
"Waalaikummussalam, cinta pertamanya mas Sean."
"Astaghfirullah, Zalina!" Sean kaget kala menyadari wajah sang istri berada di dekatnya, senyum wanita itu sedikit tak terbaca dan membuat Sean was-was seketika.
Zalina hanya tersenyum simpul, tidak ada gurat kemarahan atau ingin menelan Sean saat ini. Padahal, biasanya sang istri teramat sensitif. Apa mungkin Agam yang sudah menundukkan hatinya? Atau memang sedang waras, pikir Sean mengerutkan dahinya.
"Sejak kapan kamu di sini?" selidik Sean dengan jantung yang bertedak dua kali lebih cepat. Bukan karena karena tertangkap basah, melainkan terkejut dengan kehadiran Zalina.
"Kaget ya?"
Masih bertanya, sudah jelas dada sang suami naik turun akibat kehadirannya yang tiba-tiba. Sean tidak segera menjawab, pria itu hanya mengelus dada dan menggeleng pelan kala sang istri duduk di sampingnya.
"Mas kenapa tidak pernah cerita soal mbak Nana?" tanya Zalina melembut, sepertinya memang sudah luluh dibawah pengaruh ajian Agam hingga sang istri tidak meledak-ledak begini.
"Tidak penting, Na ... yang ada kamu marah besar, tadi pagi saja begitu padahal mas tidak menyebutkan dengan jelas siapa orangnya."
"Andai aku tahu orangnya mungkin tidak akan marah," ucap Zalina menatap lekat manik indah sang suami, kalimat paling bohong yang pernah Sean dengar sepertinya.
"Mungkin, bukan berarti tidak ... dan mas tidak mau cari perkara, sudah cukup beberapa hari terakhir kita tidur jauh-jauhan."
Sean hanya bicara sesuai faktanya saja, sang istri sulit ditebak akhir-akhir ini. Hanya karena dia berbohong dan mencari kesempatan dalam kesempitan saja, Zalina menciptakan batas dan menjaga jarak. Lantas bagaimana jika dirinya bercerita panjang lebar tentang sosok cinta pertamanya? Mungkin bukan hanya pisah ranjang, tapi tidur di kamar mandi, pikir Sean.
"Mas masih dendam ya karena masalah itu? Maaf, Mas aku sangat kesal waktu itu," ucap Zalina yang dengan secebis penyesalan dalam benaknya.
"Tidak dendam, cuma trauma sedikit."
Ya, anggap saja begitu. Sean memang trauma, untuk itu dia berhati-hati dalam bertindak karena sang istri mengikuti permainannya tanpa Sean pernah duga. Lagi pula, selama ini Sean tidak pernah membangun cerita fakta untuk membuat Zalina cemburu.
Sejak awal menikah, dia memang kerap mencari cara agar Zalina cemburu dengan membawa serta masa lalunya. Tentu saja tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa dianggap mengarang bebas.
Dahulu mungkin Zalina tidak cemburu, entah karena belum cinta atau karena sadar Sean hanya mengarang indah. Namun, untuk sekarang Sean tidak berani coba-coba. Itulah kenapa dia menutup rapat soal Leona karena menurutnya cukup menjadi bagian masa lalunya saja.
"Tulisannya bagus, ya, Mas? Padahal kata mas Agam sakitnya semakin parah satu bulan lalu," ujar Zalina kembali ke topik utama, sadar jika sang suami menghindar Zalina segera ambil tindakan.
"Biasa saja ... tulisannya memang begini sejak dulu."
Sean memejamkan mata dan menggigit bibirnya, tanpa dia sadari bicaranya sudah terlalu jauh. Zalina hanya tersenyum tipis, reaksi Sean terlihat lucu di matanya.
"Oh iya? Berarti sejak dulu tulisan mbak Nana memang sudah cantik ya, Mas?"
"Jangan dibahas Zalina, bahas yang lain saja ... kemarin pak RT minta iuran, kenapa belum kamu bayar?"
Pengalihan topiknya terlalu kentara, Zalina yang sejak pagi menangis kini tertawa untuk pertama kalinya. Setakut itu Sean menyakiti hatinya, padahal sekalipun jujur Zalina sama sekali tidak akan marah.
"Kami berteman baik dulu, mbak Nana adalah orang pertama yang menjadi temanku sewaktu kuliah karena dia lebih dulu di sana ... mas Agam menitipkanku padanya, dia lembut sekali, aku merasa kecil setiap berada di dekatnya."
"Kecil? Kecil kenapa?"
"Ilmu dan sabarnya luar biasa, dia sangat baik dan aku tidak pernah melihatnya marah ... dan sekarang, aku baru tahu mbak Nana meninggalkan pria yang mencintainya demi menggapai cinta yang lebih agung, andai aku di posisinya mungkin tidak akan bisa, Mas."
Sean menghela napas panjang, dia masih bingung mendapati pertemuan yang Tuhan takdirkan pada mereka. Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, hingga Zalina menggenggam jemarinya tiba-tiba.
"Mas, aku boleh cemburu kali ini?" tanya sang istri seketika membuat Sean menghela napas kasar.
"Cemburu untuk apa? Dia hanya masa lalu, Zalina."
"Caranya mencintaimu manis sekali, dia juga cinta pertamamu ... Untuk yang kali ini aku layak cemburu, 'kan?"
"Hidup tentang bukan siapa yang pertama, Zalina, tapi siapa yang menemani hingga akhir ... dan orang itu kamu, cinta terakhirku adalah Zalina Dhiyaulhaq," tegas Sean menatap menyeka air mata sang istri.
Zalina bukan cemburu dengan status Leona sebagai cinta pertama Sean, tapi yang membuat hatinya bergetar adalah cara Leona mencintai Sean. Tidak banyak yang bisa, bahkan dirinya pada Irham saja tidak mampu benar-benar mengubur perasaan dan mengejar cinta sang pencipta, sementara Leona mampu.
"Jangan menangis, nanti orang mengira mas ngapa-ngapain kamu, Na," ucap Sean mengusap pelan pundaknya.
Tanpa mereka duga, umi Rosita keluar dan dibuat bingung melihat adegan manis mereka. "Ckck kalian ini, baru juga beberapa jam tidak berdekatan sudah begini ... pulanglah, sebentar lagi hujan," ucap umi Rosita seketika membuat Sean melepas pelukannya.
"Umi tidak pulang?" tanya Zalina masih menyeka air mata yang telanjur membasahi wajahnya.
"Umi sama abi tetap di sini dulu, kalian berdua pulang dulu ... kasihan anak-anak, Na."
"Ya sudah kalau begitu, Umi."
"Sean tidak masalah ya pulang berdua saja?" tanya umi Rosita yang segera Sean angguki tentu saja. Jangan ditanya masalah atau tidak, tentu saja tidak sama sekali.
"Semoga benar-benar hujan agar istriku kedinginan."
.
.
- To Be Continued -
Leona bukan tokoh baru ya, dia ada jauh sebelum Zalina ada. Bahkan sebelum Nasyila hadir dalam kehidupan Zean.
Masa lalu kecebong Mikhail memang semrawut kek bulu kaki Ibra.