
6 Bulan Kemudian.
Azzam dan Azzura sudah bisa duduk, mereka sangat lincah membuat orang rumah kewalahan.
Pagi ini tepatnya jam setengah tujuh pagi, Rafka mengajak kedua anaknya jalan-jalan pagi di sekitaran kompleks perumahan elit itu.
Perlahan laki-laki itu mulai menjalani hidupnya dengan baik dengan semangat yang diberikan keluarga nya.
Sudah enam bulan lamanya, tapi Keyla tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia akan bangun. Hal itu membuat Rafka sering melamun sendiri di halaman belakang.
"Nenek cepat, kami tak sabar mau jalan-jalan," ucap Rafka sembari menggendong kedua anaknya. Tangannya yang kekar mampu menggendong dua anak sekaligus.
"Iya, sayang." Aria datang lalu mengambil alih Azzam. Hanya Azzam yang mau di pegang oleh orang lain, kalau Azzura jarang sekali dia mau di gendong orang lain selain Rafka atau Razka.
"Ayo," seru Aria berjalan dengan langkah lambat. Mereka menikmati semilir angin pagi, suara kicauan burung-burung yang membuat mereka menjadi rileks.
"Mau kemana?" tanya Gabriel yang baru pulang dari masjid bersama Razka. Mereka tadi berhenti untuk mengobrol sebentar dengan bapak-bapak di masjid, jadi telat pulang.
"Jalan-jalan sebentar," jawab Rafka memegang tangan putrinya lalu melambaikan tangan mungil itu ke arah Gabriel dan Razka.
"Ulu-ulu, gemas na. Boyeh di cubit pipi na," ucap Razka mencubit pipi Zura sembari memperagakan gaya bicara anak kecil. Zura tampak senang dan tertawa sembari tangannya menepuk-nepuk tangan Rafka.
"Jangan, nanti pipinya makin besar." Gabriel menarik Razka agar tak mencubit pipi bayi kecil itu.
"Yasudah, hati-hati yah. Jangan jauh-jauh jalan nya, Abi dan Razka akan memasak sarapan untuk kalian," ucap Gabriel mencium kedua cucunya.
"Terimakasih, Abi." Aria bersorak riang mendengar Gabriel akan memasak.
"Tata." Razka melambaikan tangannya lalu ikut masuk ke dalam rumah.
Rafka dan Aria pun melanjutkan jalan-jalan mereka sembari bercerita.
"Eh, ada Bu Aria. Assalamualaikum," sapa seorang ibu yang juga tinggal di kompleks itu.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Aria dan Rafka.
"Saya baru pindah kemari, Bu. Terus banyak para tetangga yang bercerita tentang keluarga ibu, kata mereka keluarga ibu sangat harmonis. Bisa membuat orang-orang iri," seru wanita itu sembari sesekali melirik Rafka yang tampak fokus pada putrinya saja.
"Waduh, ternyata keluarga kami menjadi bahan perbincangan hangat yah. Saya rasa itu terlalu dilebih-lebihkan," sahut Aria.
"Hm, katanya ibu punya anak kembar. Jadi laki-laki ini anak ibu? Terus yang satunya lagi mana, bu?" tanya wanita itu.
"Yang satunya ada di rumah, Bu. Kami hanya jalan-jalan berdua saja, mumpung masih pagi udaranya masih segar. Jadi baik untuk anak kecil," jawab Aria ramah.
"Ini cucu Bu Aria?" tanyanya lagi.
"Iya, ini cucu saya. Anak dari putra pertama saya," jawab Aria mulai tak nyaman karena terus di introgasi.
"Saya dengar dari tetangga, katanya menantu ibu koma yah setelah melahirkan. Saya turut berdukacita, semoga menantu ibu cepat sadar dan bisa merawat anak-anak nya," ucap wanita itu.
"Aamiin, terimakasih Bu atas doanya."
"Kalau nanti takdir berkata lain, Bu Aria jangan khawatir. Begitu juga dengan kamu nak, jangan sedih yah. Masih ada wanita lain yang bisa mendampingi mu dan anak-anak mu nanti," kata wanita itu membuat Rafka yang tadinya tak terlalu tertarik dengan obrolan dua wanita di depannya langsung mengangkat kepalanya dan menatap wanita rempong itu.
"Tak ada yang bisa menggantikan istri saya, nyonya. Meski takdir berkata lain," sahut Rafka langsung meninggalkan wanita itu.
Aria yang melihat anaknya pergi pun pamit untuk pulang.
"Jual mahal amat," gumam wanita itu kembali masuk kedalam rumah nya.
"Rafka," panggil Aria berjalan mendekati putranya.
"Iya, Umi." Rafka menyeimbangkan langkah nya dengan langkah kaki Aria.
"Jangan di dengar apa kata nya, nak. Jangan gara-gara ucapan mereka kau bersedih lagi," ucap Aria menasehati putranya.
"Iya, umi."
"Yasudah, ayo pulang dan sarapan. Hari ini kau akan menjenguk Keyla kan?"
"Iya, Umi. Hari ini Rafka pergi ke rumah sakit, tapi Rafka akan membawa si kembar ikut juga, umi. Mereka harus di bawa sesekali untuk melihat ibu mereka," jawab Rafka dan diangguki Aria.
"Umi ikut yah," pinta Aria.
"Iya, Umi."
09.00
Rafka sudah berada di rumah sakit bersama Aria dan juga si kembar. Gabriel tak bisa ikut karena ada rapat dan Razka pun harus ikut Gabriel juga. Padahal si bujang itu ingin ikut dan menggendong keponakan nya, tapi rapat menggagalkan rencana nya itu.
"Assalamualaikum," ucap Rafka memberi salam ketika masuk ke ruang perawatan Keyla.
Ia masuk bersama Aria dan juga si kembar.
"Apa kabar mu, sayang?" tanya Rafka duduk di samping ranjang Keyla sembari meletakkan anak nya di atas ranjang agar duduk di sisi ibu mereka.
Aria pun ikut meletakkan Azzam di atas ranjang lalu memilih keluar memberi waktu pada keluarga kecil itu.
"Anak kita hari ini berkunjung, sayang. Mereka sudah mulai besar, mereka tampan dan cantik." Rafka mengelus pipi Keyla sembari tersenyum sendu.
Tampak Azzam memukul-mukul perut Keyla membuat Rafka langsung bergegas memindahkan putranya itu agar sedikit menjauh dari tubuh Keyla.
"Jangan di popok, sayang. Kasihan Umi," bisik Rafka pelan. Ia tak mungkin marah, Azzam kan anak kecil mana tau itu bahaya atau tidak.
Terlihat Zura menyandarkan kepalanya di dada Keyla sembari bergumam tak jelas. Rafka takut itu akan menghambat pernafasan Keyla jadi ia memanggil Aria.
"Umi, tolong sebentar."
Aria pun masuk dan langsung mendekati anak dan cucunya itu.
"Ada apa?" tanya Aria gemas melihat cucu-cucunya yang ingin naik ke atas tubuh Keyla.
"Mereka lincah sekali, Umi. Takutnya akan membahayakan Keyla, tolong pegang satu yah."
"Okey."
Aria pun memegang Azzam agar tetap diam, namun bayi kecil itu tetap ingin dekat dengan ibu nya. Karena Aria terus menahan Azzam, alhasil Azzam pun menangis keras dan itu pun membuat Azzura ikut menangis juga.
"Ya Allah, sayang. Jangan menangis," ucap Rafka mencoba menenangkan kedua anaknya.
"Umi, kita pulang saja yah. Mereka rewel sekali, takutnya nanti mengganggu pasien di lain," pinta Rafka.
"Yasudah, nanti kau datang lagi kemari kalau mereka sudah tenang," sahut Aria mengerti.
Aria dan Rafka berniat meninggalkan ruangan namun tangisan si kembar semakin menjadi-jadi dan memberontak ingin di lepaskan.
"Biarkan mereka melihat ibu mereka, Rafka." Aria tak tahan melihat cucunya yang menangis keras dan mengangkat tangan mereka ke arah Keyla.
Rafka pun mengalah lalu kembali mendekatkan si kembar pada Keyla. Merekapun berhenti menangis namun masih sesegukan.
Di saat Rafka fokus pada anaknya agar tak menyentuh apapun yang membahayakan Keyla, saat itu pula mata Rafka menangkap pergerakan dari jari-jari Keyla. Matanya membulat sempurna.
"Umi, tangan Keyla bergerak."
_
_
_
_
_
_
_
Jangan bergerak dulu neng, Keyla. Aku belum bisa nikung ini 🧐🤭 Bang Rafka nya kuat iman, jadi gak tergoda sama aku yang hanya remahan peyek😅😂
Gemes aku sama bang Razka. Kayaknya kebelet pengen punya anak😂 tenang bang, kisah mu sudah author cicil🤣
Jangan lupa like, komen dan vote nya yah. Author ini sedang mengumpulkan sisa-sisa semangat, semoga kawan-kawan mau support author yang baik dan ramah lingkungan ini serta suka makan sambal terasi🌹
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.