
Rafka POV.
Sudah satu Minggu Keyla koma, tak ada tanda ia akan membuka mata ataupun memperlihatkan pergerakan. Hal itu membuat ku semakin terpukul, pasalnya setiap malam aku selalu terbangun dari tidurku lalu mencarinya ke penjuru rumah hingga aku sadar bahwa Keyla sedang berbaring manis di ranjang rumah sakit.
Seperti malam ini, aku berteriak memanggil namanya dan berjalan kesana-kemari mencari keberadaan istriku yang aku cintai hingga Abi dan Umi terbangun dari tidur mereka.
"Rafka," panggil Abi memeluk ku. Aku baru sadar bahwa Keyla ada di rumah sakit. Aku merindukannya.
Aku sudah seperti orang gila sekarang. Aku depresi dan kehilangan gairah hidup.
Setiap hari ku lewati dengan hampa, sedangkan malam akan terlewatkan dengan sunyi.
Aku sudah pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu karena si kembar tak boleh lama-lama di sana. Takutnya nanti si kembar akan terkontaminasi oleh penyakit ataupun virus dari pasien lainnya.
Begitupun dengan Keyla yang hanya boleh di jenguk satu kali dalam seminggu, hal itu untuk mengurangi kontaminasi virus atau apalah itu yang penjenguk bawa dari luar.
Dua hari yang lalu Alan di kabarkan masuk penjara atas tuduhan pembunuhan berencana, semua bukti yang di miliki Abi seakan membuat laki-laki itu tak bisa berkutik lagi.
Atas tuduhan pembunuhan berencana, Alan dan anak buahnya di jatuhi hukuman seumur hidup atau paling berat hukuman mati. Entah itu terlalu berlebihan atau malah bagus aku tak tau. Yang ada di benakku hanyalah Keyla, Keyla dan Keyla.
Mungkin itu adalah hukuman setimpal dan juga sebagai pelajaran bagi laki-laki itu agar segera bertaubat dan mendekatkan diri pada sang Maha Pencipta.
Pagi ini aku di sini, sendiri menatap ke depan di halaman belakang. Aku tak bekerja karena mendapatkan jatah cuti dua bulan atas kelahiran buah hatiku dan Keyla.
"Abi Rafka," panggil Umi mendekat ke arah ku sembari membawa si kembar. Aku tersenyum manis ke arah mereka. Aku bersyukur ada Umi, Abi dan Razka serta keluarga lainnya yang selalu menyemangati ku untuk tetap menjalani hidup dengan baik.
Tak bisa ku pungkiri, ada rasa kecewa dan juga rasa senang. Semua bercampur aduk membuat aku menjadi suami serta ayah yang plin-plan.
"Gendong Abang Azzam sebentar boleh," pinta Umi padaku.
"Boleh, Umi." Aku pun mengambil alih anak laki-laki ku dari gendongan Umi. Sedangkan anak perempuan ku ada di dalam kereta bayi, tertidur pulas.
Nama anak ku adalah Azzam dan Azzura. Nama itu bukan dariku karena aku tak bisa berpikir pada saat Keyla masih asyik tertidur di ranjang rumah sakit.
Nama itu adalah pemberian Abi dan juga Umi. Aku setuju saja, karena yang penting anak-anak ku sehat serta tumbuh dengan baik.
"Belum bobok yah." Aku mencoba mengajak Azzam untuk mengobrol. Walau tak ada respon, hanya juluran lidah saja sebagai respon nya.
"Bang," panggil Razka dari arah belakang. Laki-laki itu tampak senang sekali menjaga anak-anak ku. Dia bahkan bisa menjadi baby sister untuk Azzam dan Azzura.
"Ada apa?" tanya ku melihat ia begitu semangat hari ini.
"Apa gadis kecilku sudah tidur?" tanya Razka berjongkok untuk melihat Zura putri kecil ku yang cantik dan juga imut.
"Eum, jangan keras-keras bicaranya. Nanti dia bangun, kalau dia bangun nanti menangis." Susah sekali kalau Zura putriku itu menangis, jika dia sudah menangis maka butuh hampir satu jam untuk menenangkan nya.
Ketika Zura menangis maka Azzam juga akan ikut menangis. Terkadang aku bingung melihat putra dan putriku bisa melakukan hal secara serentak. Mungkin karena mereka kembar.
"Sayang, berikan susu ini pada Azzam." Umi datang dengan sebotol susu lalu memberikan nya padaku, aku pun memberikan susu itu pada putraku yang terlihat lapar.
Anak ku tak bisa minum susu formula karena alergi, mereka akan memuntahkan susu itu lalu menangis sejadi-jadinya. Oleh karena itu, umi pun mengusulkan agar membayar ASI seorang ibu yang juga baru melahirkan di samping rumah kami. Sayangnya anak nya meninggal setelah beberapa hari setelah lahir, sungguh takdir yang menyedihkan.
Umi pun meminta tolong pada ibu itu untuk memberikan ASI pada bayi kembar ku dan pastinya di bayar dengan jumlah yang besar.
Dan beginilah hari-hari ku berjalan tanpa mu, Sayang. Aku selalu merasa kesepian dan juga hampa, tak ada yang membuat ku semangat kecuali melihat wajah bayi kita yang mungil. Aku berharap kau segera sadar dan kita kembali seperti dulu, tersenyum dan bahagia.
Aku menunggu.
********
Author POV.
Hari sudah berganti menjadi malam yang sunyi. Selesai makan malam, tampak Gabriel sedang menggendong cucu perempuan nya yang sedang rewel, sedangkan Azzam ada di gendongan Razka.
"Rafka," panggil Gabriel melihat putranya yang duduk termenung di depan TV. Seperti tak ada aura kehidupan di sana, hanya ada tubuh yang bergerak tanpa gairah hidup.
"Iya, Abi."
"Gendong putrimu," ucap Gabriel memberikan cucu perempuan nya pada Rafka.
"Buatlah kesibukan, nak. Jangan termenung, itu tidak baik. Cobalah untuk merawat anak mu dengan baik, rutin menggendong mereka pasti akan membuat mu lebih tenang," ucap Gabriel menasehati Rafka.
"Iya, Abi." Rafka tampak tersenyum melihat putrinya yang menatapnya juga, dengan bola mata cokelat terang membuat ia semakin gemas dan menciumi pipi putri kecilnya.
"Apa Abang tidak mau memperkerjakan baby sister?" tanya Razka memegang tangan Azzam. Razka memberikan jari telunjuknya agar Azzam menggenggam jarinya. Ia sangat senang ketika jarinya di genggam.
"Tidak, itu akan memperburuk semuanya. Mereka tak boleh dekat dengan orang asing, jika Abang memperkerjakan baby sister maka anak-anak Abang akan dekat dengan baby sister, bukan dengan ibunya. Mereka akan lebih mengenal baby sister daripada ibunya nanti." Razka tampak manggut-manggut saja, ia kembali fokus pada keponakan nya itu.
"Biar aku saja yang jadi baby sister nya," tawar Razka membuat Gabriel dan Rafka tertawa kecil.
"Baby brother," sahut Gabriel sembari tertawa.
"Iya baby brother pun jadi, daripada orang lain lebih baik aku saja yang merawat mereka, aku bahkan sudah bisa memandikan mereka, membersihkan **k nya juga aku bisa." Razka menepuk dadanya bangga.
"Aku juga bisa, bukan kau saja yang bisa." Rafka tak mau kalah dari sang adik.
"Abi boleh lah, aku mau jadi baby brother mereka," rengek Razka gemas dengan keponakan nya yang tampak licah menggerakkan kaki serta tangannya.
"Bilang saja kalau kau mau menghindar dari pekerjaan kantor," sahut Gabriel membuat Razka langsung terkekeh.
"Kenapa Abi bisa tau?" tanya Razka tertawa kecil.
"Karena kau adalah anak Abi," jawab Gabriel menepuk bahu Razka.
"Lalu aku anak siapa?" tanya Rafka menyela.
"Anak pungut," jawab Razka tertawa lepas.
"Hus, jangan kuat-kuat. Nanti mereka terkejut," tegur Aria yang baru saja datang dan ikut duduk bersama suami, anak serta cucunya.
"Kau anak Abi juga lah," jawab Gabriel merangkul Rafka membuat Razka langsung berhenti tertawa.
"Bang Rafka di rangkul, lah aku di tepuk. Abi pilih kasih," omel Razka cemberut.
"Oh, sini-sini. Biar umi saja yang peluk," goda Aria memeluk putra bungsunya.
Mereka pun saling bercanda dan tertawa sembari menimang Azzam dan Azzura. Setidaknya dengan seperti itu, Rafka bisa melupakan sedikit kesedihan nya dan mencoba memulai hidup dengan baik.
_
_
_
_
_
_
Cepat bangun, Keyla.🌹
Ini author nulis dalam keadaan mood yang berantakan, jadi kalau ada yang kurang nyambung author minta maaf.
Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.