Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 135 - Bukan Manusia Biasa


Telinga Sean dibuat panas pagi ini karena ulah Zalina. Tidak pernah berdusta, sekalinya bersilat lidah Zalina bahkan membuat Sean tidak bisa berkata-kata. Tidak hanya bibir Sean yang dibuat bungkam, tapi kakinya juga merasakan sakit saat ini.


"Ayo jalan, Mas."


Belum usai keterkejutan Sean dengan kegilaan sang istri beberapa saat lalu. Kini, dia kembali membuat Sean menghela napas panjang. Setelah diprotes pakaiannya, kini Zalina sengaja menggunakan kacamata hitam yang membuat wanita itu kian tertutup.


"Jangan bercanda," ucap Sean datar dan suasana hatinya masih buruk akibat dianggap benar-benar judi online oleh kiyai Husain.


"Cepet, Mas kan katanya mau ke bengkel."


"Kenapa di belakang? Pindah ke depan," pinta Sean kemudian menghela napas kasar.


"Aduh, aku sudah nyaman di belakang, Mas gimana dong?"


"Gimana apanya gimana? Pindah, sebelum mas marah!!" titah Sean tak terbantahkan, tapi sayangnya akurasi Zalina akan patuh siang ini tidak ada sama sekali.


Bukannya menjawab, Zalina justru bersandar dan seolah menunjukkan jika dia benar-benar tengah berada di posisi nyaman. Sean ingin menyerah sebenarnya, jujur saja dia sangat berusaha agar tetap menjaga kewarasan di hadapan Zalina.


"Zalina."


"Hm, ada apa, Mas?" tanya Zalina mendayu dan membuat Sean memiliki pikiran untuk melaju dengan kecepatan super tinggi saat ini.


"Aku bukan supirmu!! Dan juga lepas kacamata itu!!" sentak Sean dengan dada yang kini memanas, terbiasa dengan Zalina yang begitu lemah lembut membuat hati Sean mengeras seketika.


"Ahaha lupa, sepertinya aku sudah rindu om Babas ... baiklah, aku ikuti kata-katamu, Mas."


Sean tidak lagi menjawab, dia hanya mengusap kasar wajahnya. Sorot tajam pria itu tidak melepaskan Zalina dari pandangannya, hingga sang istri benar-benar duduk di hadapannya baru Sean bisa sedikit lebih tenang.


"Pasangin, Mas ... susah hm." Zalina tahu mata sang suami tengah menunjukkan kekesalannya, dia paham jika Sean sedang marah.


Namun, hal semacam itu tidak membuat Zalina menyerah. Sejak tadi malam memang hatinya membengkak, Sean benar-benar menyebalkan hingga kepala Zalina seperti hendak berasap. Sebenarnya Zalina tahu bahwa dendam tidak dibenarkan, tapi anehnya saat ini hati Zalina benar-benar menggebu untuk membalas perbuatan sang suami.


"Manja,"


Sean bergumam seraya memasangkan sabuk pengaman sang istri. Jika manja bersedia diperlakukan sesukanya, Sean bahagia-bahagia saja. Masalahnya Zalina berbeda, dia manja tapi Sean tidak bebas sama sekali. Bahkan untuk menciumnya saja tidak bisa, terlebih lagi saat ini bibir sang istri semakin sulit dia jangkau.


"Makasih, Sayang."


Tatapan mereka bertemu sejenak, Sean menghembuskan napas kasar dan menggigit bibirnya seketika. Dari matanya saja sudah terlihat kecantikan sang istri, dan mengingat fakta istrinya anti disentuh membuat Sean tiba-tiba emosi.


"Mas kenapa? Marah ya?"


"Menurutmu?" ketus Sean benar-benar tidak kuasa menahan kekesalan pada Zalina saat ini.


"Istighfar, Mas Sean ... tidak boleh marah-marah, sebentar lagi puasa loh."


Biasanya dia yang menguji kesabaran Zalina, kini justru berbalik. Baru juga beberapa menit, Sean sudah merasakan betapa sulitnya dia menghela napas lega.


"Lalu kenapa kalau puasa?"


"Suamiku benar-benar pemarah rupanya ... jadi curiga ucapan Lengkara waktu itu benar," ucap Zalina kala Sean sedang fokus, entah apa yang hendak dia sampaikan sesungguhnya.


"Mas tahu, 'kan kalau manusia itu terbuat dari tanah?"


"Hm, lalu?" tanya Sean dingin, berusaha menegaskan pada Zalina bahwa dirinya memang benar-benar marah.


"Hm, sepertinya benar mas Sean diciptakan bukan dari tanah biasa karena auranya memang berbeda," jelas Zalina seakan serius sekali, Sean perlahan mengurangi kecepatannya.


"Terus apa?" tanya Sean dengan firasat yang kini mulai buruk, agaknya dia akan tersinggung setelah ini.


"Tanah sengketa," jawab Zalina terbahak dan benar-benar tidak mampu menahan gelak tawanya.


"Ngaco!!"


"Ini serius, Mas ... soalnya bawaannya emosi, marah-marah terus persis orang lagi berebut lahan," jelas Zalina yang membuat gigi Sean bergemelutuk seketika.


Terserah Zalina saja, Sean benar-benar tidak kuasa menghadapi sang istri saat ini. Sepanjang hari, Sean menguatkan hati meski sang istri kian menjadi.


Sebenarnya pakaian Zalina mengurangi kadar kecemburuan Sean yang kerap tak suka istrinya dipandangi pria lain. Terbukti dengan jelas bagaimana Abas dan karyawan yang lain seketika menundukkan pandangan begitu Sean datang mendampingi Zalina.


Semua tampak aman-aman saja, Sean hanya ingin memastikan keadaan bengkelnya. Tidak dia duga jika akan seramai ini, hingga ketenangan Sean kembali terusik ketika Zalina memintanya pergi seketika.


"Bas, saya pulang dulu ya ... titip salam buat yang lain."


"Aman, Bos."


.


.


"Apa? Kenapa narik-narik mas? Hm?" tanya Sean pasrah saja Zalina tarik seperti anak kambing.


"Mau es kelapa muda, mas lihat itu yang beli ramai," pinta Zalina mandongak membuat kekesalan Sean seakan musnah seketika.


"Tinggal beli, apa susahnya, Sayang?" tanya Sean dengan kening berkerutnya.


"Ah maunya mas yang buatin ... ayo buruan."


"Mas? Sama buka kelapanya juga?" tanya Sean menelan salivanya susah payah.


"Iya dong ... bisa, 'kan?"


Sean memejamkam mata kemudian memijam pangkal hidung, dia membatin dan tengah meratapi nasibnya. "Mas, bisa, 'kan?"


"Bisa, Zalina bisa!! Kepala yang jual juga aku belah sekalian."


.


.


- To Be Continued -