seharusnya meski tubuh putranya cukup berisi dia tidak kesulitan untuk mengangkatnya. Namun, karena Habil menyerang salah-satu titik kelemahan Sean, pria itu bahkan mendadak lemas dan baru bisa bernapas lega ketika Zalina turun tangan.
"Jangan digigit abimu, Nak."
"Didit?" Mata bulat Habil menatap uminya yang kini tengah menghela napas lega.
"Iya ... tidak boleh digigit, nanti abi menangis."
Sean meringis usai memastikan puncak dadanya, curiga mungkin lecet, beruntung saja tidak putus. Tatapan tajam Sean layangkan pada putranya, bukannya takut Habil justru tergelak dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Zalina.
"Dasar piranha, kamu sedang balas dendam? Hah?"
Gelak tawa Habil seketika memenuhi ruang keluarga, mungkin benar dia teramat puas setelah berhasil membalas dendam pada abinya. Sean berdiri dan menyibak kerudung istrinya, saat itu juga tawa Habil kembali terdengar hingga sakit yang Sean rasa hilang seketika.
"Baaaa!!"
"Kyaaaaaaaaa biiiii!!"
Jika lawannya sudah Sean suara sang putra memang seakan keluar semua. Tidak jarang habil sampai muntah karena tertawa berlebihan, kedua pahlawan Zalina memang terlihat begitu manis saat ini.
Sekuat itu habil berpegang pada uminya di saat Sean terus menggodanya. Sementara Zalina sama sekali tidak menyadari jika saat ini Sean tengah berusaha untuk bisa menyentuhnya dengan segala cara, karena jika memang dia ingin bermain bersama Habil, sudah tentu akan meminta agar Habil berada dalam gendongannya.
Tidak masalah sekalipun sang istri enggan didekati, jika dengan cara ini justru kebahagiaannya berlipat ganda. Selama Zalina masih anti dirinya, mereka akan lebih sering menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya.
.
.
Sekalipun perjanjian yang Sean buat tidak dapat berlaku dalam waktu dekat, sama sekali bukan masalah. Selama beberapa hari terakhir Sean menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya, dan juga dengan cara itu Sean masih bisa mencuri peluk dan cium dari sang istri.
Sean tidak menghitung sudah berapa lama, tapi yang jelas baginya sangat lama. Hingga malam ini dia berada di titik putus asa dan tidak mampu menahan kerinduan dalam jiwanya.
"Mas rindu, Zalina."
Istrinya begitu dekat, tapi benar-benar tidak tergapai. Sean tidak sekuat itu, bagaimana bisa dia bertahan hanya dengan melihat wajah cantik istrinya tanpa melakukan apa-apa.
"Jangan dipindahin, aku tambahin batasnya kalau mas macem-macem!!"
Persetan, Sean tidak akan mengurungkan niatnya. Tidurnya sama sekali tidak nyenyak tanpa pelukan Zalina, hingga Sean benar-benar menyingkirkan guling pembawa petaka itu dari sisinya.
Baru saja hendak mendekati sang istri, ponselnya berdering berkali-kali. Sean memejamkan mata dan berharap sang istri tidak merasa terganggu. Perlahan, Sean berusaha meraih ponsel di atas nakas dan tentu jaraknya bersama Zalina kian terkikis.
"Mas ngapain?" tanya Zalina memecah konsetrasi Sean dan kini menunduk hingga matanya menangkap tatapan tajam Zalina.
"A-ambil handphone, Sayang ... mas ganggu ya?"
"Hm, gulingku mana, Mas?" tanya Zalina yang membuat Sean mengerjap pelan. Sama sekali Zalina tidak peduli siapa penelponnya, tapi justru memikirkan guling yang menjadi pembatas di antara mereka.
"Jatuh, tidurmu jelek malam ini."
Sean terpaksa berbohong agar masalahnya tidak panjang. Dia bergerak cepat mengambil guling yang baru saja dia lempar ke lantai sebelum menerima panggilan telepon tersebut.
"Tidurlah, mas angkat telepon sebentar." Sean tidak keluar ataupun menjauh, pria itu tetap bertahan di posisinya.
"Hallo, Yudha ...."
Mata Zalina terbuka seketika usai mendengar sapaan dari sang suami. Dia mendekat, dan kini ikut duduk di sisi Sean, sialnya sang suami justru memindahkan ponsel ke sisi kanan hingga Zalina tidak bisa ikut menguping pembicaraannya.
"Bagaimana, Yudha?"
.
.
- To Be Continued -