Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 12 - Edisi Ana - Axel


Setelah semalam mereka tidur bersama, pagi ini kembali di satukan di atap yang sama. Ana memantau di ambang pintu, bagaimana lembutnya Axel membangunkan Satria membuat Ana tersenyum simpul.


"Kalau caramu begitu tidurnya akan semakin nyenyak," ucap Ana menggeleng pelan. Maklumi saja, dia belum terbiasa dan mana mungkin juga di penjara dia pernah jaga anak.


Axel menoleh ke arah sumber suara, Ana yang mendekat membuatnya merubah posisi. Axel bertanya dengan tatapan tulusnya, jujur saja dia tidak tahu bagaimana cara membangunkan anak dengan benar.


"Suaramu terlalu lembut, ditepuk bukan dielus."


Tidak hanya sekadar bicara, Ana juga mempraktikkan contohnya. Sama sekali Axel tidak fokus pada Satria saat ini, melainkan wajah cantik Ana yang tengah memberikan penjelasan padanya.


Dia sangat-sangat dewasa, keibuan dan di usia yang masih cukup muda setelah luka yang Ana terima membuat Axel mengaguminya. Luka yang dia ciptakan, dia pelaku utamanya. Seketika dada Axel mendadak sesak, dia sakit sendiri dengan mata yang terus menatap Ana lekat-lekat.


Bukan tatapan penuh naffsu seperti dahulu, Axel menatapnya sangat berbeda. Iba, merasa berdosa dan penyesalan sebesar dunia tengah dia rasakan saat ini. Sejahat itu dirinya, setelah merenggut paksa masa depannya, Axel justru meninggalkan bekas yang pada akhirnya begitu berharga untuk Ana.


"Coba lagi, kau sudah berjanji sem_"


"An," sela Axel tiba-tiba, jujur saja dia tidak lagi fokus mendengarkan Ana, bahkan dia tidak sadar tengah menyela pembicaraan wanita itu.


"Kenapa?"


"Maafkan aku," lirih Axel hampir tak terdengar, suaranya seakan hilang dan tak sanggup untuk kembali bicara.


Lidahnya terlalu kelu, dia kembali menunduk demi menyembunyikan mata yang kini sudah mengembun. Andai Ricko mengetahui hal ini, sudah tentu dia akan menjadi bahan ejekan. Tidak masalah, Axel tidak ingin membohongi dirinya sendiri, fakta jika kini tengah berada di titik terendahnya, sungguh.


"Untuk?"


"Semuanya ... orang tuamu, kau dan Satria tentu saja."


Sebenarnya Axel sudah tidak punya muka, dia akui mungkin setelah ini Ana justru semakin membencinya. Namun, perasaan bersalah itu selalu menghantuinya. Tatapan permohonan dari Ana agar dia berhenti malam itu selalu Axel ingat, tega sekali jika diingat-ingat.


"Bukan salahmu, lagi pula sudah jelas om Bram adalah penyebab utama orang tuaku meninggal."


Dia hanya menjawab perihal orangtua, tidak untuk kesalahan fatal yang Axel lakukan padanya. Ana menghela napas perlahan, dia menatap sekilas Axel yang kini tampak menunggu dia untuk kembali bicara.


"Soal Satria ... aku memang pernah terluka, tapi tidak lama. Kak Irham menguatkanku waktu itu, dia bilang anak itu anugerah dan suatu saat akan menjadi orang pertama yang menghapus lukaku."


Ana bergetar sebenarnya, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan Axel. Sebagaimana janjinya pada Irham, dia tidak akan pernah menyalahkan takdir dan ketetapan yang Tuhan gariskan.


"Dan ternyata benar, Satria adalah satu-satunya tujuanku tetap hidup ... aku menyaksikan Satria tumbuh dari hari ke hari, dia harta satu-satunya yang kupunya setelah papa dan mama pergi dan aku sanggat bangga memilikinya."


Ana tidak sedang mengarang cerita, semua memang benar adanya. Walau di awal kehamilan dia luar biasa gilanya, bahkan sempat berusaha mengakhiri hidup berkali-kali. Irham yang kala itu hanya bisa pulang sesekali bahkan memilih menetap lebih dulu demi menjaga mendampingi Ana dalam keterpurukannya.


Sedamai itukah Ana menerima lukanya? Kenapa tidak ada marahnya sama sekali? Axel sempat menduga bahwa dia akan diperlakukan hina ketika Sean mengabarkan tentang Satria. Namun, semua itu terbukti hanya ketakutan Axel semata.


"Aku terlalu lama ... maafkan aku sekali lagi, An."


"Hm, berhenti membahasnya dan jangan membuatku justru kembali mengingatnya, Axel kumohon."


Susah payah dia menata diri, Ana hanya tidak ingin ketakutannya itu kembali. Terlebih lagi yang berucap adalah pelakunya sendiri, sudah lelah dia berjuang memberikan kekuatan dalam dirinya.


"Iya, An tidak lagi ... tapi sebelumnya, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Silahkan, tanyakan saja."


"Apa mungkin kita bis_"


"Daddy ...."


Tatapan mereka beralih cepat, keduanya yang tadi saling memandang seketika berhenti kala mendengar suara serak Satria. Mereka bicara terlalu jauh, apa mungkin Satria mendengarnya? Berharap saja tidak.


"Hallo good boy, selamat pagi ... kau sudah bangun?"


"Heum, Daddy akan mengantarku sekolah hari ini?"


"Tentu saja, bukankah Daddy sudah berjanji?"


"Yeay!! Sama Mommy juga ya?" Permintaan Satria bertambah, seketika Ana menunduk dan Axel menangkap sebuah penolakan kecil di sana.


"Please, Daddy!! Kemarin Hiro mengejekku karena hanya diantar Mommy ... iya? Iyaiyaiyaiyaiya? Jawab iya, Dad!!"


Astaga, kenapa dia jadi pemaksa begini? Apa mungkin karena dahulu Axel merenggut kehidupan ibunya juga dengan cara paksa? Seketika Axel bertanya-tanya.


"Iya, Satria ... sana mandi, Mommy akan siapkan sarapan," jawab Ana yang lagi dan lagi membuat mata Axel seketika membola.


.


.


- To Be Continued -