Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
105. Mereka berpacaran


Mata Sora terbelalak setelah membuka pintu di ruangan Jean.


Mata sucinya ternoda dengan apa yang dia lihat sekarang,Sora mengelus perut besarnya dan merubah posisi berdirinya membelakangi pintu yang sudah di bukanya.


"Tok tok tok."


Sora mengayunkan jari nya ke pintu.


Jean yang mendengar suara ketukan pintu menjadi gugup dan cepat cepat merapikan atasannya yang sedikit berantakan dan mendorong Zain agar sedikit menjauh darinya,tidak menyangka jika Sora saat ini yang mengetuk pintu ruangannya.


"Hehehe." Jean meringis menahan malu.


Jean menggerakkan lima jarinya dan memberi kode pada Zain untuk segera pergi meninggalkannya,lalu Jean buru buru berjalan ke arah Sora.


"Kamu gak pulang ke rumah?"


"Kenapa kamu langsung ke kantor,apa kamu gak lelah?"


Sora hanya diam mendengar pertanyaan Jean,mengabaikan Jean dan berjalan ke arah kursi.


Sora duduk sambil menyilangkan tangannya,menatap Jean dengan dalam,menyusuri tubuh Jean dari atas sampai bawah.


"Ckckck, Jean gak ku sangka sekarang kamu seberani itu." Nyinyir Sora dengan kata yang menyindir.


Dengan tubuh lunglai Jean berjalan ke arah Sora dan bersimpuh di kaki Sora.


"Nyonya aku janji gak akan melakukan itu di kantor." Ucap Jean dengan wajah memelas.


"Bagus...jadilah anak yang baik ya!"


Sora membalas ucapan Jean sambil membelai rambut Jean dan tertawa kecil.


Jean menengadahkan wajahnya ke arah Sora lalu melebarkan senyumannya dan berujar "Tapi aku akan melanjutkannya di rumah."


"Apa? Dasar anak nakal!"


Sora melebarkan matanya setelah mendengar ucapan Jean.


"Hahaha."


Jean tertawa lepas melihat wajah Sora yang menahan marah lalu memindahkan tubuhnya disebelah Sora dan memeluknya dari samping.


"Aku kangen ma kamu,kamu udah terlalu lama ninggalin aku." Bisik Jean.


Sora melirik Jean dan mengangkat salah satu alisnya.


"Aku gak salah denger nih?".


"Beneran kamu kangen ma aku?".


"Bukannya kamu sedang bahagia tanpa ada aku?"


"Hiiw." Jean meringis mendengar rentetan pertanyaan Sora.


"Itu.. benar sih.. tapi aku tuh juga kangen ma kamu Ra."


"Sejak kapan kamu pacaran dengan Zain?"


"Kenapa kamu gak cerita ke aku?"


"Apa kamu udah gak menganggap aku teman?"


"Hehehe aku ingin ngasih surprise ke kamu Ra."


"Kamu tau Ra? Sekarang kamu gak usah khawatir tentang aku,ada Zain yang akan menjagaku sekarang,oke." Bibir Jean tersenyum meminta Sora agar ikut tersenyum.


"Eh hallo ponakan kalian gak rewel kan selama di sana."


Tanya Jean untuk mengalihkan pertanyaan dari Sora.


Jean mengelus-elus perut Sora dan mendekatkan mulutnya lalu berbicara panjang lebar pada si kembar yang masih berada di perut Sora.


"Ra ngomong-ngomong apa kamu udah membereskan masalah itu dengan Elan?"


Sora terdiam dan hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya.


"Entahlah Jean,dia tak mau mendengar penjelasanku."


"Apa Aaron tau?"


Sora menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tau Jean."


"Jean,aku takut."


"Aku beberapa kali bermimpi buruk,aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi."


"Gak Ra,itu gak akan terjadi."


"Itu hanyalah mimpi."


Jean berusaha menenangkan perasaan Sora dan memeluk Sora lalu meraih kepalanya agar bersandar di bahunya.


"Makasih Jean."


....


Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda.


"Apa kau sudah membereskan semua Jack?".


Aaron menghentikan pekerjaan dan menatap Jack dengan tajam.


"Sudah tuan muda,Zander bersedia bekerja sama dengan kita."


"Bagus,biarkan kakak beradik itu berada di tempat yang sama,jika mereka menghianati kepercayaanku,akan ku buat mereka memilih untuk mati mengenaskan."


"Itu tidak akan terjadi tuan,mereka berutang nyawa pada anda."


Ucap Jack lalu Jack menundukkan kepalanya dan beranjak meninggalkan ruangan Aaron.


Ketika membuka pintu Jack terkejut,Sora sudah berdiri tepat di depan pintu,entah sedari kapan Sora sudah berdiri di situ.


"Nyonya." Jack memberi hormat pada Sora.


"Sayang."


Aaron segera berdiri begitu mendengar suara Sora,menghampiri Sora dan memapahnya untuk duduk di sofa.


"Sayang kamu istirahat saja,aku gak mau kamu kelelahan."


Aaron memperlihatkan kekhawatiran di wajahnya,karena semenjak pulang Sora tak beristirahat.


"Aku belum lelah sayang,aku hanya ingin berkeliling kantor aja."


"Tadi aku menemui Jean."


"Eh sayang kamu tau gak?"


"Jean dengan Zein."


"Ternyata mereka berpacaran,wah aku tuh gak nyangka,mereka akan secepat itu jadi pasangan kekasih."


"Em." Jawab Aaron singkat.


"Em?"


"Kok cuma jawab Em aja sih." Sungut Sora yang seperti anak kecil.


Sedikit terlambat Sora menyadari.


"Sayang kamu tau kalau mereka sedang berpacaran?"


"Yah...,sudah tau sih,mereka pacaran saat kita di menikah kemarin."


Aaron berdiri menghindari Sora yang mungkin marah mendengar jawabannya.


Aaron ergegas ke mejanya berpura pura sibuk menatap laptop.


"Kamu ternyata sudah tau?"


Sora hanya bisa melotot dan mengacungkan telunjuknya.


"Sudahlah,aku akan pulang."


Dalam kekesalannya Sora menghentakkan satu kakinya dan meninggalkan Aaron.


"Eh sayang tunggu."


Melihat istrinya marah Aaron segera mengejar Sora.


"Tunggu sebentar sayang,plis jangan marah ya,aku salah oke."


"Aku hanya belum sampaikan ke kamu aja kabar ini."


Aaron berusaha membujuk Sora agar tak marah.


Aaron memutar tubuh Sora,menatap matanya dan berkata dengan lembut.


"Sayang udah ya jangan marah."


"Omg,kenapa sih suamiku tampan banget kalau seperti ini." Jerit batin Sora.


"Aku gak bisa deh kelamaan marah sama dia."


"Ehem."


"Oke aku udah gak marah."


"Sekarang aku mau pulang."


"Beneran?" Aaron memastikan perkataan Sora dengan mengapit pipi Sora yang mulai cubby karna kehamilannya.


Sora hanya mengangguk dengan jawabannya.


"Biar Jack yang antar kamu ya."


"Iya." Jawab Sora dengan nada pelan.


Aaron menekan tombol telepon di meja memerintahkan Jack untuk mengantar Sora ke kediaman.


Selepas kepergian Sora ponsel Aaron bergetar,terlihat di layar nama kakek Rassam.


Salah satu alis Aaron tertarik ke atas setelah melihat siapa yang menelpon nya.


Butuh tiga detik Aaron untuk menerima telpon dari kakek.


"Ya kakek."


"Temui kakek malam ini."


"Baik."


Aaron mengetuk meja dengan lima ujung jarinya secara bergantian,memikirkan apa yang akan kakek bicarakan padanya nanti malam.


"Zain datang ke ruanganku."


"Baik pak."


Tak terlalu lama Aaron menunggu kedatangan Zain.


Zain mengetuk pintu dan membukanya setelah ada jawaban dari Aaron.


Beberapa lembar kertas yang ada di map,Zain serahkan dengan perlahan.


"Bukti ini cukup untuk menangkapnya pak." Terang Zain.


"Kau dan Leon yang urus." Ucap Aaron sambil mengembalikan lembaran kertas yang tadi di berikan oleh Zain.


"Baik."


Zain meninggalkan ruangan Aaron setelah memberi laporan.


Dia mendapat misi untuk mencari mata mata yang ada di perusahaan.


Setelah beberapa bukti terkumpul mereka akan bertindak.